Masa Lalu Kelam Gadis - 058

Masa Lalu Kelam Gadis - 058
Menghilang


__ADS_3

Narendra masih diam saja ketika Maria dan Marvin melangkah keluar melewatinya. Hal itu membuat Hilda tersenyum puas penuh kemenangan karena Narendra lebih memilihnya daripada kedua anak-anaknya. Akan tetapi senyum itu perlahan pusar ketika Narendra tiba-tiba berlari mengejar anak-anaknya.


"Maria... Marvin..." pekik Narendra begitu melihat anak-anaknya telah masuk ke mobil dan bersiap meninggalkan rumah.


"Maria... Buka pintunya Maria." sembari menggedor-gedor pintu mobil, Narendra berusaha menghentikan anak-anaknya pergi. Sementara Hilda yang sudah berdiri di belakang Narendra merasa resah karena merasa posisinya tidak aman.


"Maria... Marvin... Papa mohon dengerin Papa."


Melihat Ayahnya yang berdiri tepat di depan mobil menghalangi jalannya. Maria dan Marvin saling memandang sesaat kemudian mengangguk dan turun dari mobilnya.


"Maria..." Narendra langsung memeluk Maria. Kemudian berpindah memeluk Marvin.


"Jangan tinggalkan Papa Nak, Papa sudah pernah merasakan jauh dari kalian berdua dan Papa tidak ingin lagi merasakannya lagi."


"Lalu bagaimana dengan Tante Hilda?" tanya Maria.


Narendra terdiam dan menoleh kearah Hilda yang berdiri tak jauh dari mereka. Kemudian melangkah mendekatinya. "Hilda..." lirih Narendra yang kembali terdiam seakan bibirnya begitu berat mengatakan apa yang ingin ia katakan. Sementara Hilda semakin merasa resah memikirkan kata-kata yang ingin Narendra ucapkan padanya.

__ADS_1


"A-aku... Aku minta maaf, Tapi harus ku katakan jika kita tidak bisa bersama."


"Apa?!" Hilda yang sebelumnya sudah merasa terbang di atas awan kini seakan di jatuhkan ke jurang yang begitu dalam.


"Mengertilah Hilda, Kebahagiaan putra ku lebih penting dari apapun di dunia ini."


Kata-kata Narendra menyentuh hati Marvin yang sejak tadi mendengarkan apa yang Ayahnya dan Hilda bicarakan. Membuat sudut hatinya merasa sedikit bersalah karena memisahkan Ayahnya dari wanita yang di cintai.


"Apakah Aku egois?" Marvin bertanya-tanya dalam hati. Namun mengingat hubungan rumit yang akan terjalin antara Hilda dan Selva jika mereka sama-sama menikah, Membuat Marvin menepis jauh-jauh perasaan bersalahnya.


"Sekarang pergilah Hilda, Kita sudah selesai!" ucap Narendra yang langsung meninggalkan Hilda dan anak-anaknya seolah ingin menyembunyikan kesedihannya.


"Kamu tidak dengar apa yang Papa ku katakan padamu? Pergilah dari sini!" tegas Maria yang tidak sedikitpun merasa simpati seperti Marvin.


"Maria... Hubungan kami sudah terjalin cukup lama, Mas Narendra tidak bisa membuang ku begitu saja!"


"Wanita seperti mu memang pantas untuk di buang! Jadi pergi dari sini atau Aku akan menyuruh penjaga keamanan untuk melempar mu jauh dari sini!"

__ADS_1


"Kakak!" Marvin mencoba menghentikan Maria yang berbicara begitu kasar pada Hilda tanpa bekas kasihan.


"Marvin, Jangan lemah! Wanita ini sedang berakting untuk mendapatkan keinginannya jadi buang jauh-jauh belas kasih mu!"


Mendengar itu, Marvin hanya diam ketika kedua penjaga keamanan berusaha menyuruh paksa Hilda pergi meninggalkan rumah mereka.


"Lepaskan! Aku bisa pergi sendiri!" Hilda menghempas kedua tangan penjaga keamanan kemudian pergi dengan tatapan penuh dendam.


•••


Keesokan harinya Marvin berangkat ke cafe lebih awal untuk menunggu kedatangan Selva. Namun hingga pukul sepuluh pagi, Marvin tidak juga melihat Selva datang bekerja. Hal itu membuat Marvin resah dan memutuskan untuk menyusul Selva di kost-an. Namun sesampainya di kost-an, Marvin kembali kecewa karena ibu kost bilang Selva sudah pergi sejak pagi.


"Kemana Selva pergi?" tanya Marvin yang kini berada di depan kamar Selva yang terkunci.


"Ibu tidak tahu, Ibu pikir Selva pergi bekerja seperti biasanya. Orang cuma bawa tas kecil gak bawa barang apa-apa." jelas ibu kost.


"Baiklah, Kalau Selva kembali tolong hubungi Aku." setelah mengatakan itu, Marvin turun dan meninggalkan kost-an.

__ADS_1


Marvin yang merasa resah, Khawatir dan penasaran kemana Selva pergi, Menyusuri jalan menggunakan mobilnya. Ia melihat ke kanan kiri jalan berharap menemukan Selva. Namun hingga menjelang sore Marvin tidak juga melihat sosok wanita yang ia cintai.


Bersambung...


__ADS_2