
1 jam kemudian..
Semua orang telah keluar dari ruangan Teo dan kini hanya tersisa Sarahh dan Teo yang berbaring lemas diatas ranjang rumah sakit.
"Teo kapan kamu sadar. Kamu tau nggak sih perasaan khawatir mama kamu. Kasian tau mama kamu udah kesana kesini buat ngeliatin kamu tapi kamu ga ada perubahan semenjak masuk rumah sakit"
Sarah masih tetap mengajak Teo berbicara meski tidak ada tanggapan yang biasanya di lontarkan Teo. Dulu mereka sering memberi solusi secara bergantian ya seperti Teo akan memberi solusi jika Sarah ada masalah. Begitu pula sebaliknya.
"Oh iya dua minggu lagi bakal ada pertandingan basket sama sma Kemuning loh masa kamu ngga nyuporterin sekolah sendiri sih? Jadi cepet bangun yaa.. rasanya sepi kalo ngga ada kamu yang biasanya suka bantu aku"
Tak disangka Sarah menitikkan air matanya yang sekarang sudah membasahi pipinya. "Satu lagi, kata Yujin ngga lama lagi kamu ultah ya? Trus kalo kamu ngga bangun ngerayainnya gimana? Yang ultah aja masih tidur panjang gini" Sarah menggenggam tangan Teo erat.
"Eh udah jam tujuh ya? Yaudah aku mau pulang dulu yaa bye" Sarah berdiri dan menatap wajah Teo. "Cepet bangun" bisiknya lalu pergi keluar rumah sakit.
__ADS_1
'ㅠ-ㅠ'
Sarah menatapi dua burung merpati yang ada di batang pohon mangga di depannya. "Sarah" seseorang memanggilnya dari arah kanan. "Arvan?" Ya Arvan duduk di sebelahnya. "Kau melamun ya?" Tebaknya sedangkan Sarah hanya tersenyum.
"Kau pasti memikirkan seseorang. Apa itu Teo?" Sarah seketika menoleh ke arah Arvan. "Kau pintar menebak ya?" Arvan terkekeh. "Jangan memikirkannya lagi Sar aku yakin dia baik baik saja" Arvan mencoba menenangkan Sarah.
Tapi upayanya itu tak berbuah seperti yang diinginkannya. "Hmm aku merasa sedikit kasian pada Tante Desy yang kesana kemari. Apalagi Teo itu anak laki laki satu satunya di keluarga Teo" Arvan terkejut karena Sarah mengetahui latar belakang Teo.
"Apa?" Sarah merasa aneh saat dilihat Arvan.
"Iya sepertinya mereka punya suatu hubungan tersembunyi" Arvan menatap Sarah yang pandangannya tertuju kepada Richo dan Citra. "Salah satu dari mereka tidak mengatakan apa apa padamu?" Sarah menggeleng.
"Woyy" Sarah dan Arvan segera menoleh ke belakang. Dan benar saja disana ada Yujin yanh berteriak tadi dengan temannya yang lain. "Kalian jadi tontonan loh trus denger denger banyak yang patah hati liat kalian ya nggak?" Fatan meyakinkan yang lain.
__ADS_1
"Hooh" ucap mereka semua. "Tapi kan kita nggak bermaksud gitu. Ya kan Sar" Sarah hanya tersenyum menanggapinya.
☺
1 minggu kemudian..
"Sampai jumpa semua" Sarah berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil motornya. Dia menutupi jerseynya dengan jaket dan menaiki motor maticnya pergi menuju rumah sakit cempaka. Ya akhir akhir ini coach wina memperpanjang waktu latihan.
Sesampainya di rumah sakit Sarah langsung menuju kamar dimana Teo sedang di rawat. Pintu terbuka pelan dan menampakkan Mama Desy serta ke 8 temannya. "Assalamualaikum" semua yang ada di ruangan seketika menoleh kearah Sarah.
"Waalaikumsalam" semua kembali memandang Teo yang terbaring lemas. "Gimana keadaan Teo te?" Mama Desy tersenyum dan menoleh ke arah Sarah. "Keadaannya membaik Sar. Alhamdulillah" Sarah pun turut tersenyum "Alhamdulillah te".
*hmm aku menyadari saat aku mengajaknya berbicara meski tidak merespon tapi perkembangannya semakin membaik* batin Sarah dan mulai menunjukkan senyumnya. -kurang satu minggu lagi- kata kata itu terngiang di pikiran Sarah.
__ADS_1
"Eh iya Richo. Kamu ada hubungan apa sama Citra? Atau..kalian pacaran yaa" tanya Sarah kepada Richo yang pura pura tidak mendengar tapi tetap saja tidak berhasil. "Haishh iya iya aku pacaran sama Citra emang kenapa?"
"Emang kenapa? Heh kamu pacaran ga bilang bilang" Sarah langsung pergi menuju jendela dan melihat gedung gedung tinggi. *aku masih tak tau kenapa Elizabeth menghilangkan ingatanku dan pengelihatanku. Kalau dia bilang baik baik kan aku pasti ikhlas*