Masa Lalu Kelam Gadis - 058

Masa Lalu Kelam Gadis - 058
Dijadikan Asisten Pribadi


__ADS_3

Ganindra ikut berdiri seolah tak bisa melepaskan pandangannya dari Selva. Bahkan sedikit pun ia tidak ingin memarahi Selva meskipun bingkai foto bersama keluarganya di pecah di hari pertama Selva bekerja.


"M-maaf kan saya Tuan." Selva bergegas mengambil sapu dan pengki yang sudah ia bawa dan di letakkan dekat pintu. Sebelum menyapu pecahan kaca tersebut Selva mengambil foto itu terlebih dahulu namun tak sengaja jarinya terkena pecahan kaca sehingga ia memekik kecil.


Dengan cepat Ganindra meraih tangan Selva dan memasukan jarinya ke mulut. Namun dengan cepat Selva menarik kembali tangannya dan membuat Ganindra terkejut akan penolakan itu.


"Aku tidak papa Tuan."


"Tapi jarimu berdarah."


"Tidak Tuan, Ini hanya sedikit, Aku akan..." Selva menghentikan ucapannya dan meraih beberapa tisu untuk membungkus jarinya.


"Lihat, Ini akan segera berhenti," ucap Selva sembari menunjukkan jarinya yang tak lagi terlihat menembus tisu.


"Baiklah. Lain kali hati-hati."


"Tuan tidak marah Aku sudah memecahkan foto keluarga Tuan?"


"Tidak itu kan hanya foto, Jika Aku mau detik ini juga Aku bisa menyuruh seseorang mengganti bingkai itu, Tapi sudahlah menurut ku itu tidak begitu penting."


Tidak mau berlama-lama berbincang dengan Ganindra, Selva meletakkan foto itu di meja. Kemudian Selva kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Ganindra duduk di kursi kebesarannya tanpa memulai pekerjaannya. Dia hanya fokus menatap Selva yang begitu menarik matanya.


"Kenapa si tua bangka itu terus menatap ku, Apa dia curiga pada ku dan ingin menyelidiki siapa Aku sebenarnya." batin Selva yang mengetahui Ganindra terus menatapnya.


Tidak lama kemudian Ganindra bangkit dari duduknya dan mendekati Selva yang tengah membersihkan lemarinya. Tanpa mengatakan apapun Ganindra meraih sebelah tangan Selva dan mengelus-elus telapak tangannya.


"T-tuan..."


"Tangan mu sangat halus, Tidak pantas untuk mu bekerja kasar seperti ini,"

__ADS_1


Selva langsung menarik kembali tangannya dan menggenggam erat gagang kemoceng di tangannya.


"Apalagi yang bisa saya kerjakan Tuan, Saya tidak berpendidikan tinggi, Bisa dapat pekerjaan apalagi di perusahaan sebesar Arkananta Group itu sudah suatu kebanggaan."


"Aku pemilik perusahaan yang sedang kamu bicarakan, Aku tidak butuh ijazah mu untuk memperkerjakan mu di sini."


"M-maksud Tuan?"


Ganindra mengambil kemoceng dari tangan Selva dan meletakkan di lemari dekat mereka berdiri. Kemudian kembali menatap Selva dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Kemudian Ganindra kembali meraih tangan Selva dan menariknya pergi bersamanya.


"Tuan... Mau kemana Tuan?"


"Ikut saja."


Ganindra terus menggandeng tangan Selva dan menuruni gedung dengan menaiki lift khusus untuknya. Kemudian melalui pintu belakang yang juga di khususkan untuk nya, Ia membawa Selva keluar dari perusahaan dengan mobil yang ia kendarai sendiri.


"Kita mau kemana Tuan, Ini hari pertama ku bekerja kenapa kita?"


"Kamu bekerja dengan siapa?"


"Dan siapa pemilik perusahaan?"


"Anda."


"Jadi diam dan ikuti perintah ku, Karena inilah pekerjaan mu yang seharusnya."


"Apa yang Ganindra pikiran, Aku yang ingin membalas dendam, Tapi kenapa dia yang menguasai ku, Bagaimana Aku akan menjalankan rencana ku." batin Selva.


Setelah perjalanan kurang dari tiga puluh menit. Ganindra menghentikan mobilnya di depan Boutique yang menjual pakaian dengan brand ternama. Hal itu membuat Selva semakin bingung untuk apa Ganindra membawanya ke sana.


"Ayo kita masuk."

__ADS_1


"Untuk apa kita kesini Tuan?"


"Nanti kamu akan tau." Ganindra kembali menggandeng tangan Selva memasuki Boutique tersebut.


Begitu menasuki Boutique, Mereka langsung di sambut ramah oleh para pelayan. Kemudian Ganindra menyuruh para pelayan mencarikan pakaian yang sesuai dengan usianya.


Selva mulai mencoba pakaian yang dipilihkan oleh para pelayan.


Dan saat mencoba pakaian itu, Selva harus memperlihatkan pada Ganindra sebelum mengganti dengan pakaian lainnya. Satu persatu Selva memperlihatkannya pada Ganindra, Seperti calon mempelai wanita yang tengah mencoba gaun pengantin di depan calon suaminya, Begitulah yang saat ini Selva lakukan.


Akhirnya setelah mencoba begitu banyak pakaian. Ganindra memilih beberapa stel pakaian yang dianggapnya sangat cocok untuk Selva kenakan.


Ingin sekali Selva bertanya saat itu di depan kasir, Namun Selva menahannya hingga mereka keluar dari Boutique.


Begitu mereka keluar, Selva langsung mempertanyakan maksud Ganindra membelikan dirinya begitu banyak pakaian.


"Tuan... Untuk apa Tuan membeli begitu banyak pakaian untuk ku, Aku kan hanya bekerja sebagai cleaning service, Dua baju seragam sudah cukup untuk sehari-hari Aku bekerja."


"Siapa yang akan memperkerjakan mu sebagai cleaning service? Mulai besok bekerjalah menjadi asisten pribadi ku."


"Apa!?"


"Ya."


"Tapi Tuan..."


"Kamu bekerja di perusahaan ku, Aku berhak memutuskan pekerjaan apa yang tepat untuk mu."


Selva termangu memikirkan apa yang baru saja Ganindra katakan.


Sebelumnya Selva hanya memikirkan bagaimana cara agar dia bisa bekerja di perusahaan Arkananta Group. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan jika Ganindra akan begitu cepat mempercayainya sehingga memintanya menjadi asisten pribadinya.

__ADS_1


"Tapiii... Benarkah Ganindra begitu mempercayai ku, Atau dia hanya berpura-pura untuk membongkar kecurigaannya padaku?" Selva masih tidak dapat membedakan itu semua, Karena semuanya terjadi begitu cepat dari perkiraannya.


Bersambung...


__ADS_2