
Selva terus melihat Marvin yang berbincang dengan Ayahnya. Mencoba mendengar pembicaraan mereka sembari berpura-pura melakukan pekerjaannya. Dalam hatinya, Selva masih belum percaya jika Marvin yang selama ini dikenalnya sebagai pria menyebalkan dengan berpenampilannya yang sangat sederhana ternyata putra pemilik Cafe tempatnya bekerja. Bahkan pekerjaannya sehari-hari hanya sebagai pelayan di sebuah Coffee shop.
"Ngomong-ngomong Coffee shop..." Selva menjeda ucapan di dalam hatinya ketika mengingat pertemuannya dengan Marvin di sebuah Coffee shop beberapa waktu lalu.
"Apa jangan-jangan Coffee shop itu juga miliknya?"
"Apa yang kamu pikirkan?"
Pertanyaan Marvin mengagetkan lamunan Selva yang masih mencari jawaban atas pertanyaannya. Bahkan begitu asyiknya ia melamun membuat Selva tidak menyadari jika kini Marvin telah berdiri tepat di depannya.
Selva mengalihkan pandangannya kesana-kemari. Tak tahu apa yang harus di lakukan mengingat kini Marvin adalah bos-nya. Suasananya benar-benar terasa canggung tidak seperti saat mereka berada dalam satu kost-an.
"M-maaf Tuan, Saya harus melanjutkan pekerjaanku." akhirnya kata itu terlontar untuk menghindari Marvin.
"Gadis lima lapan..."
Marvin menghentikan Selva dengan menggenggam lengan bagian atas. Membuat Selva semakin merasa gugup melihat kesana kemari khawatir ada karyawan lain yang melihatnya.
"Bersikaplah seperti biasanya, Aku tidak suka kamu bersikap seperti itu kepada ku."
__ADS_1
"Tapi... Mana mungkin Tuan, Anda adalah Pak Direktur di sini."
Mendengar itu, Marvin menyeret Selva ke ruangan yang di khususkan untuk dirinya. Tak peduli perbuatannya di lihat oleh beberapa karyawan yang di lewatinya.
Jebrettt...!!! Marvin membanting pintu kuat-kuat sembari melepaskan cengkeramannya. Kemudian mendekati Selva yang terus melangkah mundur mengikuti pergerakan Marvin yang semakin dekat. Hingga langkah itu terhenti ketika tak ada lagi ruang untuk dirinya mundur setelah menabrak dinding di belakangnya.
"Mau lari kemana lagi?" tanya Marvin yang mencondongkan tubuhnya dengan satu tangan sebagai penyangga tepat di sebelah kanan kepala Selva. Menjadikan jarak wajah keduanya begitu sangat dekat. Membuat jantung Selva semakin berdebar dengan kencang mengingat perasaan cinta yang ia miliki untuk Marvin.
"Aku dapat mendengarnya."
"Hah!? A-a-apa?" tanya Selva tergagap.
Seketika itu juga Selva langsung menundukkan wajahnya menyembunyikan rasa malunya karena Marvin mengetahui jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Namun yang Marvin lakukan justru semakin membuat Selva seakan tak bisa bernafas saat tiba-tiba Marvin mengangkat dagunya dan memberikan kecupan lembutnya di pipinya yang merona.
Selva membulatkan kedua matanya dengan sempurna saat bibir itu menempel cukup lama di pipinya. Bahkan pipinya terasa basah saat Marvin tak kunjung menarik kembali kecupannya. Namun meskipun begitu entah kenapa Selva hanya diam menikmati hingga Marvin melepaskannya dan mengukir senyum termanisnya.
"Kamu menyukainya?" goda Marvin.
Mendengar itu Selva langsung mendorong tubuh Marvin menjauh darinya. Kemudian Selva menunjukkan kekesalannya untuk menutupi rasa malunya yang telah membiarkan Marvin menciumnya.
__ADS_1
"Kamu pikir kamu siapa, Jangan mentang-mentang kamu Direktur di Cafe ini lalu seenaknya saja memperlakukan karyawan mu!"
Mendengar omelan Selva, Marvin hanya tersenyum. Ia menatap Selva yang tidak berani menatapnya saat memarahi dirinya. Kemudian Marvin menarik tangan Selva hingga tubuh keduanya merapat sempurna.
"Aku mencintaimu."
Seketika itu juga Selva merasa bibirnya kelu. Tak dapat mengucapkan sepatah katapun mendengar apa yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Sejak Aku melihat mu, Aku begitu tertarik kepada mu, Tapi kamu begitu misterius sehingga Aku ragu dengan perasaan ku. Tapi setelah Aku mengetahui semua tentang dirimu, Aku tidak merasa ragu lagi."
"J-jika itu benar, Kenapa kamu tidak mengatakan sejak lama?" Selva memasang wajah tak peduli meskipun di hatinya tengah melompat bahagia.
"Karena Aku ingin menunggu waktu yang tepat. Dan sekaranglah waktu yang tepat dimana kamu telah mengetahui siapa diriku sebenarnya."
"Ya. Dan sebenarnya kamu orang kaya yang tengah berpura-pura miskin."
"Aku tidak pernah berpura-pura, Aku menjalani hidup sesuai kemampuan ku, Karena kekayaan dan bisnis ini semua milik Papa."
Selva terenyuh mendengar apa yang Marvin katakan. Ia semakin merasa kagum melihat Marvin yang tidak sedikitpun membanggakan kekayaan orang tua. Terbukti dengan relanya Marvin tinggal di kost-an sederhana dan menjalani hidup layaknya orang yang tidak memiliki banyak kekayaan.
__ADS_1
Bersambung...