
Ting..
Bunyi notifikasi pesan mengalihkan perhatian seorang Sarah Nabila yang termenung menatapi langit malam dengan indahnya sinar bulan dan bintang yang mengelilinginya. Sarah membuka pesan dan membacanya.
||*Dika ada ditanganku ke pabrik tua aku punya informasi
-Y* ||
"Lagi² Y. Haih" Sarah segera bangkit dari kasurnya dan memakai jaket lalu menuruni tangga dengan sangat hati². Semuanya gelap dan sunyi lalu Sarah mengecek satu persatu pintu. Sarah pun keluar dari rumah lalu menguncinya.
Ia bergegas pergi ke pabrik tua dimana pertama kali berurusan dengan Y. "Y!! Keluar kau" teriaknya ketika sampai di ruang tengah pabrik. Tiba tiba ada yang memeluknya dari belakang dengan kencang. "Sssttt jangan teriak² sayang" lalu orang tersebut melepaskan pelukannya.
*suara dan nada bicaranya itu...* Sarah pun menoleh ke arah orang itu dan benar saja orang itu adalah Y. "Dimana Dika" ucap Sarah sambil menodongkan pisaunya. "Sayang kenapa kau terburu buru hm?"
Y semakin mendekat hingga memojokkan Sarah ke tembok. "Apa Dika lebih penting dari nyawamu?" Ucapnya sambil memeluk Sarah yang sudah terpojokkan. "Dika itu temanku dan tidak ada hubungannya dengan masalah kita jadi jangan libatkan orang lain dalam masalah kita"
Lagi² Y menenggelamkan wajahnya ke pundak Sarah. "Baiklah ini yang terakhir. Temui aku besok disini sendirian seperti ini ya" Y melepaskan pelukannya dan mencium kening Sarah. "Hey!!" Sebenarnya muka Sarah memerah padahal dia sedang marah.
__ADS_1
"Ini sudah malam cepat sana" Sarah berjalan pergi menjauh sambil mengusap keningnya dan menggerutu.
"Dasar tidak tau diri. Orang dia yang nyuruh kesini trus pas udah dateng disuruh pulang tuh maunya gimana sih" Sarah mengunci pintu rumahnya kembali dan pergi ke kamarnya.
Setelah melepas jaket Sarah menghempaskan tubuhnya di kasur yang empuk dan dingin. Tiba tiba...
'Hey..'
Sarah terbangun dan menoleh kekanan serta kekiri tapi dia tidak melihat apa apa. 'Aku di belakang' suara itu lagi. Sarah pun menoleh ke belakang. Dan... dibelakangnya terdapat seorang gadis tembus pandang yang seumuran dengannya.
"Haa!!!... han..hantu..." sarah langsung menutupi dirinya dengan selimut dan menutupnya rapat². 'Tenang aku teman Elizabeth'. Sarah akhirnya membuka selimutnya dan menatap mata biru gadis hantu itu.
'Thanks, tapi ingatanku..' Sarah menundukkan kepala karena sedih dengan ingatannya yang dihilangkan oleh Elizabeth. 'Aaaa...anu.. aku.. aku ga tau caranya' Gadis hantu itu tidak menatap mata Sarah lagi.
'Baiklah, siapa namamu?' Pertanyaan Sarah membuat gadis hantu itu menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar. 'Kalau mau kau bisa panggil aku Cici' ucap batinnya sambil melambaikan tangan.
'Aku sa~'
__ADS_1
'Sarah kan? Liza udah bilang ke aku' Sarah tersenyum. Sekian lama setelah kecelakaan dia ingin menjadi seorang indigo yang berteman dengan hantu kini terwujudkan. Meski bukan indigo dan itu hanya sementara.
'Aku akan menemanimu sampai misiku selesai didunia' Sarah yang tadinya menatap langit² kamarnya kini menatap mata biru Cici. 'Misi?' Cici tertawa geli dan menjatuhkan boneka kelincinya. '*Iya aku kesini mempunyai misi'
'Yaitu menyelamatkanmu dari Y yang berbahaya itu*' ucapnya sambil terkekeh. Maksud Cici adalah membantu Sarah melawan Y.
.
.
Keesokan harinya...
Sarah menatap dirinya di cermin kamarnya. Tiba²...
"WHAT?!" mode kedap suara telah diaktifkan sebelum Sarah teriak jadi tidak ada yang mendengar teriakannya kecuali Cici. 'Kenapa sih Sar?'
Sarah menoleh ke arah Cici yang sedang berdiri di depan jendela. 'Mataku kok jadi dua warna gini?' Cici pun menoleh lalu tertawa melihat Sarah yang meneteskan obat mata ke matanya agar kembali seperti semula tapi tidak berhasil.
__ADS_1
"Ini kenapa" Sarah melempar obat matanya ke atas kasur dan menutup matanya dengan kapas agar tidak terlihat aneh. 'Itu karena tubuhmu masih menyempurnakan antara jiwamu dan jiwaku'
Sarah pergi turun ke lantai bawah sambil berlari. "Sarah kenapa mata kirimu?"