
Melihat Selva keluar dari ruangan Marvin, Pekerja lain saling berbisik mempertanyakan apa yang dilakukannya sehingga setiap hari Selva berlama-lama di ruangan Marvin dan tidak melakukan pekerjaannya. Padahal di antara yang lain, Selva lah yang paling baru bekerja di sana. Tapi kenyataanya seakan Selva lah pekerja paling senior.
Hal itu menimbulkan rasa iri hati, Tidak suka dan curiga bagi pekerja yang lainnya.
"Apakah kalian punya hubungan khusus?"
"Bagaimana kalian bisa sedekat itu sementara kamu dan Tuan Marvin baru beberapa hari berasa di Cafe ini?"
Berbagai macam pertanyaan terlontar dari mulut mereka.
Selva yang mendapat begitu banyak pertanyaan menarik nafas dalam-dalam. Memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan. Selva tidak ingin salah menjawab dan membuat Marvin marah kepadanya.
"Selva! Jawab pertanyaan kami!"
"Saya akan menjawab."
Semua orang menoleh ke arah suara, Tak terkecuali dengan Selva yang melihat Marvin sudah berdiri di belakangnya. Berhadapan dengan semua pekerjaannya.
"T-tuan Marvin..." Selva mencoba menghentikan Marvin untuk tidak mengatakannya tapi Marvin justru meraih tangan Selva dan menggenggam jemari tangannya.
"Selva adalah calon istriku, Jadi jangan pernah memperlakukannya sama seperti pekerja lainnya!"
__ADS_1
"M-marvin!" lirih Selva yang seolah memprotes apa yang Marvin katakan. Sementara para pekerja lainnya tercengang mendengar pengakuan Marvin.
"Selva kemari hanya untuk mengisi kebosanannya di rumah. Dan yang paling pasti dia kesini agar terus bertemu dengan ku." tutupnya sambil tersenyum menoleh kearah Selva.
"Marviiin..." dengan senyum malu-malu Selva mencubit perut Marvin dan membuat Marvin menghindar kesana-kemari. Sementara pekerja lain yang melihat kedua insan yang tengah di mabuk cinta itu bubar dan kembali melakukan pekerjaannya.
•••
Menjelang malam, Selva yang bersiap pulang melihat Marvin duduk di dalam mobilnya. Melihat mobil hitam dengan merek ternama yang harganya fantastis mbuat Selva merasa tidak layak jika kelak ia benar-benar menjadi istri Marvin. Oleh karena itu, Sebelum Marvin melihat dirinya, Selva bergegas lari untuk menghindari Marvin yang sudah menunggunya. Namun langkah kakinya menarik pendengaran Marvin yang langsung menoleh ke arahnya. Melihat Selva yang berlari ke arah lain. Marvin bergegas turun dan mengejarnya.
"Selva..."
"Mau lari kemana, Bukankah Aku sudah bilang mau menunggumu dan mengajak mu ke rumah ku?"
"M-marvin, Maafkan Aku, Sepertinya Aku tidak bisa."
"Kenapa Selva, Bukankah tadi kamu sudah setuju?"
"Ya, Tapi mendadak badanku sakit-sakit Aku pengin cepet pulang dan beristirahat."
"Hentikan ini Selva, Kamu tidak pandai berbohong, Cepat ikut dengan ku!"? Marvin langsung menggenggam pergelangan tangan Selva dan menariknya iku dengannya.
__ADS_1
"M-marvin... Marvin..." Selva berusaha melepaskan genggaman tangan Marvin. Namun Marvin tidak peduli.
"Sekarang masuk!" tegas Marvin sembari membukakan pintu mobil untuknya.
"Marvin Aku..." Selva tidak lagi melanjutkan ucapannya, Tapi Marvin langsung memahaminya. Karena itu Marvin menutup kembali pintu mobilnya dan menelpon seseorang untuk mengantar motornya ke Cafe.
"Antar motor ku ke Cafe sekarang juga!" hanya kata itu yang Marvin ucapkan kemudian menutup lagi ponselnya.
"Marvin...?" ucap Selva penuh tanda tanya.
"Ini kan masalah mu, Kamu ingin pergi dariku karena Aku menggunakan mobil ini, Baiklah kita akan naik motor butut ku seperti biasanya." tegas Marvin tanpa senyuman seperti biasanya.
"Marvin maafkan Aku, Aku hanya..."
"Hanya merasa tidak pantas? Atau sebenarnya kamu menganggap ku sama seperti mantan kekasih mu itu?!" kali ini Marvin sedikit meninggikan suaranya. Membuat Selva sedikit takut dan merasa bersalah.
"Selva! Aku yang memilih mu, Aku yang mengatakan cinta kepada mu, Bahkan kamu belum menerima cinta ku, Jadi jika ada yang tidak pantas di sini, Mungkin Aku yang tidak pantas untuk mu sehingga kamu tidak mau menerima ku. Tapi jika kamu menganggap ku dan keluarga ku sama dengan mantan kekasih mu dan keluarganya maka kamu salah besar! Aku laki-laki yang memiliki prinsip dan tidak bisa di kendalikan oleh siapapun termasuk papa ku. Tidak seperti mantan kekasih mu yang hanya diam saat kekasih yang tengah mengandung anaknya di fitnah dan di masukkan ke penjara oleh Ayahnya!"
"Marviiin...." Selva langsung memeluk Marvin. Ia benar-benar merasa terharu sekaligus sedih mendengar apa yang Marvin ucapkan. Yang di katakan Marvin memang benar. Tapi ketakutan di masa lalu karena status sosial membuat Selva merasa tidak percaya diri untuk maraih cintanya.
Bersambung...
__ADS_1