
"Kamu ikut saya keruangan saya" ucap Pak Wendy sambil berjalan duluan. Sarah yang pikirannya bercampur aduk menjadi tidak konsentrasi. Sampai sampai mereka telah berada di ruangan Pak kepsek itu.
"Kamu menjawab soal ulangan harian dengan kejujuran atau tidak?" Tanya Pak Wendy dengan tegas.
"Tentu pak orang tua saya mengajarkan saya berbuat jujur dan saya tau bahwa apa yang saya lakukan salah atau benar" ucap Sarah terus terang dan tegas tapi masih sopan.
"Begitu.. saya ada kabar kalau kamu menyontek pada saat ulangan berlangsung apa benar?" Tanya pak kepsek. Sarah pun mengerutkan dahinya.
"Tidak saya tidak menyontek" jawab Sarah tegas. "Tapi temanmu mengatakan kalau kamu menyontek" Sarah terkejut mendengar penuturan pak kepsek. Di otaknya sudah bermacam macam pertanyaan yang ingin di lontarkan.
"Siapa yang melapor pak?" Pak kepsek sedikit kebingungan mungkin dia hampir lupa nama siswa yang melaporkan kejadiannya.
"Namanya Naudya. Naudya Farista" Sarah makin dibuat terkejut. *siapa naudya farista? Tidak ada nama itu dikelasku* pikirannya bercampur aduk kembali.
"Saya tidak punya teman sekelas yang bernama Naudya Farista pak" sekarang pak kepsek yang dibuat bingung dengan jawaban Sarah. "Herry kemari" panggil pak kepsek ke ketos yang di bilang pendiem itu.
"Kamu panggil anak yang namanya Naudya Farista dikelas 11 Ipa 3 sekarang" tanpa basa basi ketos teladan itu pun pergi untuk memanggil Naudya.
__ADS_1
Tak berselang lama hanya butuh waktu belasan menit saja Herry sang ketos itu sudah datang dengan Naudya Farista itu.
"Naudya~"
"Maaf pak ini salah saya.. saya terpaksa melakukan ini karena tidak ingin kehilangan nyawa saya. Sebenarnya saya diancam jika tidak melakukannya maka saya akan dibunuh oleh..." seketika anak bernama Naudya itu mendadak diam.
"Kenapa diam?! Siapa yang mau membunuhmu?! Jawab!" Teriak pak kepsek kepada Naudya. "A..anu..pak..itu.." ucap Naudya terbata bata.
"Katakanlah agar kami bisa mencari solusi untukmu" tutur Sarah dengan lembut tak lupa senyumnya slalu mengembang.
"Firlyana pak" Naudya menunduk sedangkan Pak kepsek malah membulatkan matanya dan Sarah kebingungan sendiri.
"Huftt akhirnya selesai sudah sidangnya" gumam Sarah yang letih dengan percakapan didalam.
"Ciyeee habis yang dari ruang kepsek.. ngapain sih?" Endra tiba tiba datang didepan Sarah. "Apaan sih" ucap Sarah sedikit salting. Wkwk.
"Sarah! Kamu gapapa kan?" Tanya Teo yang tiba tiba muncul. "Aku? Eh aku nggak papa kok" Sarah sedikit bingung sementara Endra menatap sinis Teo sedangkan yang ditatap tidak peduli. Duh kacian...
__ADS_1
"Kenapa tadi?" Tanya Teo perhatian membuat Endra kesal ingin mencekik lehernya. "Ga papa"
Waktunya jam ke-7...
"Yaudah aku masuk dulu yaa" ucap Sarah dan pergi meninggalkan sepasang musuh itu. Mereka saling menatap sinis satu sama lain hingga akhirnya Naudya keluar dari ruangan pak kepsek.
*duh horor banget sih* batin Naudya. "Nau tadi kenapa?" Tanya Teo yang penasaran. "Jadi.." Naudya pun menjelaskannya tanpa ada yang terlewatkan.
"Anak anak sekarang saya akan membagikan hasil ulangan harian bahasa indonesia kalian" ucap Pak Banu dengan membawa beberapa tumpuk kertas.
Seisi kelas menjadi hening karena banyak anak sedang berkomat kamit membaca doa termasuk Putri. Sarah hanya sekedar melihat yang dilakukan teman seisi kelasnya dengan menggelengkan kepala.
"Sarah lebih tingkatkan nilaimu yaa kurang sedikit lagi" ucap Pak Banu sambil memberi kertas ulangan Sarah. "Putri.. kamu harus mencapai nilai 90 dulu aja yaa semangat" ucap Pak Banu dengan diiringi tawa dari Putri.
"Rara sama kayak Sarah kurang sedikit lagi yaa" Rara menerima lembaran kertas ulangan yang diberi Pak Banu. "Leola udah bagus sekarang kamu lebih tinggikan lagi nilaimu ya" ucap Pak Banu lalu memberikan Leola kertas ujiannya.
"Makasih pak Banu" ucap keempat gadis itu diikuti dengan senyum dari masing masing diantara mereka sedangkan Pak Banu sibuk membagikan nilai ujian kepada yang lainnya.
__ADS_1
"Kalian nanti latihan ya?" Tanya Rara kepada ketiga temannya yang mengangguk dengan cepat.
--GMW--