
Anak kecil dengan rambut panjang terurai itu pun hanya terdiam bingung ketika Hilda memeluk tubuh mungilnya. Usianya masih terlalu kecil untuk mengetahui permasalahan yang tengah dihadapi oleh ibu dan orang-orang di sekitarnya.
Sementara semua orang terdiam menatap Hilda yang seakan ingin menunjukkan kesungguhannya untuk menerima cucu yang selama ini tidak di akui. Hingga momentum itu pun berakhir ketika Pengacara dan asistennya masuk kedalam ruangan.
"Selamat sore," ucap sang Pengacara.
"Selamat sore Tuan." saut Maria menjabat tangan sang Pengacara.
Sang Pengacara pun menjabat tangan semua orang sebelum memulai pembicaraan yang sudah ia dan Maria diskusikan di telpon. Namun Maria merubah rencana yang sudah mereka sepakati dengan hanya meminta Sang Pengacara menyiapkan perjanjian tertulis untuk Ratna yang berjanji akan menyerahkan Selvi jika mereka memberikan sejumlah uang.
Tidak berlama-lama, Sang Asisten Pengacara pun menyiapkan kertas kosong yang ia tulis sesuai perjanjian, Lengkap dengan Materai untuk Ratna dan para saksi tandatangani. Namun sebelum Ratna mau menandatangani perjanjian tersebut Ratna yang tidak mau tertipu meminta di transfer terlebih dahulu.
"Setidaknya setengah nya," ucapnya.
"Kamu lihat Maria, Untuk apa kita tunduk dengan wanita sepertinya, Kita bisa menyeretnya ke penjara sekarang juga tanpa harus memberikannya uang!"
"Jangan lupa jika suamiku meninggal akibat pukulan dari putra dan kekasihnya Tuan!" tantang Ratna.
"Mungkin dengan uang dan kekuasaan, Kalian bisa membebaskan Marvin dari kasus ini, Tapi bagaimana dengan Selva? Suamiku meninggal di tangannya. Dan Aku melihat sendiri dengan kedua mata ku. Bahkan anak kecil ini juga melihatnya." lanjut Ratna menunjuk kearah Selvi.
__ADS_1
Mendengar itu Narendra terdiam menatap Marvin. Dalam hatinya ia tidak peduli jika sekalipun Selva di penjara. Tapi bagaimana dengan Marvin. Marvin tidak mungkin membiarkan itu. Terlebih Maria yang selalu berada di garis terdepan untuk menuruti semua keinginan adiknya itu.
"Bagaimana Tuan, Apa Anda memilih calon menantu mu di penjara daripada memberikan uang kompensasi kepada ku?"
"Aku tidak akan membiarkannya!" saut Marvin menjawab pertanyaan yang diajukan untuk Narendra.
Narendra yang mendengar itu pun tidak dapat menentang keputusan Marvin. Ia tidak ingin Marvin kembali meninggalkannya jika ia menentang keputusan putranya itu.
"Kak Maria, Transfer sekarang juga dan biarkan wanita ini pergi dari sini!"
"Marvin..." Selva mendekati Marvin, Merasa sedih dan tidak enak hati mengingat uang yang Ratna minta tidaklah sedikit.
Sesuai permintaan Marvin, Maria pun mentransfer setengah dari jumlah yang Ratna inginkan. Dan setengahnya lagi Maria akan memberikan setelah Ratna mau menandatangani perjanjian tertulis yang mereka ajukan.
"Kami bukan pembohong, Jadi cepat tandatangani dan ikut dengan ku untuk mengambil sisa uang yang kamu inginkan!" tegas Maria.
Mendengar itu, Ratna tanpa ragu menandatangani perjanjian tersebut. Setelah itu Maria mengajak Ratna meninggalkan ruangan. Namun sebelum ia keluar dari ruangan, Ratna menoleh kearah Selva yang dulu menjadi sahabat baiknya sejak sama-sama berada didalam penjara. Dalam sudut hatinya sedikit timbul rasa sedih kenapa hubungan mereka jadi seperti sekarang. Terlebih saat ia melihat Selvi yang sudah ia rawat seperti anak sendiri, Membuat rasa sedih dan bersalahnya bertambah karena telah meminta uang dengan jumlah banyak dari keluarga calon suami Selva.
"Tapi jika Aku tidak melakukan ini bagaimana dengan hidup ku nanti, Selva akan hidup bahagia dan bergelimang harta sementara Aku, Belum tentu setelah Selva kaya ingat dengan ku. Terlebih Selva juga telah membunuh Mas Roni." begitulah saat pikiran jahat kembali terbersit di benaknya.
__ADS_1
Karena pikiran itu, Ratna pun meninggalkan ruangan tanpa ragu. Tanpa mempedulikan Selvi yang menangis mengejar dan memanggilnya.
"Ibuuu... Ibuuu..." teriak anak kecil itu.
"Sayang..." secara bersamaan, Selva dan Hilda menangkap bocah kecil itu, Disisi kanan dan kirinya. Membuat tangan keduanya saling bersentuhan dan tatapan mata yang tidak bisa di hindarkan.
Keheningan itu terpecahkan ketika Selvi memberontak melepaskan tangan keduanya.
"Ibuuu..." rengeknya lagi.
"Sayang jangan nangis sayang, Ada Nenek di sini, Ini Nenek sayang." bujuk Hilda. Namun Selvi tidak mempedulikan apa yang Hilda katakan dan terus menangisi kepergian Ratna.
"Sayang dia bukan Ibu mu." tegas Hilda dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Nyonya Hilda, Tidak perlu mengatakan itu sekarang, Dia masih terlalu kecil untuk memahami semuanya!" tegas Selva.
Meskipun merasa tidak senang dengan pendapat yang Selva katakan, Hilda terpaksa diam karena melihat Narendra dan Marvin yang memperhatikan mereka.
Bersambung...
__ADS_1