Mekarnya Bunga Cinta

Mekarnya Bunga Cinta
Episode 37


__ADS_3

Sarah berhenti di tempat dan membatu. "Ngg... anu tan hehe nggak papa" Sarah segera keluar dari rumah dengan berlari sangat kencang dan menyalakan mobil menuju ke pabrik tua. Sesampainya disana...


"Y!!!" Sarah menelusuri pabrik tua itu tapi tidak menemukan siapapun disana. "Aku kan sudah bilang jangan teriak" tiba tiba ada sebuah tangan melingkar di pinggang Sarah. Dan tangan itu adalah tangan Y.


"Apa maumu? Dimana Dika?" Sarah melepaskan pelukan dari Y dan mundur perlahan lahan. "Dika ada disini kok yang..." Y menatap mata kiri Sarah yang di tutupi oleh kapas dan ingin membukanya.


"Jangan dibuka!! Dimana Dika?!" Teriak Sarah dengan suara yang bergema membuat Y mundur karena telinganya sakit. "Heh udah berani ya?" Kini Sarahlah yang mundur dengan menodongkan pisaunya.


"Dika ada disini" amarah Sarah telah mencapai puncaknya. "BAWA KEMARI" Y hanya tertawa geli melihat Sarah yang berteriak. Sarah maju perlahan dan terus menodongkan pisaunya.


Sretttt


Kapas yang ada di mata kanan Sarah dilepas oleh Y yang sudah merebut pisau dari Sarah. "Ka...ka..kau" Sarah membelalakkan matanya dan menutupi mata kirinya yang sudah terbuka.

__ADS_1


"BERANINYA KAU!!!" Sarah menendang perut Y dengan kencang sampai Y terpental dan terjatuh dengan penutup wajah yang terbuka. "Eh?! Hah!!" Sarah gagap karena melihat wajah Y yang sebenarnya.


"Dik...dik...ka..??" Sarah terkejut karena selama ini yang di sebut Y adalah dika. "Lebih tepatnya Andika Reno" ucap Dika sambil berdiri meninggalkan Sarah.


Dika pergi ke atap dan menemui Herry yang sengaja ia suruh untuk datang ke sana. "Danendra akan aku jadikan umpan" Herry langsung menoleh ke arah Dika yang berdiri di belakangnya. "Kenapa harus adekku?"


"Karena hanya adikmu yang tersisa" ucap Dika sambil tersenyum kejam. "Tidak~" Dika menatap Herry tajam. "Jika tidak nyawamu, Sarah dan adekmu itu akan melayang" akhirnya Herry hanya bisa pasrah.


Tak lama kemudian Sarah juga keluar dari pabrik dengan rambut yang menutupi mata kirinya. Lalu ia menancapkan gas pergi ke resto dimana ada janji dengan yang lain.


"Dari tadi seperti itu em ralat dia pakai kapas tadi" ucap Richo sambil melanjutkan makan makanannya. "Sarah tu mata kenape?" Setelah Sarah menarik kursi dan duduk pertanyaan dari teman temannya terlontarkan dari mulut mereka.


"Ngga papa" Sarah merapikan rambutnya agar menutupi matanya yang berbeda warnanya. Sebenarnya Sarah ingin pakai soft lens tapi tidak bisa cara pakainya jadi di tutupin doang. "Aku punya berita baru" semua langsung tertarik perhatiannya kepada Sarah dan menghentikan semua aktifitas mereka.

__ADS_1


"Y adalah Dika dan tebakan kita waktu melihat foto Dika itu benar dia adalah Andika Reno hanya saja dia berbohong" semua langsung terbelalak akan penjelasan singkat Sarah. "Kau habis menemui Y.. eh lebih tepatnya Dika?" Sarah mengangguk.


"Dari kemaren malam" Sarah memandangi langit yang sangat indah dan cerah pagi itu. "Nanti sore saja kita datang ke pabrik tua itu" semua mengangguk setuju dengan pendapat Richo.


*


*


"Danendra ikut aku" Ucap Herry saat menjemput Danendra di bandara juanda. Herry berniat membawa adik satu satunya Danendra ke tempat di mana Dika menunggunya. "Kemana?" Herry hanya diam dan dingin. Wajahnya juga tidak menampakkan satu ekspresi pun.


"Ikut saja" Danendra yang tidak tau apa apa tersebut mengikuti kakaknya sampai di pabrik tua. "Apa ini?" Herry menggandeng tangan adiknya masuk ke bangunan tua dan berjalan santai di depannya.


"Dika ini dia" Danendra pun langsung melepaskan tangannya dari tangan Herry lalu menatap Dika dengan kebingungan. "Siapa kau??" Dika hanya menyeringai dan menepuk pundak Danendra.

__ADS_1


"Aku ingin kau berakting sebentar bagaimana??" Tanya Dika sambil menatap wajah Danendra yang mengerutkan dahinya karena masih kebingungan. "Ikat" Herry pun mengambil tali dan mengikat tangan Danendra lalu memojokkannya. "Hah?? Kak?? Apa yang kau lakukan"


Herry hanya menatap sedih adiknya lalu berbisik. "Aku terpaksa".


__ADS_2