Mekarnya Bunga Cinta

Mekarnya Bunga Cinta
Episode 16


__ADS_3

"I love you"


Sarah terpaku dengan kata kata yang baru di ucapkan Endra. Sarah menatap Endra dengan memiringkan kepalanya.


"Aku mencintaimu Sarah. Jadi..~" Sarah menatap Endra dengan tatapan yang berarti 'jangan dilanjutkan'. Sarah menarik nafas sebelum bicara.


"Maaf aku nggak bisa" Endra tersenyum lalu membuat Sarah makin bingung di buatnya. "Nggak bisa nolakkan?" Sarah menggeleng.


Kini semyuman di wajah Endra berubah menjadi muka datar karena kata kata 'aku nggak bisa jadi pacarmu' yang baru saja dilontarkan oleh Sarah. Baginya itu seperti tamparan keras di siang bolong untuknya.


"Tapi...kenapa? Aku kurang apa Sarah?" Sarah menundukkan kepalanya karena sebenarnya dia tidak ingin ini terjadi.


"Apa selama ini kau menyukaiku?" Tentu saja Endra mengangguk dengan cepat.


"Maaf di dalam hatiku memang tidak ada isinya tapi aku menganggapmu dan Kak Herry sebagai saudaraku sendiri. Dan bagiku Saudara adalah saudara pacar adalah pacar. Jadi saudara tidak bisa menjadi pacar dan pacar tidak bisa menjadi saudara"


Endra semakin terpukul mendengar penuturan dari Sarah. Orang yang dicintainya selama ini.


"Dan aku juga tidak menyukaimu atau siapa pun percuma saja bila aku menerimamu karena nanti akan menjadi cinta bertepuk sebelah tangan saja Endra"


Tak terasa bianglala sudah berhenti dan kini Endra berdiri membuka pintu dan pergi setelah mengatakan 'aku mengerti'.


Sarah melongo di tempat. *bagaimana aku pulang* pikirnya. Tiba tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang yaitu Teo.


"Teo?"

__ADS_1


"Aku liat semuanya. Endra ninggalin kamu disini dan pergi begitu saja" Sarah memalingkan wajahnya.


"Endra cuman ada urusan penting doang" Teo terkekeh dan membuat Sarah bingung. "Aku udah tau semuanya nggak usah bohong"


Sarah menoleh "kamu ngikutin kita ya?" Teo mengangkat bahu dan tersenyum. "Enggak. Kamu aja yang ga bisa boong"


"Kamu yang boong tau. Au ah aku mau pulang" Teo menggelengkan kepalanya dan segera mengejar Sarah yang menjauh.


"Pulang bareng gimana aku juga mau pulang" Sarah tetap meneruskan jalannya yang kian cepat. *oh main kejar kejaran ya?* batin Teo.


Ia segera berlari dan menangkap Sarah lalu mengilikitinya. "Eh Teo keri tau" seketika tawa dari mereka menggelegar.


"Dah yuk pulang" ajak Sarah pada Teo.


Kruyukkk


"Tapi..."


Teo menoleh dan mengatakan "aku juga belum makan siang" sambil tersenyum.


I n-t h e-c a f e


"Mba pesen bakso 2 sama milk tea 2" ucap Teo kepada pelayan cafe yang mereka tempati sekarang.


"Eh mba yang satu isinya pentol aja yaa" ucap Sarah. Teo hanya menatap gadis yang mendengarkan lagu dari handphonenya.

__ADS_1


Setelah makanan tiba mereka makan dan dengan berbincang bincang entah apa. Saking seriusnya mereka tidak menyadari bahwa ada yang mengawasi gerak gerik mereka.


🎑🎑🎑


"Thanks ya udah nraktir trus nganterin pulang lagi ga enak jadinya" Ucap Sarah sambil menggaruk lehernya yang tak gatal.


"Udah ga apa anggep aja itu hadiah dari aku" Sarah malah menjadi bingung sekarang.


"Kan aku ngga ultah trus hadiah apaan?" Teo terkekeh dengan tanggapan Sarah sedangkan Sarah tambah jadi bingung.


"Hadiah udah mau jadi temenku aja. Yaudah aku balik ya" Teo menancapkan gas pergi dari pandangan Sarah.


*lah tadi berangkat ama Danendra sekarang pulang sama Teo. Aneh deh* batin mama rina melihat putrinya pulang dan berangkat dengan orang yang berbeda.


"Eh Sarah tadi kan kamu berangkat sama Danendra sekarang kok beda orang" Dito turun dari tangga dan menghampiri mama dan kakaknya.


"Eh tadi gak sengaja ketemu aja terus si Endra pergi karena ada urusan. Yaudah ma aku ke atas dulu yaa" Sarah berlari menaiki anak tangga.


"Ma.. Dito mau bilang mama harus jaga rahasianya kak Teo kalo mama ketemu sama kak Teo mama pura pura ngga tau aja saalnya kak Teo belum ngasih tau Kakak" Mama Rina hanya manggut manggut mendengarkan penuturan anaknya.


😩😩😩


Krietttt


Pintu terbuka menampilkan seorang pria gagah di depan pintu yang masih memegang gagang pintu.

__ADS_1


gmwo//


__ADS_2