Masa Lalu Kelam Gadis - 058

Masa Lalu Kelam Gadis - 058
Flashback


__ADS_3

Selva tertawa terbahak-bahak sampai menengadahkan kepalanya ke atas. Ia terus menertawakan kebodohan Ganindra yang begitu mudah masuk perangkapnya hanya karena melihat penampilannya sekarang. Bahkan begitu butanya akan perasaannya pada Selva, Ganindra sampai tega menyiksa istrinya dengan begitu sadisnya.


Kini Ganindra harus menanggung semua kejahatan yang dilakukannya. Bukan hanya harus mendekam di penjara karena percobaan pemerkosaan terhadap Selva, Namun Ganindra juga di jerat pasal lain tentang penganiayaan terhadap Hilda yang di laporkan oleh putranya sendiri. Tidak cukup sampai di situ, Perusahaan yang menjadi kekuatannya. Sumber mata uangnya untuk membeli apapun termasuk membayar pengacara dan saksi palsu untuk menjebloskan Selva ke penjara, Kini tengah diambang kehancuran.


Tidak tahan lagi mendapat hinaan Selva. Ganindra bangkit dan langsung mencekik leher Selva. "Berrraninya kamu melakukan ini kepadaku!!!"


Selva kesulitan untuk bicara ketika tangan kekar itu semakin kuat mencekik lehernya.


"Ayo tertawa lagi sebelum Aku menghilangkan suara mu seperti Aku menghilangkan suara Hilda!"


Tanpa ampun Ganindra mencekik Selva. Rasa cinta dan ingin memiliki yang sebelumnya begitu menggebu-gebu kini berubah seperti malaikat yang siap mencabut nyawanya. Beruntung petugas yang sejak tadi mengawasi mereka menyelamatkan Selva sebelum nyawanya terpisah dari raganya.


"Uhuk... Uhuk..." Selva membungkuk memegangi lehernya yang terasa begitu sakit. Sementara Ganindra yang belum merasa puas mencekik Selva, Berusaha melawan petugas sehingga petugas berteriak meminta petugas lain datang dan menyeretnya kembali ke sel.


"Apa Anda baik-baik saja?" tanya petugas kepada Selva.


Selva hanya mengangguk. Kemudian keluar dari ruang penjengukan. Setelah itu Selva kembali ke portir untuk mengambil barang titipan serta mengembalikan kartu kunjungan pada petugas.


•••


Marvin yang melihat kedatangan Selva dengan langkah terhuyung-huyung bergegas mendekatinya dan menawarkan diri untuk membantunya.


Meskipun sebelumnya Selva menolak tawaran Marvin. Namun karena tubuhnya yang terasa begitu lemah membuat Selva bersedia menerima bantuannya.


Marvin menopang tubuh Selva, Memapahnya naik ke kamar dengan posisi tangan Selva merangkul pundaknya. Sementara tangan Marvin berada di pinggang Selva untuk menjaganya agar tidak sampai terjatuh.

__ADS_1


"Hati-hati," ucap Marvin begitu sampai di kamar dan membantunya berbaring.


Melihat Selva hanya diam dengan tatapan kosong dan meneteskan air mata dari ujung matanya. Marvin menyadari leher Selva yang memerah bahkan cenderung menghitam.


"Gadis lima lapan, Kenapa dengan leher mu, Apa sesuatu terjadi kepada mu, Kenapa kamu bersedih?"


Mendapat pertanyaan itu, Selva menoleh ke arahnya dan semakin deras mengeluarkan air matanya.


"Marviiin..." ucap Selva yang langsung menumpahkan kesedihannya di dada Marvin yang duduk menghadapnya.


Secara naluriah Marvin mengangkat tangannya untuk mengusap kepala dan bahu Selva. Mencoba menenangkannya meskipun ia tidak tahu permasalahannya.


"Jika kamu mempercayai ku, Kamu bisa menceritakannya kepada ku," ucap Marvin yang merasa di balik sikap cuek Selva selama ini, Terdapat rahasia yang membuatnya bersedih.


Marvin begitu terkejut mendengar jawaban Selva, Ia mencoba melepaskan diri namun Selva semakin mempererat pelukannya.


"Aku mohon, Sebentar saja."


Meskipun awalnya Marvin merasa ragu, Namun akhirnya Marvin melakukan apa yang Selva inginkan. Berharap itu bisa mengurangi kesedihan yang Selva rasakan.


"Saat Aku masih kelas delapan..." Selva mulai menceritakan kisah masa lalunya. Dimana seharusnya ia memanfaatkan beasiswa nya untuk menimba ilmu dan meraih cita-cita nya, Justru ia terjebak dalam cinta dan pergaulan bebas dengan kalangan atas yang mengakibatkan dirinya hamil diluar nikah.


Sebelum pihak sekolah tahu tentang kehamilannya, Selva nekat datang ke rumah Ganindra karena Galvin enggan bertanggung jawab dengan alasan mereka masih terlalu kecil untuk menikah apalagi harus mempertahankan kehamilan itu. Oleh sebab itu Galvin menyarankan Selva untuk menggugurkannya. Akan tetapi Selva yang merasa takut untuk melakukannya, Tidak menyetujui itu dan memilih mengadukan ini kepada keluarga Galvin tanpa sepengetahuannya.


Aduannya pun di terima dengan baik oleh Ganindra yang saat itu berjanji akan bertanggung jawab dan menikahkan keduanya. Namun janji tinggalah janji, Karena yang terjadi berikutnya, Ganindra menjebak Selva dengan meminta Galvin menjemput Selva di rumahnya. Dan pada saat itulah Ganindra meminta dua anak buahnya untuk menghajar Galvin tepat di depan rumah Selva.

__ADS_1


Peristiwa itupun langsung di dengar oleh warga setempat yang langsung berbondong-bondong menolong Galvin yang tengah di aniaya. Tak terkecuali dengan Selva yang baru keluar dari dalam rumahnya melihat Galvin yang sudah babak belur di keroyok oleh dua orang yang tidak ia kenal.


Dan yang paling mengejutkan untuk Selva adalah ketika kedua orang penganiayaan itu di interogasi oleh para warga dan kepala desa setempat, Kedua pria itu mengaku di suruh oleh Selva karena Galvin menolak cintanya.


"Itu bohong..." teriak Selva.


"Kami ada buktinya," ucap salah satu pria itu sambil menunjukkan bukti percakapan mereka melalui pesan singkat.


"Itu nomor kamu kan?" tanya pria itu lagi.


Selva memperhatikan dengan seksama. Dan nemang benar nomor itu adalah nomor ponselnya. "Tapi bagaimana bisa, Siapa yang mengirimkan pesan itu?" batin Selva.


Selva ingin mengatakan yang sebenarnya pada warga. Namun ia tidak ingin warga mengetahui kehamilannya dan membuat malu keluarganya. Karena itulah ia tidak bisa banyak menyangkal atas apa yang dituduhkan kepadanya.


"Sekarang sudah terbukti, Laporkan saja dia ke polisi!" teriak seseorang yang tiba-tiba menyusup diantara keramaian. Ya pria itu juga anak buah yang di kirim Ganindra untuk memprovokasi warga.


"Lihatlah, Pria itu terbaring tak berdaya, Bagaimana jika dia kehilangan nyawanya?" ucap pria itu lagi.


"Cepat bawa dia ke rumah sakit, Jika tidak dia akan mati."


Karena provokasi itu, Sebagian warga membawa Galvin ke rumah sakit, Sementara yang lainnya membawa Selva ke kantor polisi.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Selva pun tidak dapat mengelak dari tuduhan itu karena semua bukti dan saksi menyudutkannya sehingga Selva terbukti bersalah dan harus mendekam di penjara dalam keadaan hamil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2