
Disaat Selva tak memiliki tenaga lagi untuk melawan, Disaat ia pasrah akan apa yang menimpanya, Selva di kagetkan oleh seseorang yang menarik kerah baju Ganindra dari belakang.
Ganindra memberontak dan berbalik badan untuk balik menghajarnya. Namun sebelum tangan itu mengenai wajahnya, Ganindra terbelalak melihat siapa yang menjadi lawannya.
"Galvin..." ucap Ganindra terkejut bukan main.
"Kenapa, Kenapa berhenti? Ayo pukul Aku!" teriak Galvin.
Ganindra menggelengkan kepalanya dan menurunkan tangannya. Biar bagaimanapun permasalahan yang terjadi, Namun Ganindra tidak dapat memukul putranya sendiri.
Disaat keheningan itu, Galvin mengalihkan pandangannya kepada Selva yang terlihat begitu berantakan dan menyedihkan, Membuat Galvin semakin marah pada Ayahnya.
"Jika Anda tidak bisa memukul ku, Biar Aku yang memukul mu! BHUGGG...!!!"
"GUBRAKKK...!!!"
Satu pukulan Galvin membuat Ganindra terjatuh menabrak meja. Namun itu tidak membuat Galvin puas mengingat kondisi ibunya yang terbaring tak berdaya akibat ulah Ayahnya, Terlebih kini sang Ayah mencoba memperkosa wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, Membuat Galvin secara brutal menghajar Ayahnya sendiri.
__ADS_1
Melihat itu Selva mengingat bagaimana tanpa belas kasih Ganindra menjebloskannya ke penjara karena ia meminta pertanggungjawaban putranya yang telah menghamilinya.
"Hajar dia Galvin! Hajar dia!" ucapan itu menghentikan Galvin yang tengah menghajarnya. Tak terkecuali dengan Ganindra yang begitu terkejut mendengar apa yang Selva katakan. Ia menatap Selva dan bertanya-tanya dalam hatinya bagaimana Tiana mengenal putranya.
"Hajar dia! Penjarakan dia karena telah menyiksa ibumu!" Selva terus memprovokasi Galvin, Mengingatkan betapa kejamnya Ganindra jika keinginannya tidak terpenuhi.
"Siapa Tiana sebenarnya?" dalam kesakitannya karena terus di pukuli putranya, Ganindra terus menatap Selva, mengamati wajahnya yang mulai terasa tidak asing di matanya. Namun belum sempat ia mengingatnya, Galvin mendekati Selva dan menutupi tubuh Selva menggunakan jaketnya.
"Kamu tidak papa?" tanya Galvin sembari membantu Selva berdiri.
Sebelum meninggal rumah itu dengan mengajak serta Selva, Galvin berhenti di depan Ayahnya. "Tunggu beberapa menit lagi, Polisi akan datang menjemput Anda," ucap Galvin yang langsung menutup pintu dan menguncinya dari luar.
"Galvin... Galviiiin... Bhraakk... Bhraakk... Bhraakk!!!" Ganindra menggedor-gedor pintu meminta putranya tidak melaporkannya ke polisi. Namun kemarahan Galvin yang sejak beberapa hari sudah menumpuk terhadap Ayahnya membuat Galvin tak memiliki belas kasih untuk mengampuni sang Ayah.
Dengan berjalan beriringan menuju mobilnya, Selva menatap Galvin yang terus menggenggam erat tangannya.
"Kamu persis seperti Ayah mu Galvin, Tidak memiliki belas kasih." batin Selva yang tersenyum puas karena dendamnya satu-persatu telah terbalaskan tanpa perlu bekerja dengan keras.
__ADS_1
"Bagaimana kamu tahu Aku disini Galvin?" tanya Selva begitu mereka duduk di dalam mobil.
"Ada banyak cara untuk kita mengetahui keberadaan seseorang hanya dengan melalui ponsel." sautnya singkat.
Melihat Galvin yang begitu resah Selva pun kembali bersandiwara dan meminta maaf karena dirinya, Galvin jadi harus berkelahi dengan Ayahnya.
"Ini bukan salah mu Va, Papa ku memang brengsek!" umpatnya kesal.
Beberapa menit kemudian Galvin menoleh menatap Selva dengan tatapan penuh selidik. Berpikir bagaimana bisa Ayahnya berduaan dengan Selva di rumah sepi seperti ini.
"Ada apa Galvin, Kenapa kamu menatap ku seperti itu?"
"Bagaimana kamu dan Papa bisa berada di sini Selva, Apa sebelumnya kamu dan Papa sudah pernah bertemu?" seolah baru tersadar Galvin memikirkan bagaimana Selva bisa memiliki hubungan sehingga peristiwa ini bisa terjadi.
"A-e..." Selva tergagap memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan.
Bersambung...
__ADS_1