
Jam menunjukkan pukul lima sore, Ningsih dan Amel baru meninggalkan pusat perbelanjaan yang termewah di kota itu.
"Mang, kita menuju rumah Amel dulu ya," perintah Ningsih kepada Mang Udin, supir pribadinya.
"Baik, Nyonya."
Dalam tempo tiga puluh menit, Amel tiba di rumah kontrakannya.
"Bu, gimana kalau kita masuk dulu?"
"Lain kali saja ya, Mel. Kaki ibu sudah pegal, mau istirahat."
"Mang, tolong bantu Amel bawa barang belanjaan tadi." Amel membalikkan tubuhnya kembali saat mendengar ucapan Ningsih.
"Bu, itu..."
"Iya, itu buat kalian semua. Ibu tidak mau jika dibantah," ucap Ningsih dengan tegas.
"Tapi itu terlalu banyak dan harganya sangat mahal."
__ADS_1
"Yang kamu berikan kepada kami itu lebih berharga dari semua barang yang kita beli tadi. Jadi, mohon jangan ditolak," ucap Ningsih memohon.
Dengan berat hati, Amel menerima semua barang yang diberikan Ningsih kepada dia.
"Makasih, Bu." Amel memeluk tubuh Ningsih dengan penuh haru.
"Iya, sayang. Ibu pamit dulu ya." Amel menatap mobil yang dinaiki Ningsih hingga menghilang.
Amel merebahkan tubuhnya, terasa lelah. Persendian kakinya rasanya mau lepas.
"Mel, banyak banget nih belanjaan kamu." Susi duduk di sebelah Amel.
"Itu semua pemberian Ibu Ningsih," jawab Amel.
"Emang kamu dari mana aja kok kelihatan capek banget?"
"Satu hari ini, Bu Ningsih membawa ku keliling pusat perbelanjaan."
"Wah, seru dong, Mel, di belanjaan barang mewah gini."
__ADS_1
"Apa kamu pikir barang-barang ini bisa dipakai setiap saat? Barang-barang ini hanya akan memenuhi lemari aku yang kecil itu," cela Amel.
"Mel, baju-baju ini bisa dipakai untuk jalan atau kondangan."
"Orang seperti kita mau kondangan dimana? Udah ah, aku mau mandi dulu, badan ku lengket semua." Amel meninggalkan Susi yang masih bengong melihat barang mahal yang ada di kamar itu.
Susi merasa bahwa Amel sangat beruntung mendapatkan perhatian dari Ningsih, namun bagi Amel, itu adalah beban karena Amel sudah terbiasa hidup mandiri dan Amel bukan tipe cewek yang gila dengan kemewahan.
Sementara sebuah mobil yang sejak tadi berhenti di depan kafe XX, pengendaranya yang ada di dalam mobil tersebut terlibat murung karena apa yang dicari tidak terlihat.
"Ah, sial, kemana dia?" Andika marah-marah sendiri di dalam mobil miliknya.
"Aku seperti orang bodoh menguntit di kafe milikku sendiri, sungguh memalukan," Andika bersandar di badan kursi mobilnya. Dirinya bingung dengan sikapnya. Jelas-jelas sekarang kekasihnya sedang marah, namun dirinya tidak memberikan penjelasan atau merayu Rosa seperti yang biasa Andika lakukan, tapi dirinya seperti orang bodoh menunggu seseorang yang tidak pasti. Sebenarnya, Andika bisa duduk santai di dalam kafe miliknya dan menanyakan orang tentang Amel kepada Johan sang manajer. Dengan wajah murung, Andika meninggalkan parkiran kafe itu.
Dengan langkah gontai, Andika masuk ke dalam rumah.
Ting! Suara notifikasi dari hp milik Andika. Mata Andika melotot melihat hasil notifikasi dari hp miliknya.
"Mama, ma," Andika berjalan dengan cepat mencari keberadaan sang ibunya.
__ADS_1
"Ada apa sih, Dika teriak-teriak?" Omel Ningsih bertanya kepada putranya.
Andika begitu melihat mamanya langsung memberikan hp kepada mamanya untuk melihat notifikasi yang ada di hpnya,Ningsih hanya menatap hp milik dika dan membolak balik kan benda pipih itu