Masa Lalu Kelam Gadis - 058

Masa Lalu Kelam Gadis - 058
Tercengang


__ADS_3

Tak lama kemudian, Selva melepaskan pelukannya begitu mendengar suara motor datang. Rupanya yang datang tak lain adalah orang suruhan Marvin yang mengantarkan motornya.


Pria bertubuh kurus tinggi itu turun dari motor dan menghadap ke depan Marvin.


"Selamat malam Tuan, Maaf kalau sudah menunggu lama," ucap pria berusia sekitar 40th itu sembari sedikit menundukkan kepalanya.


"Gak papa, Sekarang Pak Amin bawa mobil saya pulang yah, Nona muda tidak ingin naik mobil," ucap Marvin sembari melirik Selva.


Merasa tersindir Selva merasa tidak enak hati dan menggaruk-garuk leher belakanganya.


Setelah itu Marvin melepaskan jasnya dan memakaikannya kepada Selva. "Sesuai keinginan mu Nona, Ayo cepat naik."


Selva masih berdiri memegangi jas yang ada di bahunya.


Jas itu memang hanya menutup bahu Selva tanpa masuk ke kedua tangannya. Selva tengah berpikir apakah tindakannya salah karena menolak menggunakan mobil dan membiarkan Marvin kedinginan menggunakan motor tanpa jas maupun jaket yang biasa ia kenakan?


Lamunannya terhenti tatkala Marvin kembali memanggilnya.


"Nona Muda..."

__ADS_1


"Oh Aku tahu." Marvin kembali turun dan mengambil jas itu untuk memakaikannya dengan benar. Namun Selva langsung menghentikan Marvin melakukan itu.


"Tidak Marvin!"


"Kenapa lagi sekarang? Apa aku harus menyuruh Pak Amin mengambilkan jaket mu?"


"E-tidak, Bukan begitu. Kamu kan yang duduk di depan jika Aku yang memakainya nanti kamu kedinginan."


"Oh... Tenang, Jika Aku merasa kedinginan kamu kan bisa memeluk ku." goda Marvin sembari menaik turunkan Kudus alisnya.


Karena merasa sudah terlalu lama mengulur waktu, Selva pun akhirnya setuju dan naik ke motor menyusul Marvin yang sudah terlebih dulu duduk.


"Pegangan yang kenceng biar gak jatuh." goda Marvin sembari menarik kedua tangan Selva dan melingkarkan ke perutnya.


Merasakan hal itu Marvin hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian dengan sengaja mempercepat laju motornya seolah ingin melihat apakah Selva akan tetap berpegangan pada bajunya atau memeluknya. Dan benar saja, Semakin lama Marvin mempercepat laju motornya Selva tak bisa lagi hanya berpegangan pada baju Marvin. Ia yang merasa semakin takut akan terjatuh tak punya pilihan lain selain memeluk Marvin. Bukan itu saja bahkan Selva menyandarkan sebelah pipinya di punggung Marvin seolah mencari perlindungan. Kini Marvin dapat tersenyum lebar karena akhirnya Selva melakukan apa yang di inginkan.


Tidak lebih dari satu jam akhirnya Marvin menghentikan motornya di depan rumah besar dengan nuansa Eropa yang di nominasi oleh cat berwarna putih. Terlihat beberapa mobil mewah terparkir rapu di garasi. Ada juga dua motor gede dengan nilai yang fantastis terparkir di sana tapi kenapa Marvin malah memakai motor yang terlihat sudah tua. Selva hanya membatin melihat semua itu.


Netranya terus menatap kesana kemari seakan tak percaya jika rumah besar yang biasanya hanya bisa lihat di televisi kini ia bisa melihat secara langsung. Rumahnya benar-benar besar, Bahkan jauh lebih besar dari rumah Galvin mantan kekasihnya. Sampai Marvin turun dari motor. Selva masih mematung dengan pikirannya yang terbang jauh entah kemana.

__ADS_1


"Nona... Apa kamu ingin diam saja di sini?"


Setelah menunggu beberapa menit tak mendapat reaksi apapun dari Selva. Marvin langsung membopong tubuh Selva dari atas motornya. Namun Marvin tidak menurunkan Selva melainkan terus mengendongnya menuju pintu masuk yang terlihat sudah ada dua pelayan menyambut kedatangan mereka.


"Marvin... Lepasin!" melihat hal itu, Selva mencoba memberontak dengan tangan dan kaki yang terus bergerak seperti anak kecil yang tidak mau di gendong. Karena itu juga Marvin kesulitan menjaga keseimbangan ketika ia menaiki teras rumahnya.


"Selva... Hentikan nanti kita terjatuh."


Karena rasa malunya di lihat oleh dua pelayan yang terus menatapnya, Selva terus memberontak hingga Marvin benar-benar kehilangan keseimbangannya dan membuat keduanya terjatuh.


"Aowwhh..." ringis keduanya.


"Tuan Marvin..." ucap kedua pelayan yang langsung berusaha membantunya.


"Ada apa ini?"


Dengan posisi yang masih di lantai sembari menahan kesakitannya Marvin dan Selva melihat kearah suara yang berdiri tegap di depan pintu.


"Tuan Narendra..." lirih Selva yang merasa semakin gemetar bagaimana nanti ketika Marvin mengenalkan dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


📌 Masya Allah waktu berjalan begitu cepat sampai aku belum sempat nulis sudah kembali malam aja. Mohon maaf banget ya jika tidak bisa up banyak-banyak di karenakan kesibukan di dunia nyata yang begitu menyita waktu. Terimakasih banyak untuk yang selalu setia menunggu. Semoga kalian di berikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah, Halal dan berkah 😘❤️


__ADS_2