
"Eemmhh" Richo membuka matanya. Citra dan Teo segera membantunya duduk. Richo membelalakkan matanya ketika melihat adik sepupunya ada di depan Y. "Teo bantu Sarah"
Dor
Peluru hampir saja mengenai lengan kanan Teo. "Jangan kesini" ucap Sarah. "Aaahhh mau panggil siapa? Atau temanmu elizabeth?" Sarah makin bingung dengan pertanyaan Y.
"Siapa Elizabeth?" Sarah memandang Richo meminta penjelasan. "Akh aku akan jelaskan gadis indigo yang amnesia" ucap Y sambil menepuk bahu Sarah.
Flashback on
8 tahun yang lalu..
Hiks
Hiks
Hiks
Sarah mendengar suara tangisan di bangunan rumah yang kotor dan terbengkalai. "Siapa disana?" Dengan suara imutnya ia berteriak meminta jawaban agar bisa melihat siapa yang menangis.
"Aaaaa hantuuu" teriak Sarah dan bersembunyi di balik gorden yang menguning. "Kau bisa melihatku?" Terlihat seorang anak kecil yang membawa boneka teddy bear penuh darah.
"Kau...kau..benar benar han..tu?" Anak itu adalah Elizabeth dan ia mengangguk. "Bagaimana bisa aku melihat hantu?" Elizabeth setara dengan umurnya. Elizabeth hanya diam.
__ADS_1
"Buktinya kau bisa berhubungan batin denganku" Sarah keluar dari balik gorden dan berjalan menuju Elizabeth. "Dimana keluargamu?" Elizabeth hanya menunduk dan menggeleng.
"Aku bisa jadi keluargamu meski tidak ada yang bisa melihatmu kecuali aku" Sarah mengulurkan tangan membantu Elizabeth berdiri.
"Kau baik sekali. Namaku Elizabeth Briani" Sarah tersenyum. "aku Sarah Nabila" sejak saat itu mereka saling membantu dan hidup bersama. Bila Sarah sedih Elizabeth selalu menghiburnya begitu pula sebaliknya.
Flashback off
"Apa kau ingat?" Tanya W kepada Sarah. Sarah hanya menatap darah yang ada disana. Ia mengingat semuanya sekarang hari itu dia ingat hanya hari itu. Dan kecelakaan itu terjadi.
'Sarah aku akan kembali di duniaku yang seharusnya. Pengelihatanmu dan ingatanmu itu sudah aku hilangkan. Jadi kau tidak bisa bersedih karena kepergianku'
Kata kata itu berputar di otak Sarah. Lalu...
Dorr
Satu tembakan berhasil mengenai lengan Teo. Citra hanya bisa menutupi mulutnya yang nenganga dengan tangannya. Richo hanya memperhatikan dari jauh. Teo menodongkan pisau di depan wajah Y.
Mereka memulai pertarungan. Teo yang membawa pisau dan Y yang membawa pistol. Darah mengucur di atas lantai kotor pabrik itu.
B u r a m . . . .
Brukkk
__ADS_1
Pandangan yang asal mula terletak pada Teo dan Y kini beralih ke arah Sarah yang jatuh tergeletak. "SARAH!!!!" Teriak Richo dan segera mencoba memberdirikan tubuh lemahnya.
Belum selesai dengan Sarah, mereka dikejutkan lagi dengan jatuhnya Teo yang sudah bersimbah darah. Sedangkan Y sudah keluar dari pabrik tua itu malahan.
\*^.^\*
Sarah pov
'Anak ibu kekurangan darah dan persediaan kantong darah A sudah habis. Saya akan mencari pendonor darah untuk anak ibu'
Aku mendengar samar samar orang bicara. Aku menoleh ke arah Teo yang ada di ranjang sebelah. Aku terlalu lemas untuk duduk jadi aku tetap berbaring sampai malam.
Dan saat malam aku bangun. "Mmm Teo kau belum sadar?" Tanyaku kepada Teo yang tertidur lemas di atas ranjang rumah sakitnya. "Oh iya aku lupa" Aku menepuk jidatku.
Kenapa aku bisa lupa bahwa Teo kehilangan darah. *Kalo nggak salah darah A kan?* pikirku. Aku sebenarnya juga bergolongan darah A setidaknya aku ingin mendonorkan darahku untuknya sebagai ucapan terimakasih.
"Suster" panggilku pelan kepada suster di depan ruangan. "Eh kamu udah bangun?" Suster itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahku sambil memanggil dokter.
Setelah di periksa aku langsung to the point pertanyaan. "Dok, bisa ngga saya ndonorin darah buat dia?" Ucapku sambil menunjuk Teo. "Bisa tapi kamu yakin" Aku jelas mengangguk.
"Baik kita akan lakukan besok pagi. Istirahatlah" dokter itu pun keluar dengan susternya juga. *met malam Teo*
(>.<♡)
__ADS_1
Pendonoran darah untuk Teo berlangsing lancar. Sekarang mereka ada di ruangan yang sama seperti sebelumnya. Dan pintu terbuka menampilkan beberapa orang di depan ruangan.
gmw all^^