
Aku Hima, nama lengkapku Himawan. Aku anak keenam dari tujuh bersaudara, aku seorang piatu diusia ketiga tahun dan adik bungsuku satu tahun. Aku dibesarkan oleh kakak kandungku yang nomer satu, sementara adik bungsuku dipungut kakak yang nomer dua, aku laki laki miskin yang terabaikan meski ayahku bergelimang harta, ayahku menikah lagi saat tanah makam ibu masih merah.
Perkenalanku dengan Sekar tidak terencana, aku yang rindu bertemu dengan bungsu, saudara senasib yang kurang kasih dari orang tua.
Aku diambil dan dibesarkan di perantauan oleh kakak yang aku anggap ibuku, kembali ketanah kelahiran dimana aku dilahirkan dan tempat ayah dan kakak nomer dua berdomisili.
Aku kembali ketanah kelahiran bukan kerumah ayahku, aku tinggal dirumah kakak nomer duaku yang sudi menerima kehadiranku. Istri ayah tak suka aku menjejakkan kaki dirumahnya apalagi sampai tinggal disana.
Baru seminggu aku menetap dirumah kakak, tapi aku sudah mempunyai banyak teman karena pembawaanku yang friendly.
Siang hari aku bekerja sebagai buruh dipabrik, tentu aku harus bekerja kasar karena pendidikan yang aku kecam hanya selesai ditingkat putih biru itupun bagiku sudah beruntung karena kakakku mau menyekolahkan hingga bisa membaca, menulis dan berhitung. Aku Menjadi lulusan terbaik kala itu tapi otak cerdas tanpa dukungan orang tua membuatku patah arang untuk melanjutkan. Aku tak mau menyusahkan dan menjadi beban yang lebih lagi bagi kakak yang keadaan finansial belum baik, aku harus tahu diri.
Saat itu malam minggu, Dirga, temanku bekerja dipabrik memintaku untuk menemaninya apel kerumah Siska, kekasih hati Dirga. Jarak tempat tinggal kami dengan gadis pujaannya memang lumayan jauh.
Saat menemani Dirga apel, disitulah aku mengenal Sekar, setiap malam minggu Dirga mengajakku kerumah Siska dan momen itu menjadi yang paling kutunggu karena diam diam aku menaruh hati padanya. Sekar akan selalu ada saat temanku itu apel dan Dirga pun harus datang membawa teman saat apel, ini merupakan satu peraturan dan wajib dipenuhi dikampung ini. Dilarang berduaan meski ditempat terang!
Sekar gadis belia yang aku cintai saat usianya empat belas tahun. Usiaku dan Sekar terpaut sepuluh tahun. Cinta tak pandang usia bukan?
Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, gadis yang aku cinta menyambut cintaku dengan sebuah syarat, Sekar memintaku bersabar menunggu hingga usianya genap tujuh belas tahun seperti syarat yang orang tuanya berikan.
Aku menyanggupi syarat itu, hubungan kami semakin hari semakin dekat dengan alas pertemanan tapi mesra. Mengobrol berempat setiap malam Minggu menjadi lebih seru bagiku.
🌸🌸🌸
"Tapi kenapa mas? kenapa tidak tinggal disini saja." Tangis Sekar pecah saat aku berpamitan hendak pulang kerumah kakak pertamaku kala itu.
"Kalau kamu pergi aku sama siapa mas? Aku terlanjur nyaman bersamamu meski kita baru bersama tiga bulan ini." Siska dan Dirga yang menyaksikan pamitan ku terdiam, mereka memang teman teman yang sangat pengertian.
"Dik, aku pergi untuk memantaskan diriku agar bisa bersamamu, aku tak mau terlihat terlalu timpang jika kelak bersanding denganmu. Aku mau memperbaiki diriku dik, saat usiamu tepat tujuh belas tahun nanti aku akan datang. Aku akan memintamu sepenuhnya sebagai kekasihku dan saat dirimu berusia dua puluh tahun kita menikah.
__ADS_1
Apa adik mau menikah dengan laki laki yang jauh lebih tua darimu ini?" Aku menatap mata gadis manis ku itu berkaca kaca. Hati ini perih dik, seandainya kamu tahu apa yang terjadi sesungguhnya.
Aku laki laki yang harus berpegang janji dan harus membuktikan diri pada calon ibu mertuaku bahwa Himawan yang tak berpendidikan tinggi ini kelak layak bersanding dengan anak gadisnya.
Pengalaman dan harta, ya aku harus punya itu! pengalaman agar membuatku menjadi orang berwawasan luas dan tidak bodoh, harta? Tentu aku harus berharta untuk mencukupi segalanya.
Aku menutup mulut ku agar tak ada yang tahu bu Kasih, mendatangiku saat jam kerjaku dipabrik selesai, termasuk Kasih, sesuai permintaannya.
"Mas, apa aku bisa memegang kata katamu? Apa kamu yakin akan bisa menungguku? Tiga tahun itu lama, bahkan saat ini jika kau menikah sudah layak." Sekar yang terbilang bocah ini memang sudah memiliki pemikiran yang dewasa, mungkin itu salah satu yang membuatku tertarik padanya kami klop dalam pembicaraan.
"Apa kamu mampu menjaga hatimu untukku meski alas hubungan kita dari kemaren sampai tiga tahun kedepannya hanya sebagai sahabat dik?" Aku menatap gadis sederhanaku itu dengan penuh sayang.
Gadis bau kencurku terisak, ingin rasa hati memeluknya tapi aku tak bisa melakukannya. Siska seakan mengerti isi hatiku, diraihnya tubuh Sekar, dipeluknya dan diusapnya punggungnya. Aku tahu Sekar amat terguncang akan keputusan ini tapi demi cinta dan masa depan akan aku lakukan, aku harus membuktikan bahwa cintaku tidak sesaat apalagi tersesat pada calon ibu mertua.
Aku tak kembali pada waktu yang telah kami sepakati bukan karena cintaku telah luntur ataupun sirna, tapi karena satu alasan dimana hati ini mampu pergi namun tubuh tak mampu bergerak.
Sepucuk surat aku terima dari alamat kakak keduaku, aku terheran karena tak pernah beliau mengirim surat sebelumnya padaku.
Cinta yang aku pupuk menumbuhkan bunga-bunga rindu namun akhirnya layu dalam waktu beberapa kejap saja.
Cintaku menjadi benci seketika tapi ternyata batas keduanya hanya setebal kulit bawang saja, aku yang membencinya bertahun tahun belum bisa move on dan dibalik rasa benciku masih ada sebuah kisah yang belum tuntas hingga rasa penasaranku membawaku yang berpendidikan rendah ini mencoba mencari informasi di dunia pertemanan berlogo biru putih itu.
Tidak susah melacaknya, aku yang baru menggunakan akun ini pun tak susah payah menemukannya, cukup mengetikkan nama lengkap saja di pencarian dan hanya muncul beberapa nama dan salah satunya ada foto bunga mawar berwarna ungu, aku yakin itu adalah akunnya.
Aku menelusuri status Sekar Pratiwi, rupanya Sekar bukan penggila status. Tidak sebulan sekali dia membuat status hanya momen-momen tertentu yang dia unggah.
"Seminggu sudah aku menunggumu menepati janji dari janji kita, jangankan hadirmu, kabar darimu saja tak ada." 01 September 2004, sttus itu ditulis.
Aku terkejut, siapa yang dia tunggu?
__ADS_1
Rasa penasaran membuatku memaksa diri membuka surat usang itu dan aku baru tersadar bahwa ada yang janggal. Tak pernah Sekar memanggilku kakak.
"Sial! ada yang mempermainkan aku dan aku percaya!" runtuk ku.
Seketika hati ini menghangat karena dia benar benar menungguku namun hati inipun nyeri karena ternyata aku sendiri yang tidak tepat janji karena berburuk sangka, aku yang salah!
Kembali aku menelusuri status Sekar terbaru seminggu yang lalu.
Sebuah akun menandai akun Sekar dengan caption "Segera move on my friend, segera susul aku." Tersemat gadis berkebaya berdiri ditengah-tengah pengantin yang berdiri di pelaminan.
Jantungku seperti ingin meloncat karena kegirangan, maafkan aku yang bahagia di atas deritamu dik.
🌸🌸🌸
Kemarin, aku hanya meminta satu hari untuk bersamanya untuk menyelesaikan kisah kami yang belum usai, aku ingin merasakan cintanya dengan alas kekasih bukan pertemanan meski hanya sehari, cukuplah itu bagiku.
Aku tak pernah mengira bahwa dia yang cintanya telah berlabuh ke hati laki laki lain masih mau bersamaku sampai hari ini.
Cinta itu tidak gila, tapi aku yang gila menutup mata pura pura tidak tahu bahwa hati Sekar sudah menjadi milik orang lain. Posisiku hanya masa lalu.
Hari ini, meski disudut kecil ada rasa sedih dan sakit namun aku berusaha kuat. Memandang wajahnya dan menjadikannya sebagai perempuan teristimewa ku meski hanya hari ini.
Aku ingin menciptakan sebuah kenangan manis untuk kekasih sehari ku ini, aku ingin menghapus segala kecewa dalam tiap penantiannya meski hanya sekilas dalam terlihat semu.
Alam memang serasa berpihak padaku hari ini, untuk pertama kali aku memberanikan diri menyentuh dan menggenggam jemari Sekar, menggandengnya maju keatas panggung. Tak ada larangan bahkan teguran.
Dulu jangankan bergandengan tangan didepan umum, bicara berdua saja sudah ditegur. Jaman benar-benar berubah!
"Dik, semoga kamu mengerti isi hatiku dari syairku," bisik ku padanya saat diatas panggung meski terlihat dia canggung dengan apa yang aku lakukan.
__ADS_1
Disaat lagu keduaku, Sekar yang tadi ku tuntun untuk duduk dikursi pojok panggung tiba tiba berlari memelukku, aku membalas pelukannya dan aku merasa kakiku tak mampu berdiri "aku bahagia dik, bahagia mu juga bahagiaku."