Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 10


__ADS_3

Tiba saat hari Minggu, Rani dan Rio berpindah ke kontrakan yang sudah dipilih Rani beberapa hari yang lalu.


"Ma, Mas, Rani sama Mas Rio pamit dulu, ya!" Ucap Rani sebelum meninggalkan rumah yang sudah dia tinggali selama ini.


"Hati-hati, ya! Ingat pesan Mama!" Jawab Laras singkat.


"Iya, Ma. Rani bakalan ingat pesan Mama." Rani dan Rio bergantian bersalaman dengan Laras dan Fajar.


"Tolong jagain adikku, ya!" Fajar berpesan pada Rio. Meskipun dia berpenampilan preman, tapi hatinya tetap lembut dan penuh kasih sayang. Apalagi dia adalah satu-satunya lelaki di keluarganya.


"Iya, Mas. Siap!" Jawab Rio singkat.


Setelah berpamitan, Rio dan Rani sama-sama berangkat menuju ke kontrakan baru mereka. Kemudian sama-sama membereskan rumah kontrakan mereka.


***


Hari-hari Rani dan Rio dikontrakan cukup fleksibel. Terutama urusan masak memasak. Kalau dulu di rumah mamanya, Rani harus selalu memakan masakan rumahan, bahkan membawa bekal untuk makan saat jam istirahat, sekarang justru sebaliknya. Rani lebih sering beli makanan matang dari luar, apalagi kalau sedang bekerja shift pagi. Nyatanya masak sendiri dan membantu memasak tetap berbeda jauh. Memasak sendiri sangat ribet, dari menyiapkan bahan, mengolah, sampai membersihkan alat masak. Sangat boros waktu. Jadilah Rani lebih memilih beli makanan matang saja.


"Mas, mau sarapan sama sayur apa? Aku mau beli di warung depan, nih." Tanya Rani di suatu pagi.


"Aku pengen makan masakan kamu, Yang. Kangen sama masakan kamu. Lagian aku masuk shift 2. Kamu jaga malam kan?" Jawab Rio yang sudah sibuk dengan ponselnya.


"Iya, Mas. Yaudah, kamu pengen makan apa? Biar aku masakin." Rani akhirnya memutuskan menuruti keinginan suaminya itu. Kebiasaan beli makanan matang membuatnya jadi malas masak sebenarnya.


"Terserah kamu aja! Yang penting kamu yang masak. Aku bosen sama masakan warung depan." Jawab Rio tanpa melihat istrinya yang berdiri mematung, menunggu jawabannya.


"Okelah, tapi jangan protes kalau nggak enak ya?"


"Iya. Aku kan nggak pernah protes, Yang."


Memang benar, Rio tidak pernah protes soal makanan. Hidupnya sederhana sejak kecil, ditambah saudaranya yang banyak, membuat Rio terbiasa makan apa aja apa adanya. Bisa makan saja sudah sangat mereka syukuri. Jadi, Rio terbiasa untuk berhemat, cenderung pelit. Kecuali jika sedang ada maunya.


"Oke deh, aku belanja dulu. Nggak ada bahan masakan di dapur sih." Ucap Rani berpamitan.


"Ya, hati-hati. Mau aku anter nggak?"


"Nggak usah, Mas. Aku bisa sendiri, kok." Rani masih ingat dengan pesan Mamanya, untuk tidak bergantung dengan orang lain, termasuk pada suaminya.

__ADS_1


"Oke, hati-hati!" Rio mengulangi pesannya.


"Ya, Mas."


Rani segera pergi berbelanja bahan masakan. Karena lama tidak masak sendiri, akhirnya dia tidak punya bahan apa-apa. Hanya sedia mie instant, beras dan telur saja untuk jaga-jaga kalau malam-malam pengen makan, malas keluar dan malas pesan antar makanan juga.


Beberapa waktu kemudian, Rani sudah kembali, dengan kantong kresek ditangannya.


"Aku pulang!" Seru Rani sambil membuka pintu kontrakannya.


"Cepet banget?" Ucap Rio yang masih bertahan dengan posisi yang sama seperti saat Rani pergi tadi.


"Iya, Mas. Kebetulan nggak terlalu antri." Jawab Rani, langsung menuju dapur.


Setelah mencuci tangan, Rani segera mengeksekusi bahan masakan yang dia beli tadi. Dia memulai dengan memotong sayuran hijau terlebih dahulu. Baru kemudian menyiapkan bumbunya. Namun saat mengupas bawang, tiba-tiba saja perutnya terasa mual.


"Kok jadi mual gini, ya? Apa gara-gara nggak pernah masak dan nggak cium bau bawang lagi?" Rani bergumam sendiri, sambil menutup mulutnya, mencoba menahan rasa mualnya.


Rani mencoba menahan, meneruskan mengiris bawang dan yang lainnya. Tapi tetap saja, justru bertambah rasa mualnya. Apalagi saat menggoreng bumbu, Rani benar-benar tidak bisa menahan lagi. Dia mematikan kompor, dan berlari ke arah wastafel.


"Hoek!"


"Hoek!"


Mendengar suara Rani yang tidak biasa, membuat Rio bergegas ke dapur.


"Kamu kenapa, Yang?" Tanya Rio yang melihat Rani sedang berusaha mengeluarkan isi perutnya di wastafel itu.


Setelah berkumur dan mengelap mulutnya dengan tangan, Rani baru menjawab pertanyaan Rio.


"Nggak tau ini, Mas. Tiba-tiba jadi mual banget pas ngupas bawang tadi. Padahal sebelumnya baik-baik aja. Nggak mungkin kalau masuk angin."


"Atau jangan-jangan kamu hamil? Biasanya orang hamil muda, nggak suka sama bau menyengat." Rio langsung menebak kemungkinan yang terjadi pada istrinya itu.


"Apa iya ya, Mas? Aku emang udah telat datang bulan. Tapi emang aku biasanya datang bulan nggak teratur, jadi aku nggak kepikiran sampai sana." Rani mengingat-ingat lagi, kapan terakhir kali dia datang bulan.


"Yaudah, mending di tes aja. Aku beliin alat buat tesnya ya. Bentar!"

__ADS_1


"Trus ini masaknya gimana, Mas? Aku nggak kuat sama bau tumisan bumbu."


"Nanti aku aja yang masak. Kamu masuk kamar aja sana! Biar nggak mencium bau bumbu lagi." Rio berkata dengan bijak. Lagi-lagi, Rani menjadi terharu dengan perhatian yang diberikan oleh Rio.


"Oke, Mas."


Rani menurut saja, dia segera berjalan menuju ke kamarnya, dengan langkah yang lemah. Melihat hal itu, Rio bergegas memapahnya, berjalan menuju ke kamar satu-satunya di rumah kontrakan itu. Sesampainya di kamar, Rio mendudukkan Rani di kasur.


"Makasih, Mas." Ucap Rani terharu dengan perlakuan suaminya.


"Iya, nggak masalah. Bentar, aku ambilin minum hangat dulu." Rio bergegas kembali ke dapur, mengambilkan minum putih hangat dari dispenser. Kemudian kembali lagi ke kamar.


"Ini, minum dulu. Trus istirahat, nggak usah ngapa-ngapain. Aku ke apotek dulu." Rio pamit.


"Oke, Mas. Hati-hati." Jawab Rani lemah.


Rio bergegas, mengenakan jaket dan mengambil dompet, kemudian meninggalkan Rani di kamarnya sendirian.


Sesaat setelah Rio pergi, bukannya duduk atau berbaring, Rani justru beranjak dari kasurnya. Dia berjalan pelan menuju ruang tengah, tempat tadi Rio bermain ponsel.


"Sepertinya HP Mas Rio ditinggal." Gumam Rani lirih.


Dia mencari-cari HP Rio, namun tidak dijumpainya. Rani segera kembali ke kamar, mengambil HP-nya dan memanggil nomer suaminya. Ternyata terdengar deringnya di ruang tengah. Rani mendengarkan dari mana arah suaranya. Kemudian berjalan cepat, menuju sumber suara.


"Nah, ketemu!" Ucap Rani setelah menemukan HP Rio yang ada di bawah karpet, tempat Rio duduk tadi.


Setelah mematikan panggilan di HP Rio, Rani segera memeriksa HP Rio. Dia ingin tau, apa ada yang perlu dicurigai. Apa benar, suaminya kalau sibuk main HP itu hanya bermain game? Atau justru Rio ada hubungan dengan perempuan lain, jadi sibuk chatingan dengan perempuan itu.


Rani memencet tombol di bagian samping HP.


"Yah, kok di sandi sih." Rani mencoba memasukkan beberapa digit nomer yang diminta. Menebak-nebak, nomer sandi di ponsel Rio. Dari mulai tanggal lahir sampai tanggal pernikahan, semuanya gagal.


"Kenapa juga harus disandi? Pasti emang ada apa-apanya." Rasa curiga Rani bertambah besar saja.


Karena gagal membula sandi ponsel Rio, Rani memilih untuk mengembalikan ponsel pada tempatnya semula, kemudian berjalan kembali ke kamarnya. Rani membaringkan tubuhnya, mencoba memikirkan lagi, apa memang ada yang disembunyikan oleh suaminya? Kenapa dia sampai mengunci ponselnya seperti itu. Bukankan suami istri seharusnya tidak ada rahasia? Bahkan termasuk dengan isi ponselnya?


***

__ADS_1


__ADS_2