Masa Lalu Kelam Gadis - 058

Masa Lalu Kelam Gadis - 058
Pembalasan Dendam Berakhir


__ADS_3

Di kantor polisi Galvin terus memohon kepada Selva agar tidak melanjutkan laporannya. Namun tak sedikitpun Selva merasa iba dan ingin merubah keputusannya. Seperti Galvin yang tega membiarkan Selva di penjara saat usianya masih sangat muda dan juga tengah mengandung anaknya, Untuk apa sekarang Selva harus mengasihaninya.


Selva terus melanjutkan laporannya dan memenuhi semua persyaratan termasuk bukti dan saksi membuat Galvin tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima takdirnya di penjara seperti Ayahnya.


Akhirnya pembalasan dendam Selva terselesaikan dengan berakhirnya Ganindra dan Galvin yang merasakan dinginnya jeruji besi seperti yang ia rasakan dulu.


Setelah menyelesaikan laporannya, Marvin mengajak Selva untuk kembali ke kost-an. Namun Selva menolaknya karena dia ingin melihat keadaan Hilda di rumah sakit.


"Kamu menghawatirkannya?" tanya Marvin yang cukup terkejut karena mengira Selva tidak peduli lagi dengan Hilda yang turut andil dalam rencana Ganindra memenjarakannya.


"Tidak, Aku hanya ingin memastikan keadaannya." saut Selva mengelak kenyataan jika ia memang menghawatirkan kondisi Hilda.


"Aku tahu sebenarnya kamu begitu menghawatirkannya gadis lima lapan. Kamu tidak sekejam yang terlihat." batin Marvin yang kemudian mengikuti Selva yang berjalan lebih dulu di depannya.


•••


Sesampainya di rumah sakit, Selva langsung menuju kamar dimana Hilda di rawat. Ia melihat dari kaca kecil yang terpasang di pintu. Selva memperhatikan Hilda yang tengah duduk menatap keluar jendela. Jauh lebih baik dari yang ia lihat sebelumnya.


"Syukurlah Tante Hilda sudah tidak berbaring lagi." batin Selva yang merasa tenang mengingat suami dan putranya kini berada di penjara.


"Kenapa kita hanya berdiri disini kenapa tidak masuk?" tanya Marvin.


"Hsstttt... Dialah Marvin!" tegas Selva yang takut kedatangannya di ketahui oleh Hilda. Namun bukannya Hilda yang mendengar suara mereka, Justru Dokterlah yang datang mengagetkan mereka.


"Kenapa hanya berdiri di pintu" tanya Dokter yang ingin masuk kedalam.

__ADS_1


"A-e takut ganggu Dok." saut Selva asal.


"E-Dokter..." Selva menghentikan Dokter yang telah membuka pintu.


"Maaf Dok, Bagaimana keadaan Nyonya Hilda?"


"Bagus, Meskipun suaranya masih terdengar berat, Tapi kami sudah mampu memahami apa yang beliau katakan."


"Jadi Nyonya Hilda sudah bisa bicara?" batin Selva.


"Beliau juga sudah mau bangun dan berjalan-jalan di dalam ruangan." lanjut Dokter lagi.


"Baik Dok terimakasih, Sampaikan saja salam saya untuk Nyonya Hilda." Selva langsung beranjak pergi dari sana dan di ikuti oleh Marvin yang sejak tadi setia mendampinginya.


"Selva." saut Selva yang langsung berbalik badan sehingga Marvin hampir menabraknya. Jarak yang sangat dekat membuat keduanya terdiam sejenak dan saling memandang satu sama lain. Ada sesuatu berbeda yang Selva rasakan ketika kontak mata itu terjadi. Cukup lama Selva mengamati wajah tampan Marvin yang selama ini tidak ia sadari. Hingga tatapan itu terhenti ketika Marvin melambaikan tangannya tepat di depan wajahnya.


"Ada apa, Kenapa menatap ku seperti itu?"


"A-e... Tidak!" Selva langsung mengalihkan pandangannya dan kembali melangkahkan. Lagi-lagi Marvin membuntutinya dan meraih tangan Selva membuat jantung Selva tiba-tiba berdebar kencang.


"Sejak tadi kamu sibuk ngurusin orang-orang yang sudah menyakiti mu sampai kamu tidak sadar jika tangan mu terluka," ucap Marvin sembari menunjukkan tangan Selva yang terdapat luka di pergelangan tangannya akibat usahanya melawan Galvin.


"Ini... E-mungkin saat visum Dokter tidak melihatnya," ucap Selva.


"Jangankan Dokter, Kamu aja tidak melihat luka mu sendiri. Ayo kita minta Dokter mengobati lukamu."

__ADS_1


"E-tidak Marvin..."


"Kenapa tidak?"


"Aku ingin pulang saja."


"Hmm... Trik nya boleh juga."


"Maksud mu?"


"Tidak, Baiklah Ayo kita pulang Aku yang akan mengobati lukamu di rumah."


Selva mengernyitkan keningnya memikirkan trik apa yang Marvin maksud. Namun Marvin hanya senyam-senyum dan merangkul pundak Selva mengajaknya pulang ke kost-an.


•••


Sesampainya di kost-an dan mengantar Selva ke kamar, Marvin yang tidak mendapati kotak obat di kamar Selva, Pergi ke kamarnya untuk mengambil kotak obat yang dia miliki. Kemudian kembali ke kamar Selva dan langsung mengobati lukanya. Memang tidak begitu parah, Tapi bisa terinfeksi jika tidak di obati.


Selama Marvin mengobati lukanya, Selva terus menatap Marvin yang terlihat begitu telaten dan tulus mengobatinya. Tidak ada perubahan sikap yang berarti meskipun Marvin telah mengetahui masa lalu kelamnya.


"Jangan menatapku seperti itu, Nanti jatuh cinta," ucap Marvin yang seolah tahu Selva tengah menatapnya meskipun netranya fokus mengobati luka di tangan Selva. Barulah Marvin mengangkat wajahnya dan melihat Selva langsung mengalihkan pandangannya.


Marvin tersenyum melihat Selva yang biasanya terlihat cuek dan selalu mengabaikannya kini terlihat malu-malu menyembunyikan wajahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2