
Sementara menunggu Narendra yang sibuk mengambil air es dan handuk kecil untuk mengompres kepalanya, Hilda bersiap diri untuk kembali berakting supaya dapat menarik perhatian Narendra. Hilda masih menyimpan sedikit harapan untuk bersatu dengan Narendra mengingat Narendra tidak lagi menyukai Selva.
Begitu Narendra terlihat datang, Hilda kembali memegangi ujung keningnya dan memasang wajah melasnya.
"Aduhhh... Sakit banget, Rasanya kepala ku jadi pusing, Pandangan ku terasa gelap." ujar Hilda sembari memejamkan mata berpura-pura tidak tahu jika Narendra sudah begitu dekat dengan nya.
"Hilda, Kamu tidak papa, Apa kita perlu ke Dokter?" tanya Narendra yang langsung meletakkan wadah kaca berisi air es.
"E-tidak Mas, Aku tidak papa." jawab Hilda yang langsung merubah posisi duduknya sembari menghentikan akting sebelumnya.
"Jangan pura-pura Hilda, Tadi aku lihat kamu begitu kesakitan."
Dalam hati Hilda tersenyum mendengar jawaban Narendra. Sebuah jawaban yang sesuai dari harapannya. Dimana saat ia berakting di kira kebenaran dan kebenaran dikira sebagai akting.
"E-tidak Mas, Ini saja sudah cukup," ucap Hilda yang langsung mengambil wadah berisi air es itu dan mengambil handuk kecil di dalamnya. Namun lagi-lagi Hilda dapat tersenyum dalam hati ketika Narendra mengambil handuk kecil itu dari tangannya dan mengompres ke kepalanya.
Hilda dapat melihat dari dekat wajah tampan itu yang hampir menikahinya. Andai saja bukan Selva yang jadi calon istri Marvin, Mungkin kini mereka sudah menikah. Begitu bisikan kecil di hati Hilda. Namun seketika lamunan itu pecah ketika suara Marvin memanggil Narendra.
"Papa?!"
Narendra dan Hilda secara bersamaan menoleh ke arah Marvin yang di ikuti oleh Maria dan juga Selva. Kemudian Narendra dan juga Hilda langsung berdiri menatap anak-anaknya yang kini berjalan mendekati mereka.
__ADS_1
"Apa yang sedang Papa dan Tante Hilda lakukan?" tanya Marvin.
"E-tidak ada Marvin, Papa hanya mengompres kepala Hilda yang terkena lemparan bola."
"Apa Selvi yang melakukannya?" tanya Selva yang jadi merasa bersalah.
"Ya. Meskipun tidak secara langsung." saut Hilda dengan tatapan tegasnya.
"Untuk kesalahan putriku, Aku minta maaf Tante."
"Selva, Apa yang kamu katakan, Kamu tidak perlu meminta maaf untuk itu, Selvi bukan saja anak mu, Tapi dia juga cucu Tante Hilda, Seharusnya ini tidak jadi masalah besar." saut Maria yang langsung mencelah pembicaraan.
Hal itu membuat Hilda yang sebelumnya ingin memarahi Selva, Mengurungkan niatnya dan mengiyakan perkataan Maria. Namun Selva dapat melihat dengan jelas ketidaksukaan Hilda kepadanya.
Mendengar Marvin berkata demikian, Narendra melihat ke arah kening Hilda yang memang tidak nampak benjolan ataupun memar yang membekas akibat lemparan bola itu.
Menyadari kecurigaan semua orang, Hilda menutupi keningnya dengan tangannya dan buru-buru berpamitan untuk pulang.
"M-maaf... Aku harus pulang, Masih ada urusan." ujar Hilda yang langsung bergegas meninggalkan semua orang.
Tidak seperti biasanya, Narendra hanya membiarkan Hilda pergi dan tidak mengejarnya. Ia masih merasa bingung memikirkan kenapa Hilda berpura-pura di depannya.
__ADS_1
Sementara itu, Selva yang melihat calon Ayah mertuanya hanya duduk diam. Bergegas keluar untuk mengejar Hilda.
"Tante Hilda..." pekik Selva menghentikan Hilda yang sudah sampai di depan pintu mobilnya.
Dengan malas, Hilda berbalik badan dan melihat Selva dengan sinis.
"Ada apa?" tanya Hilda dengan ketus.
"Tante, Aku tahu sebenarnya tujuan utama Tante ke sini tidak untuk menemui Selvi kan?"
Mendengar pertanyaan Selva Hilda hanya tersenyum smirk sembari memalingkan wajahnya.
"Tante, Aku tidak melarang Tante menemui Selvi, Aku hanya minta Tante memiliki maksud lain dengan Selvi maupun keluarga Tuan Narendra."
"Heh Selva! Kamu pikir kamu sudah jadi bagian dari keluarga Narendra sehingga kamu berrrani menuduhku seperti itu?!"
"Tante... Aku tidak..."
"Dengar! Hilda langsung memotong ucapan Selva.
"Karena kamu sudah mencurigai ku memiliki maksud lain. Maka aku akan mengatakan maksud dan tujuan ku yang sebenarnya!"
__ADS_1
Mendengar jawaban yang Hilda berikan, Membuat Selva seketika mematung. Ia tidak menyangka jika pertanyaan spontan yang sebelumnya tidak terpikirkan, Seolah di benarkan oleh Hilda yang ternyata benar-benar memiliki maksud lain dari kedatangannya setiap hari.