
*** Setelah lama off, kehabisan ide***
[KAMPUNG*N! JANGAN GANGGU SUAMI ORANG]
[PELAKOR!]
[TAMPANG SOK LUGU, LUTU*G GUNUNG]
[SEKALI LAGI GUE LIHAT LU KEGAT*L*AN SAMA LAKI GUE, GUE BIKIN MALU SEUMUR HIDUP LU!]
Sekar, yang membuka inbok yang lambangnya mirip halilintar itu terkejut saat membaca pesan yang bertubi tubi masuk. Sekar bisa langsung menebak bahwa itu dari wanita cantik, Tari, mantan istri mas Cahyo. Mengingat kejadian siang tadi. Kenapa sih hari ini harus jadi seperti ini? Sesal Sekar, sekalipun ia tak pernah berniat untuk punya musuh.
"Maaf mba, sebenarnya saya bingung, mba cantik ini, masih istri atau mantan istri ya?" balas Sekar pada inbok Tari.
[Kami sedang proses rujuk, jadi pergi dari hidup suamiku. Mumpung aku masih sabar, kalau ga sudah aku viral kan kamu sebagai pelakor!] balas Tari.
Sekar merasa dadanya amat sesak, iya tak mengira bahwa hampir saja iya merusak rumah tangga orang. Hati Sekar terasa kembali sakit, sakit karena lagi lagi mencintai pria yang salah.
"Maafkan saya mba, saya ga tau kalau yang terjadi seperti ini. Mas Cahyo juga tak pernah bicara perihal rujuk. Saya ga akan lagi ganggu hubungan kalian.]" balas Sekar dengan getir. Ahhhh cinta kenapa harus sesakit ini jika menerima kenyataan tak seperti harapan.
[Bagus! siap siap saja viral kalau lu masih dekat dengan suami gue!] balas Tari lagi lagi dengan ancamannya.
"Mba jaga aja suami mba itu baik baik biar ga kemana mana dan ga bikin orang kecewa." Emosi Sekar terpancing.
🌼🌼🌼🌼🌼
[Dek, apa boleh kita ketemu besok?] 21.45 Wib, Cahyo mengirimkan pesan melalui aplikasi hijau.
"Ga usahlah mas, mau apa kita ketemu?" balas Sekar, hatinya amat terluka karena merasa dibodohi Cahyo.
[Aku jelasin semuanya dek, biar ga ada salah paham.]
"Sudahlah mas, ga ada yang harus kita bahas lagi."
[Dek...]
"Aku sudah tahu apa yang akan kamu bicarakan mas, jadi ga usah lah kita ketemu."
__ADS_1
"Istrimu sudah jelaskan semuanya padaku, aku minta maaf karena terlalu banyak berharap padamu." Sekar terlihat menarik nafas dalam, baru beberapa hari bahagia kini berduka lagi keluhnya.
[Istri?] Pesan hijau centang satu, Sekar tentu ngambek dan matikan ponsel, Cahyo bergumam sendiri. Dibuangnya napas dengan kasar, menyesali apa yang terjadi siang tadi.
Sekar terisak, kenapa menyedihkan seperti ini nasip asmaraku? bertahun tahun pacaran ditinggal selingkuh, mulai move on ternyata suami orang. Sekar benar benar terpukul.
🌼🌼🌼🌼🌼
"Diminum tehnya mas,"
"Iya bu, terimakasih." Cahyo sekali kali mencuri pandang kearah dalam, sudah setengah jam ia dirumah Sekar, tapi tak muncul juga.
"Sekar kalau dikamar mandi memang lama sekali mas, maklum anak gadis."
"Apa mas Cahyo ga bilang ke Sekar sebelumnya kalau mau kesini?" Kasih, bisa menebak itu karena memang bukan kebiasaan anaknya membuat seseorang menunggu.
"Iya bu, saya memang tidak janjian."
"Ya sudah kalau gitu kamu harus sabar menunggu, Sekar kalau lagi galau memang bisa berjam-jam dikamar mandi."
"Ya sudah ibu ke dapur dulu ya, ada pekerja yang belum beres nanti kalau Sekar sudah baik moodnya pasti keluar." Cahyo yang mengetahui satu kebiasaan dari Sekar hanya mampu mengangguk.
Sejam telah berlalu, Cahyo menunggu Sekar dengan memainkan ponselnya.
Aroma shampo membuatnya mengangkat kepala mencari sumber wangi itu. Cahyo tertegun menatap gadis manis dengan rambut basah terurai sudah duduk di sofa bagian L nya.
"Cantik secantik namanya," tanpa sadar Cahyo memuji Sekar, hati Sekar berbunga namun ia segera sadar tak boleh terbuai rayuan.
"Pulanglah mas, aku sudah banyak masalah jadi jangan tambah masalahku lagi." Cahyo yang terpana melihat sosok Sekar, tersadar dengan apa yang diucapkan gadis manis nan ayu dihadapannya.
"Dek..."
"Aku ga mau disebut pelakor mas," Sekar memotong kalimat Cahyo begitu saja.
"Maksudmu?"
"Jangan libatkan aku dalam hubungan kalian mas, kekasihku selingkuh saja dunia seperti runtuh apalagi yang di rasa mba Tari, pasti lebih sakit lagi. Suaminya berselingkuh!" Cahyo terperangah mendengar pernyataan Sekar.
__ADS_1
"Dek!" Cahyo yang mendengar itu syok.
"Dengarkan aku, aku ga mau ada kesalahpahaman diantara kita, setelah itu terserah mau mu bagaimana, tapi tolong dengarkan aku kali ini saja, kali ini." Cahyo memberi penekanan.
"Delapan tahun yang lalu, ibu Riska, mertua perempuan ku datang bersama seorang laki laki yang hampir seusia denganku, mereka berdua menjemput istriku, Tari. Bu Riska mengatakan bahwa Tari tak pantas hidup menderita, keadaan rumah tangga kami waktu itu memang terlalu sederhana, sementara Tari memang berasal dari keluarga berpunya dan apapun yang ia mau pasti diadakan oleh orangtuanya. Rupanya Tari kerap mengadu akan kekurangan ekonomi dalam rumah tangga kami, dibelakang ku." Cahyo menghentikan ceritanya sesaat, mengatur emosi yang terpendam bertahun tahun.
"Bu Riska yang memang dari awal kurang menyukai ku karena aku miskin. Kegigihan Tari lah yang akhirnya membuat kami direstui.
Saat itu... saat kedatangan bu Riska, Tari meminta cerai, Tari memilih pulang bersama ibunya dan laki laki itu, laki laki yang akhirnya menikahi Tari seminggu setelah surat cerai kami keluar.
Tari memilih meninggalkan aku dan anak laki laki kami, Wahyu. Usia Wahyu saat itu enam bulan, Wahyu yang harusnya masih dalam dekapan seorang ibu, ditinggalkan padaku karena dianggap sebagai beban."
Sekar, mendengarkan dengan seksama dan iya bisa membayangkan betapa sulitnya hari hari Cahyo, namun Sekar masih memilih diam. Menunggu Cahyo melanjutkan kisahnya, dengan suara bergetar Cahyo bercerita dengan sangat lambatnya. Tak mudah bukan membuka kisah usang yang penuh air mata?
"Saat Wahyu genap berusia tiga tahun, Tari, Riska dan suami barunya itu merebut Wahyu dariku dengan paksa. Aku mempertahankan anakku, tapi pengadilan memutuskan Wahyu harus bersama ibunya karena dia masih balita dan ekonomi yang berkecukupan untuk menunjang hidup anakku." Air mata Cahyo akhirnya lolos juga, luka lama yang harus terkuak dan kembali menjadi luka yang segar dalam ingatan.
Suasana kembali hening, Cahyo mengngadahkan kepalanya berusaha menetralkan hatinya kembali agar tak menangis.
"Aku dan Tari memang masih berhubungan, karena darah daging kami. Aku memenuhi kewajiban ku untuk menafkahi Wahyu sebagai ayah nya, sebulan sekali aku menjenguk Wahyu dan memberikan nafkah Wahyu pada ibunya, yang mengelolanya. Selain masalah Wahyu, kami tak ada hubungan apapun."
"Setahun yang lalu, tiba tiba aku mendapat kabar dari mulut Tari sendiri, bahwa iya bercerai dari suaminya karena kasihan dengan Wahyu yang harus punya bapak tiri, bapak tirinya kasar dan ...," Tiba tiba Cahyo berhenti bercerita, ia menatap lekat Sekar yang duduk sedikit jauh darinya.
"Dan..." Sekar yang terbawa alur menjadi tak sabar.
"Tari masih mencintaiku," Sekar yang mendengar kelanjutannya tiba tiba merasa dadanya sesak. Ada gurad tak suka tergambar jelas di wajah Sekar, Cahyo menikmati itu.
"Oh... jadi benar kata mba Tari kalau sekarang kalian dalam proses rujuk!"
"Rujuk?"
"Iya mas, R_U_J_U_K, RUJUK!"
"Apa kamu pikir aku bisa jadi laki laki sebaik itu dek?"
"Maksud kamu mas?"
"Meski diantara kami ada Wahyu, bukan berarti aku bisa memaafkan dan kembali rujuk. Ini hati bukan lemari dek. Aku menghargai dia, sebagai ibu dari anakku. Hanya itu."
__ADS_1