
Pesta telah usai, Para tamu undangan pun telah pergi. Begitu juga dengan keluarga yang pergi ke kamarnya masing-masing untuk istirahat. Tak terkecuali dengan Selva dan Marvin yang kini telah berada di kamarnya. Namun tidak seperti yang lainnya, Marvin masih enggan istirahat karena menantikan momen yang selama ini ia tunggu. Ya, Apalagi kalau bukan malam pertama. Malam dimana semua pasangan yang baru di satukan dalam ikatan suci pernikahan.
"Akhirnya hari ini tiba juga." batin Marvin yang berbaring miring dengan satu tangan sebagai tumpuan kepalanya. Ia terus menatap kamar mandi yang masih tertutup rapat. Dimana hanya suara gemericik air mengalir menandakan Selva masih belum selesai dengan aktivitasnya di dalam sana.
"Sebenernya apa yang Selva lakukan, Kenapa lama sekali." kali ini Marvin yang sudah tidak sabar segera beranjak dari tempat tidur dan mendekati pintu kamar mandi. Ia mengangkat satu tangannya berniat ingin mengetuk pintu itu. Namun ia mengurungkannya tatkala tak mendengar lagi suara air mengalir.
Marvin pun mundur dua langkah dan menunggu Selva keluar. Namun hingga beberapa menit berlalu Selva tidak juga kunjung keluar.
"Sebenernya apa yang sedang dia lakukan!" ucap Marvin yang langsung mencoba membuka pintu karena merasa tidak sabar lagi. Dan disaat bersamaan Selva juga membuka pintu sehingga Marvin terserah masuk beberapa langkah.
"Marvin!" ucap Selva sembari menahan tubuh Marvin yang hampir menabraknya.
"E-Selva..." untuk sejenak Marvin menjadi gugup karena situasi itu. Namun ketika pandangannya beralih pada rambut basah yang membasahi bahu Selva membuat Marvin yang sebelumnya sudah merasa tidak sabar menelan salivanya.
Kemudian ia membungkukkan sedikit badannya dan mendaratkan hidung mancungnya di bahu putih nan mulus itu. Marvin menghirup aroma segar sabun mandi yang tercium dari tubuh Selva. Terlebih Selva hanya mengenakan handuk melilit dadanya membuat Marvin bebas menyusuri bahu, punggung hingga tengkuknya.
"Apakah kamu sengaja mempersiapkan ini untuk ku?" goda Marvin di telinga Selva.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, Selva yang sejak tadi menikmati sentuhan Marvin tersentak. Di tambah lagi nafas hangat yang terhembus dari mulut Marvin membuat bulu kuduk nya meremang. Agaknya Selva juga telah siap melakukan malam pertama nya bersama Marvin yang baru menikahinya hari ini. Meskipun ini bukan yang pertama bagi Selva namun ini sangat berbeda mengingat kini ia melakukannya di dalam ikatan pernikahan halal yang mendatangkan banyak pahala.
•••
Keesokan paginya, Sesuai janji yang telah Marvin ucapkan kepada Hilda, Marvin pun mengajak Selva dan juga putrinya untuk mengunjungi Galvin di penjara. Meskipun sebelumnya Selva merasa ragu mengingat masa lalunya dengan Galvin. Namun dengan keyakinan Marvin yang mengatakan bahwa berdamai dengan masa lalu akan membuatnya tenang dan jauh lebih bahagia, Akhirnya Selva pun menyetujuinya.
Kini mereka telah berhadapan dengan Galvin yang di dampingi Hilda sang ibu tercinta. Penampilannya pun nampak lebih rapi dari biasanya. Galvin benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menemui putrinya untuk pertama kalinya.
Bibirnya pun tersenyum haru tatkala menatap bocah kecil yang wajahnya begitu mirip dengan nya. "Ternyata benar kata orang jika anak perempuan lebih mirip dengan Ayahnya. Bagaimana bisa dulu aku tidak mau mengakuinya." batin Galvin di ikuti dengan rasa penyesalannya. Namun apa boleh buat. Usianya yang kala itu masih begitu muda, Serta orang tua yang menentangnya, Membuat ia tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Tapi semua itu telah menjadi masa lalu. Sekarang ia telah menerima hukuman dari kesalahannya. Dan Selva pun telah bahagia bersama pria yang jauh lebih baik darinya. Yang bukan hanya mau menerima masa lalu kelamnya dan yang terpenting ia mau menerima putrinya dan memberikan masa depan yang lebih cerah dibandingkan jika hidup dengannya.
Pertanyaan Hilda membuat Galvin tersentak dari lamunannya.
Pandangannya beralih pada tangan Marvin yang di ulurkan padanya. Meminta berjabat tangan dengan sedikit senyuman di bibirnya.
"Marvin..." ucap Marvin memperkenalkan diri.
"E-ya, Aku Galvin."
__ADS_1
Marvin mengangguk. Tak ada sedikitpun rasa benci atau tatapan tidak suka pada mantan kekasih istrinya itu. Bahkan ketika Galvin mengulurkan tangannya pada Selva, Marvin berharap Selva mau menerimanya.
"Selva maafkan aku untuk apa yang sudah kamu lalui karena ku."
Perlahan Selva meraih tangan itu dan menjabatnya. "Kita sama-sama salah dalam hal ini, Dan kita telah menjalani hukuman kita masing-masing. Semoga dengan ini kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi."
Galvin tersenyum menganggukkan kepalanya. Kemudian ia meminta izin untuk memeluk dan menggendong putri kecilnya. Dan pelukan itu di balas dengan tatapan heran Selvi yang belum paham siapa pria yang kini menggendongnya.
"Terimakasih Marvin," ucap Selva tersenyum melihat Galvin menggendong Selvi dengan bahagia.
Marvin pun tak kalah bahagia dan meraih bahu Selva ke sisinya.
"Sekarang kamu jauh lebih tenang dan bahagia kan?" tanya Marvin menyatukan wajah mereka.
📌 Terimakasih untuk yang selalu mendoakan dan selalu support.
Novel selanjutnya di tunggu yah 🤗
__ADS_1