
Mendengar kisah masa lalu Selva. Marvin terenyuh. Ia tidak mengira jika gadis yang selama ini terlihat cuek, Kuat dan bahkan terkadang membuatnya takut, Memiliki masa lalu yang sangat pilu di usianya yang masih belia.
"Lalu bagaimana dengan bayi mu?"
Pertanyaan Marvin membuat Selva membuka mata dan melepaskan pelukannya. Ia menatap Marvin seolah baru tersadar dengan apa yang ia ceritakan.
"Gadis lima lapan?" Marvin sedikit memiringkan kepalanya mencoba melihat Selva yang menundukkan kepalanya seperti orang bingung.
"Kamu baik-baik saja?"
"Ya. Pergilah dari kamarku, Aku ingin istirahat!" tegas Selva yang langsung berbaring membelakangi Marvin.
Marvin menghelai nafas panjang dan beranjak pergi meninggalkan kamar Selva. Ia tidak ingin memaksa Selva dengan mendesaknya untuk melanjutkan kisah masa lalunya yang belum selesai ia ceritakan.
"Bagaimana Aku bisa menceritakan ini pada orang asing?" batin Selva yang kemudian mengingat ketika ia mulai merasakan mules yang teramat sangat seperti ingin melahirkan.
"Aaaaa... Sakiiiittt..." teriakkan Selva yang kala itu tengah mengantri makan siang, Di susul dengan suara piring stainless steel mengagetkan para penghuni lapas lainnya. Beberapa orang langsung berlari menolong Selva dan membawanya ke kamar. Ada yang bertindak sebagai bidan dadakan dan ada beberapa orang membentangkan kain batik untuk menutupi proses persalinan yang akan segera Selva lakukan. Sementara yang lainnya berlari meminta pertolongan kepada petugas.
Setelah proses persalinan yang cukup menyakitkan, Akhirnya suara tangis memenuhi ruang penjara. Bersamaan dengan itu, Petugas datang menunggu sang bayi di putus tali pusatnya. Kemudian dengan di bungkus kain seadanya. Petugas membawa bayi dan juga Selva ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
"Selva... Selva..."
Seketika ingatan itu terhenti ketika suara ibu kost mengetuk pintu dan memanggil namanya.
Selva buru-buru bangun dan membukakan pintu untuk ibu kost.
"Ada yang nyariin kamu di bawah," ucap ibu kost.
"Siapa?"
__ADS_1
"Ibu lupa gak nanyain namanya, Tapi cowok, Masih muda, Udah gih temuin sana."
Selva terdiam sejenak dan berpikir pasti Galvin yang datang. Untuk itu Selva mengangguk kecil dan kembali masuk untuk mengambil blazer nya. Kemudian sambil memakai blazer yang panjangnya sebatas lutut, Selva menuruni anak tangga untuk menemuinya. Namun di tengah jalan Selva berpapasan dengan Ajeng dan kekasihnya.
Mereka sama-sama berhenti dan saling memandang sejenak. Terutama kekasih Ajeng yang menatap Selva dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Mendapat tatapan demikian, Selva kembali melangkah dan menabrakkan bahunya ke bahu Ajeng yang masih menghalangi jalannya.
"Hey berraninya kau menabrak ku!" teriak Ajeng yang berniat mengejar Selva. Namun sang kekasih langsung menarik lengan Ajeng untuk mengabaikan Selva.
"Kok kamu diam saja, Malah larang Aku kejar dia?"
"Udahlah, Kan kamu duluan yang menghalangi jalannya."
"Kok kamu malah belain dia, Kamu suka sama dia?" Ajeng terus meluapkan kekesalannya pada sang kekasih dan menimbulkan pertengkaran diantara keduanya. Sementara Selva yang telah sampai di bawah melihat mobil Galvin yang terparkir di depan kost-an nya.
Selva bergegas mendekati mobil Galvin yang langsung di sambut oleh Galvin dengan membuka kaca mobilnya.
"Masuklah," ucap Galvin tanpa menoleh ke arah Selva yang membungkukkan badan menyapa Galvin dari pintu kemudinya.
Melihat Galvin yang bersikap lain dari biasanya membuat Selva cukup tegang. Namun meskipun begitu, Selva tetap masuk kedalam mobil dan duduk di sampingnya.
"Ada apa Galvin?"
"Jawab pertanyaan ku, Apa kembalinya dirimu untuk membalas dendam kepada ku dan orang tua ku?"
"Deg..." Selva cukup terkejut mendengar pertanyaan Galvin. Meskipun ia tahu pasti ini akan terjadi. Namun ia tidak mengira akan secepat ini.
"Apakah Tante Hilda sudah bisa bicara, Atau Galvin telah menemui Ayahnya?" batin Selva.
__ADS_1
"Jawab Selva!!!" teriak Galvin mencengkeram kuat lengannya.
"Apa yang perlu ku jawab? Sepertinya kamu sudah tahu jawabannya!" kali ini dengan mata berkaca-kaca penuh kebencian atas luka di masa lalu, Tak sedikitpun Selva merasa takut kepada Galvin. Justru Selva menatap tajam Galvin seolah ingin menunjukkan kebencian yang selama ini terpendam di hatinya.
"Jadi benar, Kamu wanita yang telah membuat Papa menyiksa Mama?!!!"
"Jangan berteriak!!!" tegas Selva.
"Apa yang terjadi dengan Ayah mu, Ibu mu itu adalah hukuman atas perbuatannya terdahulu kepada ku. Dan kamu...!!!" Selva menjeda ucapannya.
"Kamu juga akan mendapatkan hukuman mu sendiri karena telah menyakiti ku, Menyia-nyiakan ku dan membiarkan Ayah mu memenjarakan ku disaat Aku mengandung bayi mu!!!"
"Aku tidak peduli dengan bayi itu! Bukankah sudah ku katakan sejak awal agar kamu menggugurkannya, Tapi kamu tidak menuruti perkataan ku dan justru memilih mempertahankannya. Jadi jangan salahkan Aku!!!"
"Breng*ek kamu Galvin. Aku pikir kamu lebih baik daripada Ayah mu, Tapi ternyata kamu tidak ada bedanya dengannya. Kalian sama-sama manusia kejam yang tidak memiliki hati nurani!!!"
"Ya karena dia adalah Papaku, Jadi lihatlah apa yang bisa ku lakukan kepada mu!"
PLAAAKKK...!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Selva.
PLAAAKKK...!!!
Galvin kembali menampar pipi Selva di sisi kirinya.
"Kamu bilang Aku tidak ada bedanya kan dari Papaku, Jadi sekarang rasakan apa yang akan ku lakukan kepada mu karena telah berrani membuat keluarga ku hancur berantakan!"
Seperti Ganindra yang memukuli Hilda secara membabi-buta, Galvin pun memukuli Selva bertubi-tubi tanpa memberinya kesempatan untuk melawan.
__ADS_1
"Aowwhh Tolooooong...." hanya berteriak sekeras mungkin yang dapat Selva lakukan. Berharap seseorang mendengar teriakannya dan menolong dirinya dari amukan Galvin.
Bersambung...