
"Mas Cahyo!!! Cahyo, keluar kamu!" Dengan tergesa Cahyo keluar untuk melihat siapa pemilik suara garang itu. Tari pun ikut menyusul.
Sesampainya diluar, Cahyo terkejut melihat Sekar yang sedang menangis sambil berusaha mengajak sahabatnya itu pergi, sang sahabat menolak karena ingin membuat perhitungan.
"Kamu apakan temanku?" Teriak Hana, marah.
"Hey kampung! mana kami tahu. Lagian jadi perempuan kok ga tahu malu banget, yang harusnya nyamperin itu laki laki bukan perempuan. Ih serem, apa segitu kegat*lannya ya?" Cibir Tari.
"Eh yang ga tahu malu itu kamu atau temanku? Lagian jika mas Cahyo tidak lagi berduka ga mungkin temanku ini nyamperin rumah laki laki, ini juga karena mas Cahyo yang menghubungi dulu, minta dan maksa Sekar kemari." Serang Hana balik, emosinya meletup. Cahyo yang merasa tak menghubungi Sekar merasa bingung.
"Kamu menghubungi Sekar buat apa mas? Ayo katakan pada kami, supaya perempuan yang ngajak kamu rujuk itu tahu dan ngatain temanku kegat*lan!" Hardik Hana lagi.
"Kapan terakhir aku menghubungi kamu Kar?" Sebuah pertanyaan yang begitu menohok! Sekar merasa dipermainkan, Sekar merasa ingin meledak. Dadanya naik turun menahan kesedihan. Hana yang mendengar jawaban Cahyo, menjadi merah padam.
"KETERLALUAN kamu mas!" Teriak Hana tak terima. Dirampasnya android yang berada dalam tas selempang Sekar.
Dalam semua hal, Sekar memang mempunyai kebiasaan untuk mempertimbangkan sesuatu dengan orang yang iya percaya jika diluar kebiasaannya dan itu juga yang membuat persahabatan Hana dan Sekar menjadi solid.
Sekar sempat memperlihatkan pesan di aplikasi hijau itu pada Hana, dan Hana juga yang meyakinkan Sekar, untuk menolongnya. Toh Sekar tidak datang sendiri dan juga karena Cahyo sedang dalam berduka.
"Coba kamu lihat isi pesan ini, kami mengada ada atau dirimu yang mulai pikun?!" Hana membuka isi pesan hijau di Android Sekar yang direbut baru saja.
"Pelototi itu pesan dari kontak siapa? Masa iya kamu sudah mulai pikun!" Sinis Hana. Cahyo mengambil dan melihatnya, iya terlihat heran. Sementara Tari terlihat resah.
[Pagi dek...]
[Dek, aku minta tolong ya? Tolong temani bulek Rina di rumahku, beliau lagi tak enak badan jadi aku suruh istirahat di rumahku saja yang sepi, bulek minta kamu yang temani.] Isi chat yang terkirim dari kontak Cahyo.
[Tapi mas, apa kata orang kalau aku di tempatmu?] Balas Sekar.
[Kamu kan disana sama bulek, bukan sama aku dek. Kali ini aja dek.]
__ADS_1
[Sekarang ya dek, jangan kelamaan kasihan bulek, terimakasih.] Kembali dua pesan terkirim ke kontak Sekar.
[Kalau ada temennya ya mas, kalau sendiri aku ga mau,] balas Sekar.
[Tolonglah dek, apa kamu ga kasian sama bulek? Kali ini aja dek.] Hana langsung merebut Android Sekar.
"Jelaskan ini Tari!" pekik Cahyo setelah menyadari atas permintaan siapa itu. Wajah Tari terlihat pias.
"Ayo Sekar, kita pulang! menyesal aku mendukungmu kemari," Hana menarik tangan Sekar untuk pergi.
"Dek, tunggu! mas jelaskan dulu." Cahyo berusaha menghalangi langkah Sekar dan Hana.
"Minggir mas! jangan halangi kami. Sekar tidak butuh penjelasan apapun dari kalian," teriak Hana emosi.
"Hana, tolong beri aku kesempatan." Wajah Cahyo terlihat memohon. Hana menatap Sekar, bagaimanapun ini memang masalah Sekar dan Hana sadar itu.
"Tidak perlu menjelaskan apapun mas, apa yang aku lihat dengan mataku sendiri itu sudah jawaban bagi kegamangan hatiku. Tolong jangan hubungi aku lagi, jika kelak kita bertemu bersikaplah seperti awal sebelum kedekatan kita.
"Dek, tolong dengarkan aku dulu apa yang kamu lihat itu salah." Sekar berusaha menepis tangan Cahyo.
"Cukup mas, jangan lukai hati ini dengan kebohongan." Cahyo merasa teriris melihat perempuan yang sedang iya dekati itu menangis, perlahan iya melepaskan tangan Sekar.
πΌπΌπΌ
Cahyo ingin meledakkan emosinya namun iya baru sadar bahwa Tari telah kabur.
Rasa kesedihan yang Cahyo miliki kini bertumpuk, kehilangan ibu untuk selamanya dan juga kehilangan harapan untuk bersanding dengan perempuan yang dicinta.
Cahyo dan Sekar memang dalam pendekatan, belum terbangun komitmen namun jelas Cahyo merasa Sekar pun punya rasa yang sama.
"Baru saja berbaikan tapi kini sudah poranda, Tari!!!" pekik Cahyo emosi, ditendangnya tempat sampah diteras rumahnya.
__ADS_1
"Jika aku jadi Sekar, aku akan punya pemikiran yang sama. Melihat sepasang lawan jenis berada dalam ruangan yang sama, berdua dan parahnya lagi kami mantan pasangan! aaaa.... " Maki Cahyo pada dirinya sendiri.
"Tari.... keterlaluan kamu! kamu menggunakan kelemahan ku untuk memanfaatkan aku lagi, ah si*l kenapa aku harus percaya juga pada tari saat iya menawarkan diri untuk mengecas hapeku yang drop tadi.
Cahyo! kenapa kamu ga kapok sih? apa kamu pikir perempuan seperti Tari bisa berubah? Ngimpi kamu!" lagi lagi Cahyo merasa marah pada dirinya sendiri.
Cahyo memutuskan untuk mengirim pesan ke aplikasi hijau Sekar, untuk menelpon langsung Cahyo masih belum berani. "Tidak sanggup jika aku harus mendengar tangisnya lagi, apalagi harusnya aku memberi dia kebahagian bukan kesedihan, aku menyesal dek." Cahyo terus bicara dengan dirinya sendiri.
"Dek, aku minta maaf telah membuatmu menangis, aku salah." Cahyo mengirim pesan, sesaat kemudian centang biru.
Lima menit, sepuluh menit tiga puluh menit berlalu namun Sekar masih tak menjawab.
"Dek, aku kerumah mu ya? Aku bisa jelaskan semuanya. Kamu salah duga dengan apa yang kamu lihat tadi dek, aku bisa jelaskan." Cahyo mengirim pesan kedua.
Centang biru kembali muncul dalam pesannya namun tetap tak ada jawaban, Cahyo makin frustasi.
Cahyo yang teringat kebiasaan Sekar menulis status di aplikasi hijau segera membukanya. Terpampang status Sekar satu jam lalu.
[Waktu lekaslah bergulir agar hati yang perih lekas terobati.]
[Lebih baik terluka saat ini dari pada tersakiti lagi, π] dua status Sekar diaplikasi hijau itu terlihat Cahyo, penyesalan datang bertubi-tubi.
Cahyo memberanikan diri kembali mengirimkan pesan jawaban status kedua Sekar.
[Dek, tak ada niat dalam hati untuk menyakiti apa lagi menduakan, Tari pernah menjadi bagian hidupku, begitu juga dengan dirimu tapi posisinya tak akan tertukar dalam hatiku. Tari adalah perempuan dimasa laluku dan kau perempuan untuk masa depanku. Masa dimana kita akan menua bersama.]
[Jangan lari dariku karena aku ingin menghabiskan semua waktuku bersamamu!]
[Menikahlah denganku, menua bersamaku dan bercerai denganku karena maut.]
Lagi Cahyo hanya menemukan centang biru dalam tiap pesannya.
__ADS_1
"Aku akan mengejar dan meraih hatimu kembali dek, meski tak engkau izinkan." Tekad Cahyo bulat.