
Para tamu undangan telah hadir memenuhi rumah Narendra. Penghulu yang sudah sejak pagi di tunggu-tunggu akhirnya juga sudah datang. Begitupun dengan kedua calon pengantin yang sudah duduk bersiap mengikat janji di depan penghulu dan juga para tamu yang hadir.
Rangkaian acara satu persatu telah di lewati. Kini tiba saatnya Marvin mengucapkan lafal ijab qobul setelah penghulu selesai memberikan wejangan nya. Dengan perasaan yang sedikit tegang, Marvin menjabat tangan wali hakim yang menggantikan orang tua Selva menjadi wali nikahnya. Dengan satu kali tarikan nafas akhirnya kata SAH menggema di seluruh ruangan.
"SAH... SAH... SAH..." seru semua orang.
Maria yang sejak awal mengurus segalanya langsung berlari mencium adiknya seraya memberikan selamat. Tidak lupa ia juga memeluk Selva yang kini menjadi adik iparnya.
"Selamat ya Selva, Marvin... Kalian sudah resmi menjadi suami istri jadi sekarang tugas untuk mengurus Marvin aku serahkan kepada mu." ujar Maria pada Selva.
"Sejak kapan kak Maria mengurus ku, Kakak hanya mengurus pernikahan ku." protes Marvin.
"Ngilang-ngilangin, Sejak Mama gak ada juga kakak yang ngerwat kamu. Ya meskipun banyakan suster sih. Hehe..."
Selva hanya tersenyum kecil melihat perdebatan Marvin dan kakaknya. Karena setelah itu Narendra datang dengan tatapan dinginnya.
"Papa..." lirih Marvin.
Narendra menarik sedikit bibirnya seakan begitu berat untuk tersenyum. Akan tetapi Ia memeluk Marvin sembari menepuk-nepuk punggungnya dan sesekali mengusap-usapnya.
"Selamat nak, Semoga kamu bahagia." akhirnya doa itu terucap dari bibir Narendra.
"Terimakasih Pa," ucap Marvin lega.
Kemudian Narendra melepaskan pelukannya dan menatap Selva yang langsung tertunduk takut melihat tatapan Ayah mertuanya.
__ADS_1
Namun ketakutan itu berubah menjadi keterkejutan ketika tangan Narendra memegang bahu sebelah kanan nya.
"Jangan pernah kecewakan putra ku, Dia sangat mencintai mu," ucap Narendra dengan suara datarnya.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan Marvin dan Anda Tuan." saut Selva haru.
Mendengar Narendra menganggukkan kepala dan sedikit menyunggingkan senyumnya.
Melihat Ayahnya telah menerima pernikahan Marvin dan juga Selva, Maria pun melompat bahagia dan langsung memeluk Narendra seraya menci*umi pipi Ayah nya berkali-kali.
"Ini baru Papa. Papa terbaik di dunia. Eummmuaaaachh..." ucap Maria kembali memberikan kecupan yang begitu panjangnya.
"Apa kamu juga ingin ku cium seperti itu?" lirih Marvin pada Selva yang terlihat begitu senang melihat tingkah Maria pada Ayahnya.
"Gak mau." saut Selva sembari mencubit kecil paha Marvin sehingga membuatnya meringis kesakitan.
Melihat itu Selva hanya tertawa menutup mulutnya. Ia menahan agar tawanya tidak lepas karena selain ada Maria dan Narendra para tamu pun masih menikmati hidangan di sekitar mereka.
Seketika tawa mereka terhenti ketika melihat Hilda berdiri di tengah-tengah para tamu yang sibuk kesana-kemari memilih menu hidangan yang disajikan.
"Hilda..." lirih Narendra yang pertama kali melihat."
"Tante Hilda," ucap Marvin dan Maria di dalam hatinya.
"Nyonya Hilda," lirih Selva yang merasa tegang dengan kehadiran Hilda. Ia khawatir kehadiran Hilda akan kembali membawa masalah untuk dirinya. Apalagi ketika Hilda melangkah menatap lurus dirinya membuat Selva berpikir jika Hilda masih ingin memintanya membebaskan Galvin.
__ADS_1
"Selamat sore Tuan Narendra, Nona Maria, Tuan muda Marvin dan Nona Selva." sapaan tak biasa Hilda membuat semua orang bingung apa maksud dan tujuan Hilda seperti itu.
"Ada apa dengan mu Hilda?" tanya Narendra.
Hilda tidak menjawab pertanyaan Narendra dan justru langsung bersimpuh di kaki Selva tanpa menghiraukan para tamu yang melihat aksinya.
"Nyonya Hilda jangan lakukan ini, Anda tidak pantas menyentuh kaki ku, Biar bagaimanapun Nyonya orang tua yang wajib di hormati," ucap Selva sembari mencoba membangunkan Hilda. Namun Hilda tidak mau berdiri dan hanya menangis mengungkapkan maksud kedatangannya.
"Aku tidak lagi meminta mu untuk membebaskan Galvin Selva, Aku hanya ingin memenuhi keinginan putra ku agar bisa bertemu Selvi." tangis Hilda.
Sontak permintaan Hilda membuat Selva terkejut. Ia menatap Marvin yang juga tidak kalah terkejutnya. Begitu pula dengan Narendra dan Maria yang saling memandang mendengar permintaan Hilda.
"Sekali saja Selva, Bawa Selvi menemui Ayahnya, Setelah itu aku tidak akan menganggu mu."
Lagi-lagi Selva menatap Marvin seolah ingin meminta pendapat darinya. Seolah mengetahui isi hati Selva Marvin pun menganggukkan kepala seraya mengerjapkan kedua matanya.
"Aku tidak akan pernah menghalangi seorang Ayah menemui putrinya selagi Ayahnya berniat baik. Tapi sekali saja dia menghianati kepercayaan kami maka bukan Galvin saja yang tidak akan ku maafkan, Tapi juga Tante!" tegas Marvin.
Mendengar itu Hilda langsung berdiri menghapus air matanya.
"Terimakasih Marvin... Terimakasih..." ucap Hilda memegang tangan Marvin.
Marvin hanya menganggukkan kepalanya dan merangkul pundak Selva yang juga mengusap pipinya yang sempat di basahi oleh beberapa tetes air matanya.
Setelah mendapatkan jawaban sesuai harapan, Hilda pun berpamitan dan hanya menatap Narendra sejenak kemudian melangkah keluar. Ia tidak ingin lagi memikirkan cintanya yang telah kandas dan memilih fokus pada putranya yang masih harus menjalani masa tahanannya.
__ADS_1
T.A.M.A.T