
Setelah menunggu beberapa lama, petugas pendaftaran mengembalikan KTP milik Rio dan Rani.
"Silahkan ditunggu di kursi tunggu ya, Bu. Nanti dipanggil untuk tensi dulu di sebelah sana." Petugas pendaftaran menunjuk meja di pojok ruangan itu. Memang ada perawat juga yang berjaga di sana.
"Trimakasih, Mbak."
Rani dan Rio berjalan, menuju kursi tunggu yang disediakan di depan meja pemeriksaan tensi dan lainnya. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Rani dipanggil juga.
"Ibu Chintya Maharani!"
"Ya, Mbak."
Rani segera berjalan menuju ke meja pemeriksaan awal. Di sana, dia diperiksa tensi, tinggi badan, berat badan, juga lingkar lengannya. Tak lupa, Rani ditanyai hari pertama haid terakhir, sebagai acuan untuk menghitung usia kandungannya. Karena ini pertama kali dia periksa, jadi Rani diberikan buku berwarna pink, buku kesehatan ibu dan anak. Setelah semuanya diperiksa, baru kemudian diminta untuk menunggu lagi di depan ruang poli kandungan.
"Mas, pindah ke sana!" Ucap Rani pada Rio, yang lagi-lagi sibuk dengan HP-nya.
"Oh, yaudah, kamu aja. Aku nunggu di sini." Ucap Rio santai.
"Tapi, Mas. Kan kamu harus tau gimana kondisi kehamilanku juga?" Rani protes dengan sikap Rio yang tiba-tiba aneh lagi. Kadang perhatian, kadang menjengkelkan. Entah apa sebenarnya yang ada dipikiran Rio.
"Iya deh, iya." Dengan terpaksa Rio mengikuti Rani, duduk di kursi tunggu depan poli.
Setelah menunggu beberapa orang di depannya diperiksa, akhirnya giliran Rani sampai juga. Rani dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruang periksa.
"Halo, Bu Chintya, ya. Perkenalkan, saya Dokter Nita." Sapa Dokter Nita, yang kebetulan sedang menangani poli saat itu.
"Halo, Dok." Rani tersenyum ramah.
"Silahkan duduk dulu!"
Rani dan Rio menurut, duduk di kursi yang disediakan.
"Ini, Dok!" Salah seorang asisten dokter memberikan rekam medis juga buku pink pada Dokter Nita.
"Baik, Bu Chintya Maharani, ini baru periksa pertama kali ya?" Dokter Nita mulai bertanya-tanya.
__ADS_1
"Iya, Dok." Rani mengangguk mantap
"Sudah melakukan tes kehamilan?"
"Sudah, Dok."
"Boleh lihat hasilnya?"
"Sebentar, Dok!" Ucap Rani sambil mengeluarkan alat tes dari dalam tasnya.
"Ini, Dok!" Rani menunjukkan alat tes kehamilan itu, menunjukkan hasilnya saja.
"Baik, ada keluhan atau tidak, Bu? Mual, pusing, lemes atau yang lain sebagainya?"
"Mual-mual kalau bau masakan, sama tadi makan beberapa suap juga langsung muntah, Dok. Kalau pusing dan lemes sih enggak, atau emang belum kerasa juga kurang tau, Dok." Rani menjelaskan apa yang dia rasakan pada Dokter Nita.
"HPHT-nya kapan ya?" Dokter Nita bertanya, tapi juga langsung melihat catatan yang ada di buku.
"Oh ya, baru lima minggu, wajar kalau memang seperti itu. Coba kita USG, ya. Untuk melihat posisi janin dan lain sebagainya. Silahkan berbaring di sebelah sana!" Dokter Nita menunjuk bed untuk pemeriksaan kandungan.
Dokter Nita mulai menggerak-gerakkan alat USG di atas perut Rani. Dia menjelaskan posisi janin, plasenta atau yang umum disebut dengan ari-ari dan lain sebagainya melalu layar monitor besar yang dipasang di dinding, depan Rani. Jadi dia bisa melihat gambar, sambil mendengarkan penjelasan dari Dokter Nita yang sangat mendetail.
Setelah selesai diperiksa, asisten dokter mengelap perut Rani, membersihkan gel seperlunya. Setelah itu, Rani kembali duduk di samping Rio, sambil membetulkan pakaiannya lagi.
"Tolong dijaga kandungannya ya, Bu! Jangan terlalu capek, tetap makan makanan yang bergizi seimbang. Perbanyak protein. Kurangi makan jajanan ataupun makanan olahan tepung, itu nggak ada gizinya. Cuma buat gemuk ibunya aja. Kan kasian janinnya kalau nggak dapat gizi. Iya, 'kan?" Dokter Nita memberikan pesan pada Nita.
"Iya, Dok."
"Tolong diingatkan ya, Pak! Kalau susah makan, harus diingatkan. Pokoknya harus selalu diperhatikan kondisi kesehatan Bu Chintya juga janinnya. Kalau bisa, jangan bekerja terlalu berat dan juga jangan terlalu banyak pikiran. Kalau mau angkat-angkat, yang ringan-ringan saja." Dokter Nita juga berpesan pada Rio.
"Baik, Dok."
"Kalau nggak bisa makan gimana, Dok? Makan langsung muntah." Rani bertanya tips dari Dokter Nita.
"Coba makan yang tidak mengandung banyak bumbu, Bu. Coba makan telur rebus, tempe rebus. Makan buah alpukat. Pokoknya semua dicoba, mana yang cocok. Yang pasti tetap harus makan ya! Nanti saya kasih vitamin. Untuk meredakan mual, juga untuk tambahan kalsium." Jawab Dokter Nita.
__ADS_1
"Baik, Dok."
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" Tanya Dokter Nita sebelum menutup sesi pemeriksaan Rani.
"Sepertinya belum, Dok." Rani menggeleng.
"Setiap bulan diperiksakan ya, Bu. Bisa ke dokter kandungan atau ke bidan tidak masalah. Tapi beberapa kali memang harus USG juga, untuk melihat kondisi janin, apakah berkembang dengan normal atau tidak. Begitu ya, Bu." Dokter Nita kembali memberikan pesan pada Rani.
"Baik, Dok. Trimakasih banyak ya, Dok." Ucap Rani sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Trimakasih, Dok." Rio juga ikut mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama."
Rani dan Rio meninggalkan ruang pemeriksaan. Mereka masih harus menunggu lagi, menunggu dipanggil untuk membayar biaya periksa, sambil mengambil buku, print out hasil USG dan juga resep dokter. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Rani dipanggil lagi. Kemudian dia menuju ke bagian farmasi, untuk menebus vitamin yang diresepkan oleh Dokter Nita.
Setelah mendapatkan vitamin, Rani dan Rio kembali pulang ke kontrakan mereka.
"Syukurlah, semuanya bagus ya, Mas."
"Iya. Trus kamu mau gimana? Kamu masih tetep mau kerja? Apa mau keluar aja?"Tanya Rio pada Rani.
"Aku tetep kerja, Mas. Cuma mungkin minta di shift pagi aja. Nggak yang jaga malam." Rani kembali teringat pesan Mama Laras, dia tidak boleh berhenti bekerja. Toh dia merasa baik-baik saja. Kecuali kalau memang dia diharuskan untuk bedrest, maka tidak ada pilihan lain.
"Yaudah kalau gitu. Yang penting jangan terlalu capek, juga jangan terlalu stress. Aku nggak mau disalahin kalau terjadi sesuatu yang buruk sama kehamilan kamu. Kalau kamu emang nggak kuat, mending kamu berhenti kerja aja dulu. Aku bisa kok, mencukupi kebutuhan hidup kita. Yang penting sekarang anak kita yang harus kamu pikirkan." Rio kembali menunjukkan perhatiannya pada Rani.
"Iya, Mas. Kamu tenang aja! Aku bisa mengukur diri sendiri, kok. Kalau emang nggak kuat, aku bakalan keluar dari kerjaan." Jawab Rani mantap.
"Okelah kalau emang itu kemauan kamu." Ucap Rio pada akhirnya.
"Iya, Mas. Temen-temenku juga banyak kok yang tetep kerja, meskipun lagi hamil. Mereka cuma cuti saat melahirkan aja. Kalau mereka bisa, aku juga pasti bisa kan? Lagi pula juga bingung mau ngapain kalau cuma dikontrakan terus. Kalau sambil kerja kan setidaknya aku nggak bosen, kalau mual-mual dan lain sebagainya juga jadi terhibur. Aku juga seneng, bisa ketemu sama temen-temen." Rani kembali memberikan alasan kenapa dia masih ingin terus bekerja.
"Iya, terserah kamu aja."
***
__ADS_1