MAS DUDA DITENGAH AWAN

MAS DUDA DITENGAH AWAN
Kerumah


__ADS_3

Terasa dalam dada ada irama yang bertalu talu, semakin mendekat pada sosok perempuan berkebaya moderen namun terlihat simpel yang mendebarkan hati yang duduk disudut pelaminan, menyendiri tak berkawan.


"Dek.., apa kabar?" Aku mengulurkan tanganku pada Sekar, gadis yang kurindu.


"Baik mas," aku menatap kekasih hatiku itu, rasa rindu yang tertimbun dalam hati meronta. Setelah kejadian itu, jangankan bersapa memandang wajahnya pun aku tak bisa. Ingin sekali rasanya memeluk gadis ayu itu, melepas rasa rindu yang bertumpuk dan tak ingin melepasnya meski sedetikpun.


"Jangan telat makan dek, badanmu terlihat kurus banget. Jaga kesehatanmu juga," mata ini lekat memandang wajahnya, Sekar terlihat lebih tirus dari terakhir aku bertemu dengannya. hanya itu yang mampu aku utarakan, aku takut salah bicara.


"Dek, marahnya jangan lama lama ya? Aku kangen bercanda denganmu." Tanpa sadar keluar perkataan yang harusnya bisa ku simpan bukan diutarakan. Aku merutuk diri yang tak mampu menahan bibirku, sepintas terlihat bibir Sekar mengembangkan senyum yang ku rindu selama enam bulan terakhir ini.


"Sudahlah mas, tolong jangan ungkit lagi yang lalu," hati ini terasa diiris melihat nyata mata bening itu berkaca kaca dan permohonannya. Entah harus bagaimana aku sekarang?


Sesakit itukah hingga tak ada maaf bagiku dek dan sampai air matamu belum bisa mengering sampai saat ini? semua memang salahku yang tak pernah belajar dari kesalahanku dalam menghadapi Tari.


"Hai apa kabar mas?" Tiba tiba Awan menghampiri Sekar, hati ini cemburu dan banyak praduga timbul " jangan-jangan " tebak hatiku.


"Baik Wan, sudah lama ya kita ga ketemu?" balasku basa basi dan ada rasa sebal kenapa dia harus hadir disaat yang aku rindukan selama ini.


"Jadi kapan nih diresmikan?" Pertanyaan Awan, menghilangkan semua praduga jangan-jangan namun rasa cemburuku tetap menyergap hati karena tak ada orang yang layak untuk aku dicemburui sebesar ini selain Awan.


Sebagai laki laki berpengalaman, rasa bingung ini segera teratasi.


Aku yakin bahwa Awan dan Sekar tidak menjalin hubungan lagi, bahkan Awan sendiri yang membuka tabir kebingungan ku ketika melihat mereka bersama. Aku sangat yakin bahwa Awan tak tahu apa yang terjadi dalam hubunganku dengan Sekar.


"Cie yang ketemu mantan, tembak lagi terus ajak ke KUA mas, nanti kita arak rame rame keliling kampung pakai gerobak. Mau kan dek Sekar?" Seluruh teman teman ku tertawa hanya aku, Awan dan Sekar yang terlihat kecut.


Sial! disaat aku merasa aman tiba tiba datang Heru, mengungkap keadaan hubunganku dengan Sekar, dihadapan Awan.


"Mantan?" Meski lirih aku mampu mendengar gumaman Awan. Wajahnya pun berubah cerah, membuatku yang tadi di atas angin kini terhempas kebawah kolong.


"Besok aku kerumah dek," Sekar tak menjawab boleh atau tidak, tapi aku harus berjuang sebelum Awan merebut Sekar kembali.

__ADS_1


🌺🌺🌺


"Dek..." aku yang menanti Sekar di teras rumahnya reflek terbangun dari kursi yang aku duduki.


Sekar menyambut tanganku yang terulur untuk menyalaminya.


"Mau minum apa mas? air putih, kopi atau teh?" tawarnya.


"Aku kesini hanya ingin bicara denganmu dek," mata ini terus saja menatap lekat pada wajah pujaan hatiku.


"Sebentar mas, aku ambilkan minum dulu." Pamitnya, sesaat kemudian Sekar keluar dengan sebuah nampan berisi air teh dalam gelas bermotif bunga.


"Diminum mas," aku mengangguk.


"Terimakasih dek."


"Kamu masih marah sama aku dek?" Sekar menggeleng.


"Tak ada yang harus diterima kasihkan atau dimaafkan mas, itu hak mu dan kamu layak untuk bahagia."


"Dek..."


"Diantara kita tidak pernah ada komitmen untuk sebuah hubungan yang pasti mas, jadi sebetulnya aku yang harus minta maaf padamu karena tak selayaknya aku marah padamu."


"Dek," aku berusaha memotong pembicaraannya yang bukan hanya aku yang terluka tapi hatinya juga, tapi sia sia Sekar tak mengindahkan aku sama sekali.


"Jadi kapan kamu akan mengundangku mas atau sudah diresmikan kembali tapi aku dilupakan? Aku berharap kamu masih menganggap aku sebagai teman dan mau mengundangku dihari bahagia mu," aku hanya mampu menggeleng, sakit rasanya mendengar tiap patah kata yang Sekar ucapkan.


"Dek, aku pikir tanpa harus mengucapkan kata cinta padamu, kamu sudah mengerti bahwa aku mencintaimu. Aku pikir kita sudah sama sama dewasa jadi tidak perlu lagi bertanya apakah kau mau jadi kekasihku? aku pikir dengan kita sering jalan bersama, kita saling berbagi kabar, berbagi suka duka itu sudah membuktikan bahwa diantara kita sudah ada rasa saling memiliki.


ternyata aku salah! aku telah menyerahkan hatiku padamu tanpa aku kabarkan apakah kau mau menerima cintaku padamu.

__ADS_1


Dek, sekarang walau memang sudah terlambat tapi aku mau kau mendengarkan apa yang ada dihati ini padamu.


Aku bukan laki laki yang romantis karena itu aku tak datang dengan setangkai bunga mawar apalagi sebuket bunga penanda cintaku padamu tapi aku membawa hati ini dan harapan masa depanku untuk dipersembahkan padamu.


Aku memang tak bisa merangkai kalimat yang apik untuk pujaan hatiku, aku ini laki laki yang jauh lebih tua darimu, laki laki yang pernah gagal dalam berumah tangga dan dari pernikahanku yang dulu aku telah memiliki anak laki laki yang berusia delapan tahun.


Jikalau hatimu terpaut padaku dan berkenan menerima apa yang ada pada diri ini, saat ini aku tak memintamu untuk menjadi kekasihku tapi aku memintamu untuk menjadi ibu bagi anak laki lakiku, menjadi menantu ayahku dan sehidup semati denganku. Apa kamu mau hidup bersamaku dek?" Aku menggenggam tangannya, menatapnya dengan syahdu, meyakinkan hatinya bahwa hati ini memang miliknya.


Perlahan aku merasa menarik tangannya dari genggamanku.


"Dek..." panggilku.


"Sudah mas, sudah! sudah cukup tolong jangan diteruskan lagi. Aku ga bisa berasamamu mas."


"Kenapa dek?" Terlihat Sekar hanya menggeleng lemah.


"Beri aku alasan dek? Apa kamu ga cinta sama aku? Apa selama ini yang kita lalui bersama ga artinya bagimu?" Aku merasa dadaku terhentak merasa dipermainkan.


"Bersama kamu, aku merasakan banyak kebahagiaan mas, dalam semua yang kamu lakukan membuatku merasa diistimewakan meski pada akhirnya aku juga harus merasakan sakit yang luar biasa karena mengenal cintamu.


Enam bulan kita berjauhan sejujurnya aku sangat merindukan kehadiranmu, canda mu, perhatianmu dan semua tentang kamu, aku rindu mas tapi aku sadar diri bahwa cinta tak harus memiliki."


"Apa karena Tari dek?" Sekar menggeleng.


"Lalu?" jawabku tak sabar.


"Apa karena kehadiran Awan yang membuatmu meragukan aku?" lagi Sekar hanya menggeleng.


"Dek, apa kamu malu bersanding dengan duda beranak satu?"


Sekar terisak mendengar pertanyaan tentang status ku, rasanya begitu berat napas ini.

__ADS_1


"Aku kira, kamu bisa menerima aku apa adanya dek karena dari awal tak ada yang aku tutup tutupi darimu. Dan saat aku mendekatimu tak ada penolakan mu, kukira kamu bisa menerima aku apa adanya." Sesal ku yang telah salah menilai Sekar selama ini.


__ADS_2