Mekarnya Bunga Cinta

Mekarnya Bunga Cinta
Episode 17


__ADS_3

Kriett


Pintu terbuka pelan dan menampilkan seorang pria di depan jendela yang tertiup angin. Seorang pria didepan pintu tersebut masuk dengan perlahan dan menutup pintu dengan rapat.


Ia mendekati seorang pria yang sedang berada di depan jendela yang tertiup angin malam.


"Kau membuat kesalahan besar yang membuatmu tersesat sendiri di jalan Danendra" Ya mereka tak lain adalah Herry dan adiknya Danendra.


"Aku hanya terbawa emosi sementara" Ucap Endra sambil mencoba memegang anginㅡangin ga bisa di pegang bambankㅡ*author.


"Yah tapi emosimu membuat keuntungan bagi Teo dan membuat celah untuk memasuki wilayah yang kau jaga selama ini Endra. Dan satu lagi emosimu ini akan membuat jarak antara dirimu sendiri dan Sarah karena kau membiarkan Teo masuk kedalam wilayahmu"


Endra semakin menundukkan kepalanya dan menenggelamkannya kedalam lututnya. Herry mendudukkan diri di samping adiknya yang merenungi kesalahannya.


"Sepertinya aku harus memberikannya kepada Teo" Herry seketika menoleh ke arah Endra. "Hey kau gila ya? Kamu boleh menyesal sekarang tapi jangan menyerah" teriak Herry tapi tidak terlalu keras.


"Heh, aku? Gila? Enggak kak. Sarah benar. Aku akan menjadi saudaranya kalau aku tidak bisa menjadi pacarnya karena saudara bukanlah pacar dan pacar bukan saudara. Aku mempercayai Teo"

__ADS_1


"Aku memutuskan untuk mengikuti ayah ke amerika saja. Itu keputusanku aku sudah memikirkannya matang matang" Herry menatap sendu adiknya yang menyerah sangat cepat.


"Baiklah ini hidupmu aku tidak bisa mengatutnya semauku" herry pun pergi keluar kamar Endra.


* s a r a h . . .* itulah yang ada dipikiran Endra dan Herry sekarang mereka menatap ke atas tempat mereka berada sekarang dan menghela nafas panjang.


*aku percaya padamu Endra aku memang harus percaya kenyataan. Setidaknya aku masih ingin Sarah bahagia dengan kehidupannya sendiri* pikir Herry dan pergi menuju kamarnya.


*Teo...aku sudah melihat kemampuanmu selama ini dan aku akan pergi setelahnya* batin Endra.


😟😟😟


*aku nggak bermaksud nyakitin dia. Tapi akhirnya dia marah ke aku* batin Sarah. Ya sekarang Sarah tengah menjalani kebiasaannya yaitu memandangi langit malam dari balkon kamarnya.


Sarah meletakkan kembali pensil dan buku gambarnya ke tempat semula dan beranjak menaiki ranjangnya. Dia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang lalu memejamkan matanya.


Sarah membuka matanya kembali karena putus asa. Ia tidak bisa tidur dengan tenang. Sarah melirik ke arah jam dinding di kamarnya yang menunjukkan sekarang telah pukul 23.10.

__ADS_1


Sarah turun ke dapur berniat untuk mengambil makanan ringan yang ada di kulkas ataupun di lemari. Tapi nihil seisi lemari tidak ada apapun sama sekali begitu juga kulkas.


Sarah berlari ke atas untuk mengambil handphone topi dan jaketnya lalu keluar rumah. Ia sekarang berada di zebracross yang amat sangat sepi. Tapi entah darimana ada sebuah pick up melaju sangat kencang ke arahnya.


Tapi dia diselamatkan oleh sebuah tangan yang ada di pinggangnya yang membawanya pergi dari zebracross dan kembali lagi di trotoar.


Ia mengikuti arah gerak tangan tersebut dan..


"Danendra?!" Iyaaa da.nen.dra. Dialah yang menyelamatkan Sarah. Endra melepaskan tangannya dari pinggang Sarah dan berjalan duluan melewati zebracross.


Sarah menarik kembali tangan Endra yang menoleh karena ada yang memegang tangannya. "Thanks. Aku..tadi...anu..ngga gitu.." Endra mengelus puncak kepala Sarah pelan.


"Aku tau" Endra yang tersenyum membuat Sarah ikut tersenyum. Padahal Endra fake smile lohㅠ_ㅠ.


"Kamu ngga marah kan?" Endra menggeleng kecil. "Aku lebih suka dijadikan saudara dan bukan pacar. Aku hanya emosi tadi maaf yaa" Sarah hanya mengangguk untuk menanggapinya.


"Sekarang kamu mau kemana nggak tau apa sekarang hampir jam set 12 malam hah?!" Tanya Endra setengah berteriak. Sarah hanya tertawa kikuk melihat kekhawatiran dari wajah Endra.

__ADS_1


"Aku ngga bisa tidur jadi aku nyari cemilan buatku cemil tapi pas nyari ngga ada"


gmw^^


__ADS_2