
"Apa loe lihat-lihat!" ucap Galvin yang kemudian pergi meninggalkan Coffee shop. Sementara Marvin hanya mencebikan bibirnya sembari mengangkat kedua bahunya kemudian kembali bekerja.
•••
Sesampainya di kost-an, Selva melihat mobil Ganindra yang sudah terparkir di depan kost-an.
Ganindra yang melihat kedatangan Selva bergegas turun dan berlari mendekati Selva yang masih di sebrang jalan. Melihat itu Selva belari menjauh dari sana sehingga aksi kejar-kejaran pun terjadi.
"Tiana... Tiana..." teriak Ganindra yang terus mengejar Selva hingga berhasil mencapai tangannya. Dengan kuat Ganindra menggenggam pergelangan tangan Selva sampai Selva tak bisa lagi melepaskannya.
"Tiana dengarkan Aku sebentar saja kumohon."
"Satu menit!"
"Tiana..."
"Enam puluh..."
"Tiana..."
"Lima puluh sembilan."
"Ya baiklah!"
Selva berhenti menghitung dan melirik Ganindra dengan tatapan sinisnya.
"Ikut dengan ku, Aku akan membuktikan betapa Aku mencintaimu dan tidak pernah bermaksud membohongimu." Ganindra menggandeng tangan Selva kembali menuju mobilnya.
__ADS_1
Dari dalam mobil Ganindra mengeluarkan map coklat dan memberikannya pada Selva.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Selva membuka map coklat tersebut dan memperlihatkan gugatan cerai yang Ganindra persiapkan untuk istrinya.
"Surat cerai?"
"Ya, Sebelumnya Aku mengatakan jika pernikahan kami hanya sebatas status diatas kertas demi nama baik dan kehormatan kami, Tapi sekarang Aku siap kehilangan itu semua untuk membuktikan betapa Aku mencintaimu."
"Tuan akan menyesal."
"Justru Aku akan sangat menyesal jika tidak mendapatkan mu."
Mendengar itu Selva terhenyak. Ia tidak pernah menduga sebelumnya jika Ganindra bisa tergila-gila dengannya hingga rela menceraikan istrinya.
"Tiana... Aku akan meminta Hilda menandatangani ini secepatnya, Setelah itu Aku akan menikahi mu." Ganindra mengambil kembali map coklat di tangan Selva dan meninggalkan Selva yang masih termenung memikirkan apa yang Ganindra katakan.
•••
Sesampainya di rumah, Ganindra langsung berteriak memanggil-manggil Hilda seakan tak sabar lagi ingin menyingkirkan sang istri dari hidupnya.
"Ada apa, Kenapa Mas berteriak?" tanya Hilda yang berlarian menuruni tangga.
"Cepat tanda tangani ini!" tegas Ganindra sembari memberikan surat cerai yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Tanda tangan apa Mas, Kenapa..." ucapan Hilda terhenti ketika melihat surat tersebut berisi gugatan cerai untuk nya.
"Cerai?" Hilda menatap Ganindra tak percaya, Padahal setelah ia pulang dari kantor, Hilda masih menunggu Ganindra untuk memberinya penjelasan. Tapi yang terjadi justru Ganindra memberikan surat cerai kepadanya.
"Kamu akan mendapatkan tiga puluh persen dari hartaku jadi jangan persulit perceraian ini, Segera tandatangani atau kamu tidak akan mendapat sepeserpun dari ku!"
"Nggak Mas! Aku tidak ingin bercerai, Bagaimana dengan Galvin jika kita bercerai?"
"Jangan jadikan Galvin sebagai alasan, Galvin sudah besar dia bisa hidup mandiri tanpa dirimu!"
Mereka terus berdebat dengan keteguhan hati nya masing-masing. Ganindra yang bersikeras menceraikan Hilda, Tapi Hilda tetap tidak ingin bercerai dengan alasan anak dan nama baik mereka. Hingga pada puncaknya Ganindra yang melihat surat cerainya di sobek oleh Hilda naik pitam. Secara membabi buta Ganindra menampar Hilda berkali-kali hingga membuatnya tersungkur di lantai. Kemudian Ganindra menarik rambutnya hingga Hilda kembali berdiri, Setelah itu Ganindra mencekik Hilda dan mendorong tubuhnya hingga menabrak dinding.
"Berraninya kau melakukan ini!"
"L-l-ep-passss..." ucap Hilda dengan susah payah. Tangan Ganindra yang semakin menekan leher Hilda membuat Hilda tak dapat lagi bicara. Kedua matanya membulat sempurna, Lidahnya menjulur ke bawah seakan nyawanya telah sampai ke tenggorokan. Namun hal tersebut tidak membuat Ganindra berhenti seolah iblis telah merasukinya. Hingga pada saat Hilda merasa seluruh tubuhnya lemas, Galvin datang melihat apa yang sedang terjadi.
"Mama!"
Teriakkan Galvin menyadari Ganindra yang langsung melepaskan cengkeramannya. Sementara tubuh Hilda luruh ke lantai bebarengan dengan Galvin yang langsung memeluknya.
"Galvin..." Ganindra mencoba memegang bahu Galvin namun Galvin langsung menepisnya.
"Apa yang Papa lakukan sama Mama!?" teriak Galvin sembari menangisi ibunya yang kehilangan kesadaran.
"Maafkan Papa Galvin Papa khilaf."
"Jika terjadi sesuatu pada Mama, Aku tidak akan pernah memaafkan Papa!" tegas Galvin yang kemudian membopong tubuh ibunya dan membawanya ke luar.
__ADS_1
Ganindra mengikuti Galvin dan mencoba untuk membantu Galvin memasukkan ibunya ke dalam mobil. Namun Galvin menolak dan memilih meminta bantuan penjaga keamanan. Setelah itu Galvin membawa ibunya ke rumah sakit terdekat.
Bersambung...