
Setelah puas menggoda Selva, Marvin terdiam mengingat tentang bayi yang Selva ceritakan tempo hari. Ia masih merasa penasaran dimana bayi Selva. Apakah ia terlahir dengan selamat atau...? Marvin bertanya-tanya dalam hatinya dan memberanikan diri untuk bertanya nasib bayi itu.
"Selva, Tentang bayi mu..." Marvin menghentikan ucapannya melihat Selva yang langsung menatapnya tajam.
"M-maaf," ucap Marvin yang tidak melanjutkan pertanyaannya dan beranjak bangun dari duduknya. Kemudian meraih selimut yang tergeletak di ujung ranjang untuk menutupi sebagian tubuh Selva.
"Beristirahatlah, Panggil Aku jika kamu membutuhkan sesuatu," ucap Marvin yang kemudian melangkah pergi.
"Bayiku lahir dengan selamat."
Perkataan Selva menghentikan Marvin yang kembali berbalik badan menunggu cerita selanjutnya.
"Berjenis kelamin perempuan dan usianya sudah dua tahun lebih. Dia di rawat oleh teman satu sel ku yang sudah lebih dulu keluar saat usia bayiku belum genap empat puluh hari. Meskipun Aku sangat berat hati berpisah dengan nya, Tapi itu lebih baik daripada dia harus tinggal lebih lama di dalam penjara."
Mendengar itu, Marvin kembali duduk di samping Selva.
"Tapi... Apa kamu boleh menemuinya?"
"Ya, Mbak Ratna tidak pernah melarang ku untuk menemui bayiku kapanpun Aku mau. Dia sangat baik. Meskipun kami tidak memiliki hubungan darah tapi dia merawat bayiku dengan ikhlas tanpa imbalan sepeserpun."
"Kapan terakhir kamu menemuinya?" Marvin masih begitu tertarik dengan cerita Selva tentang bayinya. Seakan tak sedikitpun ia memandang hina Selva karena telah melahirkan anak di diluar pernikahan.
__ADS_1
"Aku terakhir menemuinya saat Aku baru keluar dari penjara, Dia sudah bisa jalan, Udah banyak ngoceh juga." Selva tersenyum mengingat kelucuan putri kecilnya. Dimana saat ia datang, Putri kecilnya mendekat dan mengajaknya bersalaman seperti yang Ratna ajarkan.
"Kamu merindukannya?" tanya Marvin yang melihat senyuman Selva.
"Yah..."
"Kapan-kapan kita bisa melihatnya."
Mendengar Marvin berkata demikian Selva begitu bahagia dan berpikir Marvin juga menaruh hati kepadanya. "Ahh... Kepedean banget sih Aku," ucap Selva dalam hatinya.
"Ya sudah, Aku balik ke kamarku dulu yah, Panggil Aku jika kamu membutuhkan sesuatu." Marvin beranjak bangun dan kembali melangkahkan keluar. Namun lagi-lagi Selva menghentikannya
"Ya..."
Selva terdiam bingung ketika Marvin kembali menoleh menatapnya. Hatinya merasa tidak ingin Marvin pergi meninggalkannya, Tapi apa yang akan Marvin pikirkan jika ia mengatakan padanya agar tetap berada di kamarnya? Selva terus berpikir apa yang terjadi dengan hatinya. Kenapa sejak kemarin ia merasa begitu nyaman dan aman bersama Marvin, Padahal sebelumnya ia begitu tak peduli dengannya.
"Gadis lima lapan?" Marvin memberikan isyaratnya jika dia menunggu Selva bicara.
"E-tidak, Pergilah!"
Marvin mencebikan bibirnya sembari mengangkat kedua bahunya kemudian melangkah keluar tanpa bertanya lagi.
__ADS_1
"Kok langsung pergi sih, Gak peka banget." gumam Selva yang masih berharap Marvin menoleh sebelum ia meninggalkan kamarnya. Namun hal itu tidak terjadi sehingga membuat Selva yang merasa sedikit kesal menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
•••
Setelah hari itu, Selva dan Marvin semakin dekat.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama baik di dalam kost-an maupun di luar kost-an. Seperti hari ini Marvin baru saja menemani Selva menemui putrinya. Meskipun Marvin tidak pernah berjanji, Tapi Marvin memenuhi apa yang pernah ia ucapkan. Membuat Selva semakin merasa yakin jika Marvin memiliki perasaan sama seperti yang ia rasakan.
Setelah Marvin mengantarkannya ke kamar, Selva tak dapat menahan kebahagiaannya. Sebuah kebahagiaan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan dalam hatinya kini kembali menyinggahinya.
Ya, Sebuah perasaan cinta yang entah sejak kapan tumbuh subur di hatinya. Yang jelas semenjak mereka sering menghabiskan waktu bersama, Dan Marvin memperlakukannya dengan sangat dewasa membuat Selva yakin akan perasaannya. Yakin jika sosok lelaki seperti Marvin lah yang ia cari.
"Tapi apakah Aku pantas untuk Marvin?" pertanyaan itu terbersit dalam pikirannya. Membuat Selva merasa ragu apakah Marvin juga menyukainya atau tidak. Terlebih selama ini Marvin hanya menunjukkan sikap dan tindakan tanpa pernah bicara mengarah tentang apa yang ia rasakan kepadanya.
"Arghhh... Aku bisa gila jika hanya bertanya-tanya dalam hati seperti ini, Aku akan menanyakannya langsung kepada Marvin. Tapi... Apakah apakah pantas Aku bertanya terus terang pada Marvin tentang perasaannya kepada ku?" Selva kembali ragu untuk menanyakannya kepada Marvin.
Selva berpikir sejenak memikirkan apa yang harus ia lakukan. Kemudian ia berbaring dan mencoba memejamkan mata berharap bisa tidur dan melupakan keresahannya sejenak, Akan tetapi hatinya justru semakin resah sehingga ia tidak dapat menahan diri untuk keluar menemui Marvin di kamarnya.
Baru saja Selva keluar dari kamarnya, Selva kembali bersembunyi di balik pintunya ketika melihat Marvin tengah berbicara dengan seorang Wanita yang berdiri di depan pintu kamarnya. Selva berusaha mendengar apa yang mereka bicarakan, Tapi belum sempat ia mendengar apapun, Hatinya di ipatahkan dengan melihat Marvin yang menyuruh wanita itu masuk ke kamarnya.
Bersambung...
__ADS_1