Masa Lalu Kelam Gadis - 058

Masa Lalu Kelam Gadis - 058
Pura-pura Pingsan


__ADS_3

Setelah selesai berbelanja, Kini Ganindra mengajak Selva makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari Boutique. Bak memperlakukan Selva seperti kekasihnya, Ganindra membukakan pintu mobil untuknya.


Semua yang serba cepat membuat Selva harus lebih waspada dan tidak boleh terbawa suasana. Ia harus mengikuti kemana alur yang akan membawanya sebelum bertindak melanjutkan rencananya.


Ganindra memilih ruangan khusus yang hanya terdapat satu meja saja. Sehingga tidak akan ada satu orang pun yang melihat kebersamaan mereka.


"Sepertinya Ganindra sudah terbiasa menghianati istrinya sehingga ia sudah sangat berpengalaman." batin Selva menatap tajam Ganindra yang tengah sibuk memilih menu makanan.


"Tiana..."


"Hagh! Tiana?"


"Iya, Nama mu Five Eightiana kan?"


"Oh iya."


"Tapi Aku lebih suka memanggil mu Tiana, Itu terdengar sangat manis." puji Ganindra yang sama sekali tidak berpengaruh untuk Selva yang tengah terlihat bingung.


"Oh ya ampun, Aku hampir lupa dengan nama samaran ku sendiri." batin Selva memaksakan senyumnya karena Ganindra terus menatapnya dengan senyum.


"Kamu mau pesan apa, Pilihlah, Kamu boleh pesan apapun yang kamu inginkan." ujar Ganindra sembari memberikan buku menu pada Selva.


Tidak mau berlama-lama, Selva memesan satu menu makanan dan minuman yang ada di urutan pertama.


"Kok itu doang, Di situ banyak loh pilihan menunya."


"Tidak Tuan ini sudah cukup."


"Hmm baiklah biar Aku yang pesankan." tanpa persetujuan Selva, Ganindra menambahkan beberapa menu makanan untuk Selva.

__ADS_1


Cukup lama pesanan mereka datang sehingga Selva merasa tidak nyaman harus terus berhadapan dengan Ganindra. Oleh karena itu Selva meminta izin untuk pergi ke toilet.


"Mau Aku antar?"


"T-t-tidak! Tidak usah Tuan Aku bisa sendiri."


"Baiklah, Hati-hati."


Selva bergegas lari meninggalkan ruangan, Sebenarnya ia tidak ingin ke kamar mandi tapi dia hanya ingin menjauh dari Ganindra yang membuat nafasnya terasah sesak. Karena terus melihat ke belakang, Memastikan Ganindra tidak mengikutinya tanpa sengaja Selva menabrak seseorang yang ada di depannya.


"Selva?"


Selva yang sebelumnya belum melihat orang itu, Langsung menatap orang yang ia tabrak. Rupanya orang itu tidak lain adalah Galvin. Tidak sendirian, Galvin datang dengan di temani Maria yang terus menggandeng mesra tangan kekasihnya itu.


"Selva kamu di sini juga?" tanya Galvin yang seakan tak percaya mengingat Selva hanyalah orang biasa.


"B-bukan begitu maksud ku, Tapi..."


"Sudahlah Galvin, Kamu sendiri ngapain kesini, Bukannya seharusnya kamu sekolah, Apa kamu masih suka bolos untuk mengencani kekasih mu seperti yang kamu lakukan padaku dulu?"


Sontak pertanyaan itu bukan hanya membuat Galvin diam, Tapi juga membuat Maria membulatkan matanya dan menatap Galvin dengan penuh pertanyaan.


"Aku tidak ingin makan disini," ucap Maria yang langsung pergi dengan kemarahan seperti umumnya wanita yang tengah merasa cemburu.


Melihat Galvin pergi untuk mengejar Maria, Selva bernafas lega.


"Hampir saja ketahuan," ucap Selva mengelus dadanya.


"Apa yang hampir ketahuan?"

__ADS_1


Pertanyaan itu kembali mengagetkan Selva. Ia menoleh kebelakang dimana Ganindra telah bersediri disana. Jantungnya semakin berdebar kencang ketika Ganindra melangkah mendekatinya.


"Apa yang hampir ketahuan dan bicara dengan siapa kamu?" Ganindra melihat kesana-kemari mencari seseorang.


"A-e bukan apa-apa Tuan, S-sebenarnya Aku... Aku," Selva merasa frustasi karena tak memiliki alasan apapun untuk di ucapkan. Sehingga tak ada pilihan lain selain berpura-pura pusing dan ingin pingsan.


"Tiana!" Ganindra langsung menangkap tubuh Selva yang hampir terjatuh.


"Kepala ku sakit banget Tuan," ucapnya memelas.


"Kenapa tiba-tiba seperti ini, Tadi kamu terlihat baik-baik saja."


Selva tak lagi menjawab pertanyaan Ganindra sehingga Ganindra membopong tubuh Selva dan membawanya keluar dari restoran tanpa memikirkan makanan yang telah mereka pesan.


Agar lebih memudahkannya, Ganindra membaringkan tubuh Selva di kursi tengah kemudian ia ikut naik dan mencari sesuatu di laci mobilnya. Setelah menemukan minyak angin aromatherapy, Ganindra mengoleskannya ke ke kedua pelipis Selva, Lalu menghidupkannya ke hidung sehingga Selva tidak bisa terus menutup matanya.


"T-tuan..."


"Kamu baik-baik saja?"


Selva melihat kesana-kemari berpura-pura bingung kenapa kini dirinya sudah di dalam mobil.


"Tadi kamu tiba-tiba jatuh pingsan makanya Aku bawa kesini, Apa kita perlu ke Dokter?"


"E-tidak, Aku sudah tidak papa, Tadi entah kenapa kepalaku tiba-tiba sakit banget."


"Baiklah kalau tidak mau, Pakai ini biar kamu merasa lebih baik lagi." Ganindra langsung mengoleskan minyak angin itu ke leher Selva. Tepatnya di bawah telinga Selva. Yang membuat Ganindra tiba-tiba terdiam menatap kemulusan leher jenjang itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2