
Pertemuanku dengan Sekar, aku yakin bahwa sudah dirancang oleh ibu dan Wito, awalnya aku menolak hadir pada pernikahan itu apalagi didaulat sebagai pembawa kembar mayang.
Aku tak mengira bahwa gadis pembawa kembar Mayang itu mantan kekasihku, Sekar. Jika ditanya apa aku bahagia? tentu aku bahagia!
Aku harus berterima kasih pada ibu dan Wito, jika bukan karena mereka aku yakin tidak ada kesempatan sebaik ini menghampiri aku.
Seperti aku, Sekar pun terkejut tidak mengira bahwa kami akan dipertemukan dengan cara begini, aku berharap ini adalah tanda bahwa alam dan lingkungan mendukung perjodohan kami meski mungkin aku harus berjuang keras merebut perhatian Sekar dari duda itu.
"Kamu apa kabar Kar?" Aku yang terlebih dahulu menguasai keadaan dari rasa terkejut mencoba mencairkan kekakuan diantara kami. Bagaimanapun kami pernah mempunyai masa lalu yang berakhir dengan tidak baik.
"Baik," jawab Sekar seadanya. Aku tahu Sekar merasa tidak nyaman dengan kehadiranku.
Sekar terlihat makin mempesona dengan balutan kebaya moderen namun terlihat simpel, Sekar memang tidak berubah selalu terlihat menarik namun tetap sahaja.
"Kapan nyusul Kar?" Sebisa mungkin aku menahan Sekar yang hendak berlalu dengan mengajaknya ngobrol, aku ingin berlama lama dengannya.
"Doakan segera Wan, kamu sendiri kapan?"
"Doakan juga Kar, semoga ada yang mau aku ajak nikah," jawabku sambil terus menatap Sekar yang sedang asik memainkan jari jari tangannya, satu kebiasaan Sekar yang sangat aku hapal jika dia gelisah. Sekar yang mendengar jawaban ku, nampak tertegun. Sesaat pandangan kami terkunci ah... betapa rindunya aku padamu.
"Hubungan yang dibangun atas dasar menyakiti hati, memang tak akan pernah langgeng," aku tersenyum getir, jika ingat itu rasa bersalah dan merasa bodoh selalu hadir untuk menghakimi diri sendiri.
"Oya bagaimana kabar mas Cahyo, Kar?" Pertanyaan yang mungkin terdengar biasa saja tapi tidak bagi seorang mantan yang masih berharap kembali seperti aku.
"Baik, Wan." Sekar menjawab sekedarnya.
"Betapa beruntungnya Cahyo mendapatkan kamu Kar." Sekar hanya menanggapi dengan sebuah senyum sesaat.
"Apa suatu saat aku boleh berkunjung kerumah kamu, Kar?
Santai Kar, aku ga akan ganggu kamu kok. Setidaknya kalau tidak bisa bersama sebagai pasangan, kita bisa jadi teman." Aku berusaha tersenyum untuk meyakinkan bahwa niatku bersahabat dengannya tulus.
"Aku janji kalau kerumah mu, aku akan bawa teman temanku jadi Cahyo ga akan marah." Lagi hanya sebuah senyum sesaat yang Sekar tampilkan.
Resepsi pernikahan Hana dan Wito digelar sampai malam hari, seperti umumnya pesta dikampung. Aku dan Sekar didaulat menjadi teman manten yang siap sedia dikala mereka membutuhkan bantuan.
__ADS_1
Awalnya ada rasa kikuk diantara kami,dengan susah payah aku berusaha mencairkan keadaan perlahan namun pasti kebekuan diantara kami mulai luntur. Kami kembali akrab namun tak seakrab dulu ada hati yang harus aku jaga, hati Cahyo! ah kesal rasanya.
Menjelang malam, aku yang baru menjalankan tugas dari keponakanku yang sedang jadi raja sehari itu terkejut melihat Sekar sedang duduk dengan seorang laki laki, dada ini rasa terasa panas saat mengenali siapa laki laki yang sedang bersama mantan kekasihku itu.
Kaki ini yang tadinya hendak melangkah menghampiri mereka menjadi urung tak kala melihat Sekar yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman kekasihnya. Apa mereka sedang bertengkar? Mereka terlihat sedang tak baik sepertinya.
Ada cemburu yang berkobar dalam dada ini saat aku menyaksikan dengan mata kepalaku bagaimana Cahyo tak mau melepaskan genggamannya meski Sekar sepertinya menolak diperlakukan demikian.
Aku muak, muak melihat tatapannya yang seperti singa kelaparan itu memandang Sekar, ingin sekali rasanya aku memberikan pelajaran khusus pada Cahyo, namun aku sadar bukankah hal yang wajar jika sepasang kekasih bertengkar dan yang satu berusaha untuk mendapatkan maaf?
"Hai apa kabar mas?" Aku memberanikan diri menghampiri mereka, mencoba basa basi juga tentunya. Siapa tahu dengan mendekat begini aku bisa tahu ada apa dengan mereka, bukan maksud kepo tapi mencari celah untuk bisa merebut kembali Sekar jika ternyata Sekar tak bahagia. Hahaha betapa liciknya aku.
Janur kuning belum melengkung, jika sudah pun bila belum ada akad masih bisa diperjuangkan batinku.
"Baik Wan, sudah lama ya kita ga ketemu?" Wajah tidak suka akan kehadiranku tergambar jelas di wajah Cahyo, tapi apa peduliku? Cahyo melepaskan pegangan tangan Sekar, hatiku bahagia melihatnya.
"Jadi kapan nih diresmikan?" belum mendapatkan satu jawaban atas pertanyaan ku tiba tiba ada beberapa teman Cahyo datang menghampiri kami.
"Cie yang ketemu mantan, tembak lagi terus ajak ke KUA mas, keburu disambar yang lain Sekar, nanti kita arak rame rame pulang pergi. Mau kan dek Sekar?" Celoteh salah satu temannya. Mereka tertawa riang dan tentu telingaku yang kepanasan mendengarnya.
"Besok aku kerumah." Pamit Cahyo. Sekar hanya terdiam tak mengiyakan atau menolaknya. Aku harus curi start kalau begini jadinya.
🌸🌸🌸
Setelah kepergian Cahyo dkk, Sekar lebih banyak diam.
Keadaan kami yang tadi mulai mencair kini membeku lagi.
"Sekar," panggilku. Sekar menoleh.
"Ternyata keadaan kita sekarang sama ya Kar, kita jadi JONES jomblo ngenes," selorohku.
Sekar berusahalah tersenyum namun fatal senyumnya gagal.
"Kenapa kamu dan Sasa putus?" aku terkejut namun bahagia pada akhirnya Sekar mau bertanya padaku.
__ADS_1
"Dia tak sebaik yang kukira,"
"Oh..." jawabnya singkat.
"Kamu sendiri kenapa putus dari Cahyo?"
"Aku tak pernah pacaran dengannya." Aku terkejut, bukankah saat di pantai itu Cahyo bilang mereka pacaran?
"Tapi kata Cahyo waktu di pantai itu..." Sekar hanya tersenyum kecut.
Sial aku dibodohi!
"Tapi... tadi kalian?" Aku mengambangkan kalimatku.
"Ada salah paham diantara kami," tadi bilangnya tak pernah pacaran tapi sekarang ada masalah, biarlah nanti aku tanyakan pada Wito saja.
"Jadi kamu sama siapa sekarang Kar?"
"Loh bukannya sekarang aku sedang sama kamu disini?" Sekar mencoba berseloroh.
"Maksud aku, sekarang kamu pacaran sama siapa Kar?"
"Aku dah ga niat pacaran lagi Wan." Aku terkejut? pasti!
"Kamu masih normal kan Sekar?"Pertanyaan macam apa ini? tapi aku sungguh takut akibat perbuatan ku yang mengkhianati dirinya menjadikan dia mati rasa pada laki laki.
Pak! tangannya dengan ringan memukul tanganku. Aku reflek terkejut dan menangkapnya. Sesaat kami saling berpandangan sampai kami sama sadar dan aku melepaskan pegangan tangannya.
"Enak saja, kamu pikir aku jeruk makan jeruk gitu karena kamu tinggalkan? Widihhh gede rasa kamu!" jawab Sekar dengan kesal.
"Satu hilang tumbuh seribu, kamu hilang masih banyak yang antri menunggu aku," Sekar memiringkan bibirnya keatas.
"Syukur Kar, jeruk makan jeruk ga enak tahu." Selorohku.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Hai all... jika ada yang baca cerita aku ini, kasih jempolnya donk 🤩 dan terimakasih buat likenya.