
Amel terkejut saat tiba-tiba ada seorang yang memeluknya. Wanita paru baya itu menangis dalam pelukan amel. Amel hanya bisa mengelus punggung wanita paru baya itu untuk memberi ketenangan.
"aku gak tau apa yang bakal terjadi pada diri ku bila sesuatu terjadi pada putra ku, dia anak satu-satunya yang kami miliki" Ningsih menangis dalam pelukan amel serta mengeluarkan seluruh keluh kesah nya, seolah-olah dia yakin kalau amel dapat mengurangi bebannya.
"nyonya yang tenang ya, aku yakin tuan Arga pasti bisa mengatasi masalah ini, sebaik nya anda berdoa semoga semua bisa terkendali." amel memberi semangat kepada wanita paru baya itu dan juga memberikan semangat kepada dirinya sendiri.
"dokter apa kami bisa melihat kondisi putra kami ." Arga memohon kepada dokter yang merawat putranya.
"baik lah tapi hanya sebentar saja" dokter itu mengijinkan Arga masuk.
"pergilah nyonya anda harus melihat kondisi putra anda" amel melepas pelukannya dan menuntun Ningsih menuju pintu ruangan dimana putranya di rawat.
Amel menatap wanita itu hingga hilang dari pandangannya, amel tidak tau apa dirinya bisa tetap tegar seperti ini bila nanti dokter memberi berita buruk yang terjadi kepada roby
__ADS_1
"keluarga roby"suara dokter tersebut membuyarkan lamunan amel.
"saya keluarganya dok"jawab amel dengan jantung berdekap dengan cepat karena merasa kuatir.
"bagai mana kondisi calon suami saya dok "amel berusaha tetap tegar.
"saudara roby dalam keadaan kritis, Benturan yang terjadi pada kepalanya menyebabkan pendarahan hebat pada otak nya, kita hanya mengharap kan mujijat dari Tuhan untuk kesembuhan nya."dokter tersebut menjelaskan pada amel.
"kami sudah berusaha semampu kami,tapi hanya ini yang bisa kami lakukan "wajah dokter tersebut terlihat sangat lelah karena enam jam lamanya di ruangan operasi sampai melewatkan makan siang nya.
"berdoa semoga tuhan memberikan mujizat nya kepada tuan roby "dokter itu memberikan dukungan kepada amel.
"apa saya boleh melihatnya dok"amel menatap kosong pintu ruangan rawat roby.
__ADS_1
"silakan "ujar dokter tampan itu
Dengan langkah sangat hati-hati amel masuk kedalam ruangan yang bau obat obatan yang menusuk hidung,
Mata amel memandang seorang pria yang sangat di cintai nya terbaring tak berdaya, amel merasa, tubuhnya di bantu oleh selang yang menempel ada dimana-mana, wajah pria itu sangat pucat seolah-olah tidak di alirin oleh dara.
Amel berjalan mendekati ranjang tempat roby berbaring, dada amel terasa sesak melihat kondisi roby yang sangat memperhatinkan. Air mata yang tadi tidak mengalir kini mengalir dengan deras membasahi pipi amel, tangis amel pecah memenuhi ruangan tersebut.
Amel menggenggam jari roby dengan erat dan mencium jari tangan yang tertancap jarum impus tersebut.
Ingin rasa memeluk tubuh pria yang sangat dicintainya itu untuk melepas rindu yang mendalam di hatinya
"sayang …buka mata mu, lihatlah aku apa kamu tidak merindukan ku.
__ADS_1
Sayang kamu udah janji tidak akan meninggal kan aku dan janji tidak membuat ku menangis jadi sekarang buka lah matamu, aku mohon"ucap amel diselah tangis pilu nya, namun tidak ada yang berubah dengan keadaan roby.
Roby masih saja terlelap dalam tidur panjang nya dan tidak merasa terusik dengan suara tangis pilu amel.