Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 23


__ADS_3

"Rani! Kamu mau ngapain?" Laras panik saat melihat Rani sudah duduk di pinggir bed, dengak kaki menggantung.


"Aku pengen ke kamar mandi, Ma!"


"Udah! Kamu di situ aja! Mama ambilin pispot." Laras dengan sigap membantu Rani untuk kembali duduk di bed dengan nyaman. Setelah itu, Laras bergegas ke kamar mandi untuk mengambilkan pispot.


"Ini, buang air di sini aja! Jangan turun-turun dari ranjang, bahaya! Nanti kalau malah jatuh atau gimana kan repot. Ini udah Mama bersihkan, udah Mama cuci dulu, jadi nggak perlu khawatir kuman dan lain sebagainya." Laras segera membantu Rani untuk memposisikan pispot, sehingga nyaman dipakai.


Meskipun biasa bekerja di rumah sakit, termasuk membantu pasien menggunakan pispot, tapi Rani belum pernah memakainya sendiri. Jadi dia tetap merasa kurang nyaman saat memakainya.


"Ya ampun, Ma. Ternyata jadi pasien nggak enak banget, ya!" Rani mengeluh.


"Ya begitulah, tapi mau bagaimana lagi? Nggak ada yang mau seperti ini. tapi kalau memang Tuhan sudah berkehendak, nggak ada yang bisa menolak, kan?" Laras mencoba membuat hati Rani menjadi lebih lapang.


"Iya, Ma. Kalau Rani nggak hamil, mungkin nggak akan seperti ini jadinya."


"Hush! Kamu ngomong apa sih? Nggak boleh bicara seperti itu! Kamu harusnya bersyukur, bisa merasakan nikmat yang dimimpikan oleh setiap perempuan. Karena nggak semua perempuan bisa merasakan nikmatnya mengandung, punya anak dan lain sebagainya." Laras menyadarkan Rani dari pemikirannya yang sedikit melenceng.


"Tapi Rani merasa belum siap punya anak, Ma! Rani takut kalau nggak bisa jadi ibu yang baik buat anak Rani. Kalau dia jadi kurang perhatian, kasih sayang dan lain sebagainya gimana?"


"Sudah, tidak perlu kamu pikirkan. Semua butuh belajar, termasuk merawat anak. Kamu nggak perlu khawatir, Mama akan bantuin kamu!" Laras kembali menenangkan putri bungsunya itu.


"Makasih banyak ya, Ma!"


"Iya sama-sama. Udah belum?"


"Udah, Ma! Minta tisu!"


Laras segera mengambilkan tisu, sesuai permintaan Rani. Setelah itu, Laras kembali ke kamar mandi, membersihkan pispot dan mengembalikannya lagi.


"Mas Rio di mana, Ma?" Rani bertanya, saat Laras sudah kembali dari kamar mandi.


"Mama suruh pulang, istirahat, trus juga mengurus ijin buat kamu, sama ijin di tempat kerjanya juga. Lagi pula di sini juga nggak bisa nungguin kamu, kan? lebih baik bagi tugas." Laras menjelaskan hasil berundingnya dengan menantunya tadi.


"Oh, yaudah kalau gitu. Mama juga istirahat, tidur di sini aja!" Rani menepuk-nepuk ranjangnya.

__ADS_1


"Nanti kamu kesempitan. Mama bisa tidur sambil duduk di sini kok. Kamu nggak perlu khawatir!"


"Tapi nanti tulangnya pada sakit, Ma!"


"Enggak, kan nggak lama. Kamu nggak usah khawatirin Mama, kamu istirahat aja, tidur yang nyenyak, biar kondisimu segera membaik." Ucap Laras sambil merapikan selimut Rani.


"Mama juga istirahat, ya! Jangan sampai ikut sakit!"


"Iya, Mama bisa jaga kesehatan, kok. Kamu tenang aja!"


"Makasih banyak ya, Ma! Maaf jadi merepotkan."


"Kamu jangan ngomong gitu! Ini Mama kamu, sudah seharusnya seperti ini, jadi kamu nggak perlu berpikir yang macam-macam, nggak enak dan lain sebagainya. Ya?"


Rani mengangguk.


"Udah, sekarang tidur aja. Besok pagi diperiksa, biar ada kemajuan."


"Iya, Ma."


***


"Selamat pagi, Bu! Tensi dulu ya!" Dua orang perawat masuk ke ruangan Rani, dengan membawa alat tensi digital, juga alat untuk mendengarkan detak jantung janin.


Rani mengerjap, dia melihat jam yang ada di dinding samping kanannya. 'Sudah jam lima pagi, rasanya baru sebentar banget tidurnya.' Batin Rani.


"Silahkan, Sus!" Laras memberikan jalan, mempersilahkan kedua perawat untuk memeriksa Rani.


"Bagaimana, Bu? Bisa tidur nyenyak tidak?" Ucap perawat tersebut, berbasa-basi sambil memeriksa tensi Rani.


"Nggak terlalu, Mbak. Pikirannya ke mana-mana, jadi nggak bisa tidur." Rani mengusap sudut matanya dengan jari jempol dan jari tengahnya.


"Pantes saja tensinya masih tinggi. Coba rileks aja, Bu. Tidak usah banyak pikiran, istirahat yang cukup! Biar tensinya cepat normal lagi, Bu." Perawat tersebut memberi nasehat untuk Rani, sedangkan satu perawat lagi mencatat hasil pemeriksaan pagi itu.


"Iya, Mbak. Nanti saya usahakan." Rani memperbaiki posisi tidurnya.

__ADS_1


"Baik, Bu. Cek DJJ dulu ya!"


Rani mengangguk.


Kedua perawat tersebut segera melakukan tugas selanjutnya, mengecek detak jantung janin, memastikan semua masih normal, seperti sebelumnya.


"Alamdulillah, normal ya, Bu. Semoga semuanya baik-baik saja, segera sehat ibu dan bayinya." Ucap perawat tersebut sambil membereskan alat-alat pemeriksaan.


"Aamiin, terimakasih, Sus!" Ucap Laras sambil tersenyum, meskipun kondisi Rani belum bagus, setidaknya janin dalam perutnya baik-baik saja.


"Sama-sama, Bu. Ini nanti kalau infusnya sudah mau habis, minta diganti saja ya, Bu. Ini saya percepat sedikit. " Salah satu perawat kembali berpesan, sebelum meninggalkan ruangan Rani.


"Baik, terimakasih, Sus!" Ucap Rani dan Laras bersamaan.


"Sama-sama." Kedua perawat tersebut meninggalkan ruangan Rani, sembari mendorong alat tensi digital, juga alat pengecek bunyi detak jantung janin.


"Kamu tidak usah banyak pikiran ya, Ran! Biar semua segera normal. Kalau seperti ini terus, nanti nggak bagus untuk kamu dan juga bayi kamu." Laras membetulkan lagi selimut Rani yang tadi disingkap, saat mengecek detak jantung janin.


"Iya, Ma. Pengennya juga gitu, tapi ternyata nggak semudah yang diucapkan, Ma. Rani juga nggak tau, apa yang Rani pikirkan, kenapa terus kepikiran, kenapa nggak bisa tidur juga Rani nggak tau!" Tiba-tiba saja air mata Rani menetes. Dia benar-benar bingung, dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


"Sudah, sudah. Jangan menangis! Nanti bayi kamu juga ikut sedih. Pokoknya sekarang dibuat rileks, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan!" Laras mengusap kepala Rani, sambil mencontohkan untuk mengatur nafas.


Rani mengikutinya, beberapa kali mengatur nafas, dia bisa merasa lebih tenang. Rani mengusap air matanya yang menetes di pipi.


"Ma, aku mau ngomong sesuatu." Ucap Rani lirih.


"Ngomong apa sayang?" Laras bersiap mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh putri sulungnya itu.


"Aku minta maaf ya, Ma! Selama ini aku belum bisa jadi anak yang berbakti sama Mama. Aku justru mencoreng nama baik Mama dengan perbuatanku. Tolong maafin aku ya, Ma!"


"Sudahlah, tidak usah kamu ungkit lagi tentang hal itu. Mama sudah memaafkan kamu, dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi." Laras menatap wajah putrinya dengan sendu.


"Trimakasih ya, Ma. Aku juga mau titip anakku sama Mama, tolong jaga dia ya, Ma! Tolong sayangi dia seperti Mama sayang sama aku!" Rani melanjutkan ucapannya, air matanya kembali menetes saat mengucapkan kata-kata itu.


"Kamu itu ngomong apa sih, Ran?" Laras tak kalah kagetnya, mendengar ucapan dari Rani. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup lebih kencang. Berbagai macam pikiran buruk tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.

__ADS_1


__ADS_2