
"Selamat siang bu..." sapa Sekar saat menghampiri perempuan setengah baya itu. Diciumnya tangan perempuan yang disapa ibu oleh Sekar.
"Kamu sehat nduk? ibu sangat senang melihatmu kemari lagi, andai bajingan tengil ini tidak banyak tingkah!" bu Lastri memeluk Sekar dengan eratnya.
Awan yang berada dibelakang Sekar merasa kesal disebut seperti itu.
"Ayo sini sama ibu, ibu kangen pengen ngobrol denganmu," bu Lastri melepaskan pelukannya dan menggandeng Sekar kedalam rumahnya.
"Ah selalu saja ibu seperti itu jika bertemu Sekar, aku selalu di tirikan!" gerutu Awan.
"Ibu benar benar bahagia bisa melihatmu kerumah ini nduk, saat ibu tahu bajingan tengil itu memiliki perempuan lain hati ibu sangat kesal padanya," cerocos ibu menggebu sambil menunjuk nunjuk Awan yang ikut duduk berseberangan dengan ibu dan Sekar.
"Bu, tolong jangan ungkit ungkit hal itu lagi, Awan sudah sadar bu kalau Awan salah." Jengah juga Awan mendengar entah yang berapa ribu kali ibu mengatakan hal yang sama setelah putus dari Sekar.
Sekar hanya terdiam mendengar ibu dan anak itu bicara.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" Pertanyaan ibu sungguh mengejutkan bagi Awan dan Sekar. Awan dan Sekar yang tak sengaja bertemu tatap itu hanya mampu berdiam dan menunduk.
"Loh kok pada diam? apa kalian masih mau pacaran terus sampai jadi kakek nenek?" Bu Lastri terlihat emosi.
"Maaf bu, Sekar dan Awan hanya berteman. Maksud kedatangan Sekar kemari juga untuk mengambil barang-barang almarhum," Sekar akhirnya memutuskan untuk berterus terang akan keadaan hubungan mereka. Awan hanya mampu tertunduk, ia tahu bahwa ibunya sangat kecewa tahu hal yang sebenarnya.
"Almarhum?" ibu kelihatan syok dan bingung akan perkataan Sekar. Ibu menatap dengan penuh intimidasi pada Awan.
"Maaf bu, Awan belum sempat beritahu ibu." Awan terlihat bersalah namun awalnya dia berpikir bahwa tak akan ada masalah kecuali hatinya saja yang harus menahan cemburu.
"Katakan pada ibu sekarang!"
"Selama ibu pulang kerumah mbah Uty, aku mengajak temanku untuk tinggal bersamaku bu,"
"Lalu?" bu Lastri terlihat tidak sabaran menunggu putranya itu bicara.
"Sabar bu... biar aku teruskan ceritaku, ibu jangan memotong nya." Pinta Awan.
Flashback on
__ADS_1
"Maaf mas dari mana dan hendak kemana?" Awan yang seminggu ini rajin makan di warung makan tempat mbak Wati, keheranan melihat orang asing yang membawa tas punggung seperti sedang kebingungan.
"Oh iya mas, kenalkan nama saya Himawan, biasa dipanggil Hima. Saya sedang mencari kosan mingguan, kira kira ada ga ya mas?" Hima mengulurkan tangan nya dan disambut oleh Awan.
"Nama saya Awan, panggil saja Awan. Memang mas Hima dari mana dan kenapa hanya mencari kosan hanya seminggu saja?"
"Saya dari Palembang mas, dulu sewaktu muda saya pernah tinggal di daerah ini. Sepuluh tahun yang lalu saya pernah berjanji pada perempuan yang sangat saya cintai itu untuk kembali, tapi saya tidak bisa datang.
Sepuluh tahun sudah saya menahan rindu yang tak bertepi ini, saya ingin bertemu dan meminta maaf padanya hanya itu." Hima yang terlihat berwajah pucat itu bicara dengan pandangan menerawang jauh.
"Apa perempuan yang mas maksud itu tinggal di kampung ini?" Hima menggeleng.
"Bukan mas, dia tetangga kampung ini."
"Apa perempuan itu masih menunggu mas Hima?"
"Yang saya dengar dia masih belum menikah sampai sekarang mas." Hima menatap Awan dengan senyum yang dipaksakan.
"Berarti dia pera*an tua donk mas, maaf," Awan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Jleb!
Jantung Awan serasa berhenti mendengar Hima menyebut nama mantan kekasihnya itu.
Laki laki bertubuh tinggi didepannya itu terlihat tampan meski usianya sudah matang.
"Wan, kenapa kamu? apa kamu mengenal Sekar?"
"Ti ti ti tidak ah i i iya mas," Awan yang ditanya seperti itu menjadi kelabakan.
"Serius Wan?" Wajah Hima terlihat sumringah mendengar jawaban Awan yang mengenal Sekar.
Awan menjawab dengan sebuah anggukan kepala saja.
"Apa kamu tahu bagaimana Kabar Sekar ku itu sekarang Wan?" Hima begitu antusias.
__ADS_1
"Bagaimana jika mas Hima tinggal saja di rumahku? nanti aku jawab semua pertanyaan mas Hima." Awan menawarkan tumpangan dirumahnya.
"Apa kamu tidak takut aku repot kan Wan?" Hima nampak ragu.
"Tidak, santai saja mas. Kebetulan ibuku juga sedang di pulau jawa mas, jadi hanya aku yang ada dirumah tapi kalau soal makan aku tidak tanggung ya mas." Awan cengngesan.
"Asal kau tak merasa direpotkan aku mau," Hima tersenyum.
Flashback off
"Apa Hima meninggal dirumah ini Wan?" tanya bu Lastri.
"Tidak bu, mas Hima meninggal di hajatannya pak Kades." Sekar kini yang menjawab. Bu Lastri makin terlihat bingung.
Sekar menceritakan bagaimana Hima sampai ada di acara hajat pak kades dan kronologi kematian Hima, dengan berurai air mata Sekar menceritakan semua yang terjadi.
Awan yang melihat bagaimana keadaan Sekar saat ini merasa hatinya terluka, antara sedih karena melihat perempuan yang masih di cinta berurai air mata dan ada rasa cemburu karena ternyata Sekar masih mencintai almarhum.
Bu Lastri yang tahu bagaimana rasa ditinggalkan orang dicinta lekas memeluk perempuan muda disampingnya itu.
"Sabar ya nduk, ibu bisa merasakan apa yang kamu rasakan sekarang kamu harus ikhlas kan almarhum." Bu Lastri ikut menitikkan air matanya.
***
"Bu Sekar pamit ya, maaf jika selama almarhum disini menyusahkan ibu dan juga kamu Wan, terimakasih juga sudah mau menerima bahkan memberikan tumpangan untuk mas Hima.
Terimakasih sudah menjadi sahabat bagi almarhum," kembali Sekar menitikkan air matanya.
"Kamu beruntung memiliki seseorang yang begitu tulus mencintai kamu Kar, mencintaimu sampai akhir hidupnya. Jujur aku cemburu melihatmu menangisi nya tapi saat aku pikir lagi kamu memang layak merasa kehilangan karena dia memang laki laki yang begitu tulus mencintaimu. Dia memang layak untuk kamu tunggu, dari senyum almarhum aku sangat yakin dia bahagia sudah mewujudkan semua mimpinya dihari hari terakhirnya." Mata Awan menerawang jauh dia ingat betul akan apa yang almarhum ceritakan padanya menjelang dua hari akan berpulangnya.
"Sudah nduk, jangan menangis terus, cinta pertamu sudah bahagia dialam sana, sekarang tatalah lagi hatimu. Ibu yakin almarhum pun ingin melihat kamu juga bahagia." Ibu mengusap usap punggung Sekar yang kembali tersedu.
"Setiap ingat almarhum, aku selalu merasa bersalah bu. Aku telah menuduhkan tidak setia dan melupakanku tapi pada kenyataannya akulah yang tidak setia dengan menerima cinta orang lain. Mas Hima maafkan aku...." Tangis Sekar kembali pecah dalam pelukan bu Lastri.
"Sudah nduk, apa yang kamu sesali itu juga bukan salahmu jadi kamu ndak salah. Sekarang jalani harimu dan lanjutkan semua mimpi mimpimu. Ingat almarhum pun ingin melihatmu bahagia di akhir-akhir hidupnya." Sekar kembali mempererat pelukannya pada bu Lastri, andai mama seperti bu Lastri, sesal Sekar.
__ADS_1
"Kamu juga Wan, kamu beruntung bisa mengenal almarhum kamu harus belajar tentang bagaimana dia mencintai dan menjaga kesetiaan nya bukan malah jadi bajingan tengil seperti sekarang ini." Bu Lastri masih saja mengungkit kesalahan anaknya dan Awan pun sadar akan hal itu jadi iya tak berani untuk protes meski iya merasa jengah dengan julukan itu.