MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Sejauh Mana


__ADS_3

"Dek, maaf aku ga bisa, lagian apa kata tetangga nanti kalau tahu ada aku disini dek?" Awan berusaha mencari alasan yang tepat.


"Aku ga mau tahu ya mas, kamu harus nginap disini! perset*n dengan tetangga!" Sasa mulai lagi mengeluarkan taringnya.


"Apa bapak dan ibu ngizinin dek?" Awan yakin bila orang tua Sasa pun pasti tak akan mengizinkan, ini satu keuntungan pikir Awan.


Awan merasa was was, hari ini Sasa sudah memperlihatkan sisi lainnya dan itu membuat Awan ngeri.


"Bapak dan ibu pasti senang hati kamu disini mas, mereka menyukaimu dan apa yang aku minta pasti mereka kabulkan," senyum sumringah Sasa mengembang.


"Yang benar dek?" Awan terkejut mendengar perkataan Sasa.


"Cie.... yang seneng disuruh nginap," Sasa makin menggoda Awan.


"Ma maksudku bukan gitu dek? Apa orang tuamu ga takut kalau pacar anaknya nginap disini sementara kita juga belum lama pacaran, kalau aku berbuat yang tidak tidak gimana? Apa mereka ga takut?" Awan benar benar merasa ada yang tak beres.


"Memang mas Awan, mau ngapain aku?" Sasa terlihat malah seperti memberikan harapan sesuatu yang lebih,


"Ya ga ngapa ngapain dek, makanya mas mau pulang aja," pukas Awan.


"Aku kira mas mau ngapa ngapain sama aku, aku mau kok mas!" dengan entengnya Sasa bicara.


Deg! jantung Awan seperti melonjak lonjak mendengar perkataan Sasa, harus senang atau sedih?


Sebagai laki laki normal tentu yang ditawarkan Sasa menggoda.


Body Sasa yang dibalut dengan gaun diatas lutut berwarna merah, duduk dengan memangkukan kaki kanannya, diatas kaki kirinya sendiri, semakin memperlihatkan paha mul*s nya, ditambah rambutnya yang di kucir ala ala gadis Korea, membuat lehernya terlihat makin jenjang dan makin menggoda dengan rambut rambut pendek yang menghias tengkuknya membuat Awan seperti tidak mampu untuk menolaknya.


Sasa memang sangat bisa memanjakan pandangan para lelaki, bahasanya yang terbuka membuat lawannya sangat mengerti bahwa ada harapan disana.


Wajahnya terlihat begitu terawat tidak ada noda jerawat disana, bibirnya dipulas dengan warna pink dan selalu terlihat basah, wangi parfum yang dipakai tercium lembut menggoda.


"Mau ya mas? Pokoknya mau ga mau mas Awan harus nginap disini!," Sasa makin merajuk manja.


"I iya dek, mas mau." Tanpa pikir panjang Awan mengiyakan permintaan kekasih barunya itu, Awan lupa bahwa ada hal yang sudah ia rasakan aneh.


Cup! Sasa mendaratkan bibirnya pada pipi kiri Awan, lalu dengan manjanya ia menyenderkan kepalanya di lengan Awan.

__ADS_1


"Makasih ya mas, aku seneng banget deh, mas Awan mau kabulin permintaan aku, aku bener bener bahagia mas." Sasa mengelus elus lengan Awan yang berbulu lebat itu.


"Mas, nanti malam kita keluar yuk? aku pengen jalan jalan berduaan sama kamu. Mau ya mas? Biar kita makin dekat dan makin saling mengenali lagi," usul Sasa.


Awan yang merasa diperlakukan demikian lembut dan manis hanya bisa mangut mangut, baginya apa yang diperbuat kekasihnya ini membuat dia seperti tak dapat berpikir jernih lagi.


Delapan tahun Awan berpacaran dengan Sekar, tak sekalipun Sekar mau mengecup pipinya duluan apalagi sampai membelai belai seperti yang Sasa lakukan.


"Tapi apa orang tuamu akan kasih aku izin dek?" Awan masih ragu.


"Pasti diizinkan mas, lagian kalau mas pulang sekarang aku masih kangen, aku belum mau ditinggal pulang," Sasa memonyongkan bibirnya.


Awan yang melihatnya semakin gemas.


"Mas, kita pergi sekarang aja yok? Ga usah nanti malam, kelamaan."


"Kok sekarang dek? Kita belum minta izin sama papa dan mamamu, nanti mereka marah loh."


"Nanti aku telpon mereka mas, mas ga usah khawatir." Sasa menarik Awan bergegas untuk pergi.


"Kan ada kamu yang bisa kupeluk mas, pasti hangat." Sasa terkekeh manja.


Awan yang mendengar ucapan Sasa menjadi terperangah, Awan tak akan mengira bahwa gadis muda ini begitu agresif.


"Mas, aku bahagia banget bisa sedekat ini denganmu," Sasa memeluk erat tubuh Awan dari belakang.


Awan yang dipeluk demikian erat menjadi berdegup tak tentu, bagaimanapun dia adalah laki laki normal yang bisa saja khilaf apalagi Sasa tak hanya memeluk pinggangnya dengan erat tapi sesekali menaruh tangan kanannya mengelus-elus ke paha Awan.


Awan, bukan laki laki mati rasa, saat ada kehangatan yang teronggok didepan mata haruskah ditepis?


"Dek, peluk aja ya jangan main kemana mana tangannya, nanti yang rugi kamu sendiri," Awan berusaha tetap sadar meski ada yang nyut-nyutan dalam dirinya.


Sasa yang diberi peringatan malah semakin menjadi.


"Kenapa sih mas? Mas kan pacarku, jadi mas Awan itu milikku begitu juga sebaliknya, jangan kolot kenapa sih mas selagi kita suka sama suka ini!"


Deg! Awan seperti tersambar petir mendengar perkataan Sasa, terlalu mudah ternyata untuknya pantas saja ia tak canggung mencium dan memelukku, berbanding terbalik dengan Sekar yang tak mudah disentuh.

__ADS_1


Seketika perasaan Awan menjadi hambar, ia ngeri membayangkan entah sudah berapa banyak laki laki yang sudah Sasa peluk, atau bahkan bukan hanya dipeluk saja.


Naluri sebagai laki laki yang sempat muncul seketika menjadi sirna, Awan merasa jijik dan rasanya ingin sekali melepaskan pelukan gadis dibelakangnya dan segera pergi sejauh jauhnya darinya.


"Mungkin memang ini karmaku yang sudah mencampakkan perempuan baik baik demi dia yang sesaat nampak memukau namun kenyataannya tak ubahnya tomat buah busuk," sesal Awan dalam hati.


"Mas, kenapa sih dari tadi diam saja? Ayo donk mas kita nikmati malam ini," seru Sasa yang menyadari bahwa ternyata Awan tiba tiba menjadi pendiam.


"Em dek, aku pacarmu yang ke berapa?" Tiba tiba saja Awan menanyakan itu, saat mereka menjejakkan kaki didepan pintu mall yang didatangi.


"Kenapa mas?" Sasa berhenti dan menatap Awan sejenak, lalu kembali berjalan sambil menggandeng mesra Awan.


"Ya perempuan secantik kamu, aku yakin sudah punya banyak mantan, aku pacarmu yang ke berapa?" Awan kembali mengulang pertanyaannya.


"Kamu pacarku yang ketigabelas mas," Sasa tersenyum manis.


"Berapa mantanmu yang sudah menginap di rumahmu dek?" Awan dibuat makin penasaran seberapa li*rnya kekasihnya ini.


"Seingat ku delapan denganmu mas, memang kenapa sih mas?" Sasa heran dibuatnya.


"Oh.... ga papa dek, aku takut aja nanti ga dibolehin nginap ditempat kamu," Awan basa basi.


"Ya yang ga dibolehin kalau kamu nyusul aku tidur mas, orang tuaku pasti marah."


"Ternyata tak seperti yang kubayangkan," Awan bernafas lega.


"Tapi kalau aku yang nyusul mas nanti, mereka ga akan marah," Sasa berkata dengan serius.


Awan yang sempat lega tiba tiba menjadi makin ngeri.


"Apa mas Awan, mau aku susul tidur nanti? Kalau mau jangan ribut ya mas, kita pakai bahasa mata dan tubuh saja hehehehe...?" Sasa tertawa malu.


"Sejauh mana hubungan yang pernah kamu lakukan dek?" Awan merasa was was kalau perempuan yang berdiri disampingnya itu marah dengan pertanyaannya.


"Ga jauh jauh kok mas, mas Awan tenang aja nanti kalau aku jadi istrimu masih enak kok dipakeknya, aku dan mantan hanya sebatas cium dan raba aja," Sasa dengan entengnya menjawab.


"Dosa apa yang aku perbuat ya Tuhan?" keluh Awan.

__ADS_1


__ADS_2