
Pagi-pagi sekali Selva keluar kamar untuk berangkat bekerja.
Selang berapa menit Marvin juga keluar dari kamar dan melihat punggung Selva yang menuruni anak tangga.
"Gadis lima lapan..." teriak Marvin yang bergegas lari mengejar Selva yang langsung menoleh ke belakang.
"Pagi-pagi banget dah mau kerja lagi aja."
"Jelas, Aku ini orang yang pekerja keras tidak malas seperti mu yang hanya kerja semaumu dan asyik pacaran melulu."
"Pacar darimana, Masih cemburu aja."
"Udah jelas-jelas kamu bawa cewek ke kamar masih nanya pacar darimana, Kalau bukan pacar lalu siapa, Wanita panggilan?!"
Mendengar pertanyaan Selva Marvin tak sedikitpun merasa marah, Justru ia tersenyum melihat Selva yang bersikap seperti seorang kekasih yang tengah cemburu kepadanya.
Menyadari hal itu, Selva mengalihkan pandangannya dan pergi dengan kesal.
"Hey... Kenapa lari, Apa kamu tidak ingin mendengar jawaban ku?" pekik Marvin.
Selva hanya menoleh sesaat dan kembali melangkahkan dengan kesal.
•••
Sesampainya di Cafe, Selva terlambat karena sulitnya mendapatkan kendaraan umum. Belum lagi di jalan yang macet sehingga ketika ia sampai di Cafe terlihat seluruh karyawan sudah berbaris menyambut kedatangan seorang pria mengenakan stelan jas berwarna hitam tengah berdiri tegap diantara semua karyawannya.
"Apa itu Pak Direktur, Putra dari Tuan Narendra?" batin Selva yang kini berdiri di depan pintu masuk. Ia merasa bingung bagaimana caranya bisa masuk jika pria dengan tubuh tinggi sekitar 180cm itu berdiri tak jauh dari pintu.
"Apa Ayah ku belum datang?" tanya pria itu.
"Hah! Tuh kan benar, Dia putra Tuan Narendra,Tapi suaranya terdengar tidak asing." batin Selva.
"Ahh... Apa yang ku pikirkan, Ini pasti karena Aku terlalu memikirkannya." lanjut Selva dalam hatinya.
__ADS_1
Kini Selva semakin merasa panik karena di hari keduanya ia bekerja dia sudah terlambat, Terlebih saat kunjungan penting dari putra pemilik tempatnya bekerja.
Karena tidak ingin ketahuan ia terlambat, Selva tidak mempedulikan apa yang pria itu katakan pada para karyawannya. Kini fokusnya hanya mencari celah supaya ia bisa masuk tanpa ketahuan oleh siapapun.
Dengan langkah mengendap-endap, Selva menyusup masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan seragamnya. Dan disaat bersamaan Selva mendengar para karyawan sudah kembali ke dapur membicarakan ketampanan Pak Direktur.
"Dasar cewek gak bisa lihat ada cowok ganteng dikit," ucap karyawan pria menimpali ucapan karyawati yang terus memuji Pak Direktur.
"Dikit apaan orang ganteng banget." sautnya.
"Biar ganteng banget juga gak akan suka sama kalian, Udah lanjut kerja jangan ngimpi di siang hari." tipmal yang lainnya.
Setelah mendengar itu, Dan yakin jika Pak Direktur sudah pergi, Selva keluar dari kamar mandi.
Ckleekkk...
Beberapa karyawan yang mendengar pintu kamar mandi terbuka menoleh kebelakang, Melihat Selva yang baru keluar dari dalam.
"Loh sejak kapan kamu datang?"
"Hufff... Selamat" batin Selva sembari menghembuskan nafas lega.
Setelah beberapa menit kemudian Selva yang melihat pengunjung datang, Bergegas untuk menyambutnya. Tapi karena tidak melihat sekitarnya Selva menabrak seseorang yang bejalan dari arah lain.
"Maaf..." ucap mereka secara bersamaan.
"Selva....!?"
Mendengar namanya di sebut, Selva yang sebelumnya menunduk mengangkat kepalanya dan melihat orang yang bertabrakan dengannya adalah Marvin.
"Marvin, Kamu ngapain kesini?"
"Aku..." Marvin menjeda ucapannya memperhatikan penampilan Selva dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
__ADS_1
"Aku apa, Ngapain lihatin Aku begitu?"
"A-e tidak, Aku hanya ingin mampir saja ke sini, Cafe nya bagus, Apa kamu kerja di sini?"
"Ya. Jadi pergilah dan jangan membuat keributan dengan ku, Aku tidak ingin gara-gara kamu, Aku kehilangan pekerjaan ku!"
"Kamu sungguh mengusir ku? Apa kamu begitu cemburu melihat ku dengan wanita lain?"
"Siapa yang cemburu kepada mu, Kepedean! Udah deh kalau kamu tidak ingin memesan apapun, Segera pergi dari sini!"
"Kalau Aku tidak mau bagaimana?"
"Maka Aku akan memaksa mu untuk pergi!" Sekuat tenaga Selva mendorong tubuh Marvin yang terus berdiri tegak seperti patung. Namun disaat bersamaan, Asisten pribadi Narendra membuka pintu dari luar.
Melihat kedatangan Narendra, Selva langsung melepaskan Marvin dan mengucapkan selamat datang sembari menundukkan kepalanya.
"Selamat datang Tuan."
Narendra hanya menganggukkan kepalanya dan menatap Marvin yang berdiri di sebelah Selva.
"Papa senang karena akhirnya kamu mau datang," ucap Narendra yang membuat Selva melongo mendengar ucapan Narendra
"Papa?" batin Selva yang kemudian menatap Marvin.
"Tuan muda... ini jas nya Tuan." seorang asisten perempuan datang memberikan jas hitam yang sebelumnya Marvin lepas. Membuat Selva semakin bingung apa yang tengah terjadi di depannya.
"Sudah ku bilang Aku tidak betah memakai pakaian seperti ini terlalu lama!" ucap Marvin kesal.
"Tapi Tuan..."
"Sudah biarkan saja," ucap Narendra kepada asisten perempuan itu.
"Hah! Tuan muda? Jadi Marvin putra Tuan Narendra? Pak Direktur di Cafe ini, Jadi itu artinya Marvin Bos ku?" batin Selva yang kini hatinya merasa campur aduk.
__ADS_1
Selva kembali menatap Narendra yang melangkah mendekati Marvin dan memeluknya, Seolah memberi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak pikiran Selva.
Bersambung...