
Satu Minggu kemudian, Persiapan pernikahan pun telah selesai di lakukan dengan baik oleh Maria. Dan selama persiapan tidak ada masalah yang berarti kecuali Hilda yang kembali datang dengan alasan ingin menemui cucunya. Padahal niat Hilda sebenarnya adalah menekan Selva supaya mau membebaskan putranya.
"Sudah satu minggu ini Selva menghindar dari ku, Aku harus membuat Selva membebaskan Galvin sebelum dia menikah dengan Marvin." batin Hilda yang melihat Selva dari kejauhan.
Setelah melihat semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, Hilda bergegas menuju dimana Selva berdiri. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, Seseorang menarik lengannya.
"Mas Narendra..." ucap Hilda yang merasa terkejut karena Narendra menarik lengannya dengan sedikit kasar.
Narendra hanya diam dengan tatapan yang tidak bisa Hilda artikan.
"Ada apa, Kenapa Mas Narendra menatap ku seperti itu?"
"Kenapa?" Narendra balik bertanya dengan nada ketusnya.
"Maksud Mas Narendra?"
"Sudah cukup sandiwara mu Hilda, Aku tahu maksud kedatangan mu kesini."
Hilda mengernyitkan keningnya seolah tidak paham apa yang Narendra maksud.
"Selama ini kamu datang kesini bukan untuk cucu mu Selvi ataupun untuk ku kan? Kamu kesini hanya untuk kepentingan putra mu Galvin kan?!"
Mendengar pertanyaan Narendra, Hilda menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia mengalihkan pandangannya menghindari tatapan tajam Narendra.
"Kenapa kamu diam saja Hilda, Jawab pertanyaan ku!!!"
"Lalu apa yang kamu harapkan?!" Hilda balik bertanya dengan tatapan tegasnya. Membuat Narendra seketika terdiam dengan perubahan wajah Hilda.
"Katakan Mas! Apa yang kamu harapkan dari ku? Apa kamu berharap aku kesini untuk Mas? Mengemis cinta dari mu yang jelas-jelas melepaskan ku demi putramu?!" Hilda menjeda ucapannya menatap wajah Narendra yang langsung mengalihkan pandangannya.
"Jika kamu bisa meninggalkan ku karena putra mu, Aku juga bisa melupakan cinta ku demi Galvin putra ku!"
__ADS_1
Kali ini Narendra di buat bimbang oleh pernyataan Hilda. Meskipun ia tidak lagi berharap bisa menikah dengan Hilda namun sisa cinta yang dulu pernah tumbuh subur antara mereka tidak bisa lenyap begitu saja.
"Kenapa diam Mas?"
"Papa..."
Seketika obrolan keduanya terhenti ketika Maria datang memanggil Narendra.
"Oh ada Tante Hilda," ucap Maria basa-basi.
Sama halnya dengan Maria, Hilda pun hanya sedikit menyunggingkan senyum.
"Maaf ya Tante, Tapi Papa harus coba baju yang harus Papa pakai besok." tanpa menunggu jawaban dari Hilda, Maria pun membimbing Ayahnya pergi meninggalkan Hilda. Sementara Hilda hanya terpaku menatap punggung mereka dan meratapi usahanya yang gagal untuk kesekian kalinya.
•••
Suittt... Suittt...
Melihat sikap acuh Selva, Marvin tersenyum mendekat dan langsung memeluknya dari belakang tanpa peduli ada perancang busana yang berdiri menemani Selva. Sontak hal itu membuat Selva kaget dan langsung melepaskan kedua tangan Marvin yang melingkar di pinggangnya.
"Marvin!!!" bentak Selva sembari memutar tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan.
Marvin hanya terdiam memperhatikan mimik wajah Selva yang melirik ke arah perancang busana yang menahan senyum melihat apa yang Marvin lakukan.
"Apa yang kamu tertawakan, Keluar sana?!" tegas Marvin yang langsung membuat perancang busana tertunduk menarik kembali senyum di bibirnya.
"Marviiin..." tegur Selva yang dianggapnya kasar.
Tidak menunggu Marvin mengulangi perkataannya, Perancang busana pun keluar meninggalkan mereka berdua.
"Nah, Kalau begini kan enak tinggal kita berdua," ucap Marvin yang langsung menarik kedua lengan Selva hingga merapat ke tubuhnya.
__ADS_1
"Marviiin... Kenapa kamu menyuruhnya keluar, Aku belum selesai mencoba gaun ini, Gaun ini masih belum pas, Masih sedikit longgar." jelas Selva sambil menarik bagian dadanya yang sedikit melorot.
Mendengar itu Marvin mengikis jarak dan menatap Selva dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Cukup lama Marvin menatap Selva tanpa mengatakan apapun sampai membuat Selva malu dan terus menutupi bagian dadanya.
"Kamu terlihat sangat cantik." puji Marvin memecahkan keheningan.
"S-seharusnya kamu lihat ini besok," ucap Selva malu-malu.
"Siapa yang mengharuskan?"
Selva kembali merasa gugup karena Marvin kembali melangkah mendekatinya.
Semakin Selva melangkah mundur, Justru Marvin semakin mendekat. Hingga langkah itu terhenti saat Selva menabrak meja rias di belakangnya. Dengan sigap tangan Marvin menahan tubuh Selva yang hampir menyenggol barang-barang yang ada di atas meja membuat kontak mata keduanya tak bisa di hindarkan.
Semakin lama tatapan itu semakin dalam hingga entah siapa yang memulai hidung mancung keduanya kini telah beradu. Tangan Marvin pun kini telah berada di wajah cantik Selva dengan ibu jari yang mengusap bibir tipis Selva yang di poles warna rose pink.
Glek...
Marvin pun menelan salivanya ketika menatap bibir itu hingga tak bisa menahan diri untuk mengecupnya. Namun belum sempat itu terjadi suara anak kecil datang memanggil nama Selva.
"Kakak..."
"Selvi..." sontak Selva yang melihat kedatangan putrinya langsung mendorong tubuh Marvin menjauh darinya hingga menabrak kursi yang tak jauh dari mereka.
"Brakkk...!!
"Aww..." ringis Marvin sembari memegangi pinggangnya.
Bersambung...
__ADS_1