Masa Lalu Kelam Gadis - 058

Masa Lalu Kelam Gadis - 058
Hari H


__ADS_3

"Non Selviii..." seorang pengasuh berlari menyusul Selvi yang tiba-tiba masuk ke kamar Selva. Melihat Selva dan juga Marvin berada di sana, Pengasuh pun menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya Tuan Marvin... Non Selva. Ayok nak kita bermain di luar." ajak pengasuh membimbing Selvi ikut dengannya.


"E-tunggu," ucap Selva menghentikan mereka.


"Biar Selvi di sini, Kamu lakukan pekerjaan lain saja." Selva memerintah sembari melirik Marvin yang hanya berdiri menatapnya.


"Baik Non, Panggil saya jika Non Selva memerlukan sesuatu."


Selva hanya mengangguk kecil sembari meraih kedua tangan Selvi ke sisinya. Setelah itu Selva berjongkok dan mencubit gemas pipi putrinya.


"Kakak... Baju Kakak cantik sekali." puji Selvi dengan nada polosnya.


"Hmm... Jadi cuma bajunya saja yang cantik? Bukan Kak Selva?" saut Marvin yang ikut berjongkok sehingga posisi Selvi berada di tengah mereka berdua.


"Kak Selva juga cantik tapi kakak mau kemana pake baju seperti ini, Apa kakak juga akan meninggalkan ku seperti Mama meninggalkan ku?"


Pertanyaan Selvi membuat Selva dan Marvin saling menatap bingung sekaligus kaget.


"Katakan sesuatu kakak... Kenapa kakak diam saja?" rengeknya.


"E-Selvi kamu tenang saja, Kak Selva tidak akan kemana pun. Dia hanya akan menikah dengan Om." saut Marvin mencoba memberi pengertian. Namun usia Selvi yang masih terlalu kecil tidak memahami apa itu pernikahan.


"Menikah itu apa?"


Sebuah pertanyaan yang membuat Marvin dan Selva kembali terdiam dan berpikir keras jawaban apa yang harus mereka berikan.

__ADS_1


"E... M-menikah itu..."


"Menikah itu adalah sebuah langkah untuk membuat Om dan Kak Selva menjadi Ayah dan ibu mu. E-ya seperti itu." jelas Marvin memotong ucapan Selva yang terlihat bingung memberikan jawaban pada putri kecilnya.


"Benarkah? Jadi nanti Selvi akan punya Ayah dan ibu seperti teman-teman?"


Marvin dan Selva kembali saling menatap dan menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Lalu di susul oleh sorak sorai Selvi yang langsung memeluk pundak keduanya.


"Horeee... Selvi punya Ayah dan Ibu..." ucapannya sembari mencium pipi Selva dan Marvin secara bergantian.


Melihat kebahagiaan putri kecilnya Selva merasa tenang karena tidak perlu memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan bahwa ia adalah ibu kandungnya. Selva hanya berharap semoga dengan seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, Selvi akan menerima dengan baik jika ia adalah ibu kandungnya.


•••


Keesokan harinya dimana bertepatan dengan hari pernikahan Selva dan Marvin, Hilda datang mengunjungi putranya yang masih di dalam penjara. Ia datang dengan kesedihan di hatinya karena tidak berhasil membuat Selva membebaskannya.


"Jadi Selva hari ini menikah?" tanya Galvin mengulangi perkataan ibunya.


"Tidak papa ma, Aku memang pantas berada disini untuk menebus kesalahan yang pernah ku lakukan kepada Selva. Mungkin dengan ini Selva bisa memanfaatkan ku. Lagipula selama aku di sini aku jadi banyak belajar bagaimana menjadi orang yang lebih baik lagi."


Mendengar itu Hilda menghapus air matanya dan merasa sedikit lega. Kemudian ia membuka kotak makan yang sudah sejak tadi Hilda berikan namun belum juga Galvin makan.


"Mama seneng dengernya. Sekarang makanlah," ucap Hilda sembari menyodorkan sendok makan ke mulut Galvin.


Setelah memakan suapan pertama, Galvin menghentikan suapan kedua dari tangan ibunya.


"Kenapa Galvin, Apa makanannya tidak enak?"

__ADS_1


"Ini sangat enak ibu, Aku akan memakannya bersama Papa,"


Mendengar itu, Hilda langsung menarik kedua tangannya dari atas meja. Wajahnya berubah menjadi kesal ketika mendengar Galvin menyebut pria yang pernah menjadi suaminya dan hampir membunuhnya.


"Bagaimana kabarnya?" tanya Hilda dengan pertanyaan sinisnya.


"Maksud ibu Papa?"


"Sudahlah Galvin tidak perlu bertanya seperti itu, Kamu tahu maksud ibu."


Melihat kekesalan ibunya, Galvin menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan ibunya.


"Papa kurang baik ma, Selama di penjara Papa sering sakit-sakitan, Sekarang saja sedang di ruang perawatan, Mama mau menemuinya?"


"Tidak, Sampaikan saja salam Mama padanya, Semoga cepat sembuh." Hilda bergegas bangun dari duduknya dan bersiap meninggalkan Galvin. Namun Galvin kembali menggelikannya.


"Mama... Boleh Aku minta satu hal lagi sama Mama?"


"Apa?" saut Hilda singkat.


"Aku ingin bertemu dengan putriku."


Mendengar itu Hilda terdiam memikirkan bagaimana caranya ia bisa memenuhi keinginan Galvin.


"Aku mohon ma, Aku ingin melihat secara langsung seperti apa darah daging ku. Selama ini aku hanya bisa melihatnya di foto, Aku ingin memeluk dan meminta maaf padanya."


"Mama tidak bisa janji Galvin. Tapi Mama akan berusaha untuk membawa Selvi bertemu dengan mu."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Hilda bergegas pergi meninggalkan Galvin yang masih berdiri menatap kepergian ibunya.


Bersambung...


__ADS_2