
"Udah belum, Yang?" Rio kembali memanggil Rani yang tidak selesai-selesai berdandan.
"Eh. Udah, Mas." Rani segera meninggalkan cermin yang ada di depan wastafel kamar mandi.
"Yuk, ke bawah! Pastikan nggak ada barang yang ketinggal, ya. Kita langsung CO aja." Ucap Rio mengingatkan.
"Tapi, Mas. Spreinya? Masih gitu?" Rani menunjuk sprei putih yang berantakan dengan bercak darah di atasnya.
"Udah, biarin aja! Nanti kan dibersihin sama petugas hotelnya." Jawab Rio santai.
"Oh, okelah." Rani menurut saja.
Mereka berdua meninggalkan kamar yang masih berantakan itu. Kemudian turun untuk mengembalikan kunci kamar, juga membayar tarifnya.
"Dah, yuk sarapan!" Ajak Rio pada Rani, ia menggandeng tangan Rani menuju ke parkiran yang ada di bawah.
"Loh, Mas? Kok ke parkiran? Katanya mau makan?" Tanya Rani heran.
"Iya, kita sarapan di luar aja. Disini mahal." Jawab Rio santai.
Rani terbengong. Ia mengira mereka berdua akan sarapan di hotel, tempat mereka makan tadi malam. Ternyata perkiraannya salah. Tapi mau bagaimana lagi? Dia hanya bisa mengikuti Rio. Mereka berdua meninggalkan hotel dan sarapan bubur ayam di dekat alun-alun, yang tak jauh dari hotel.
Setelah selesai sarapan, seperti janjinya tadi, Rio mengantarkan Rani pulang ke rumahnya. Saat sampai di rumah Rani, mereka berdua sudah ditunggu oleh Mama dan Mas Fajar, kakaknya Rani.
"Assalamu'alaikum, Ma." Ucap Rani sambil berusaha menyalami mamanya. Bukannya mendapat sambutan baik, justru omelan yang didapatkan oleh Rio dan Rani.
"Dari mana aja kamu? Kenapa baru pulang? Katanya pergi sama teman-teman kamu? Kenapa pulangnya sama dia?" Mama Laras memberondong Rani dengan pertanyaan. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Rio, dengan wajah yang tidak senang.
"Maaf, Ma. Rani berbohong." Jawab Rani lirih. Sedangkan Rio masih berada jauh di belakang Rani. Dia tidak berani mendekat ke arah Mama Laras.
"Oh, jadi kamu bohongin Mama? Kamu pergi sama dia, hah? Ngapain aja kamu sama dia? Sampai tidak pulang ke rumah? Jangan bilang kalau kalian sudah berbuat hal yang sangat menjijikkan itu!" Laras langsung saja berpikiran negatif terhadap Rani dan Rio, yang sebenarnya memang pantas untuk mendapat pikiran negatif seperti itu.
__ADS_1
"Pantes dari semalem HP kamu nggak aktif. Ternyata kamu sengaja mematikannya ya? Biar nggak kelacak kalau lagi sama dia?" Fajar ikut menambahi.
"Ha? HP-ku nggak aktif?" Rani justru bingung dengan tuduhan kakaknya. Karena dia tidak merasa menon-aktifkan HP-nya.
"Iya! Kamu tau nggak sih, kamu itu bikin kami berdua khawatir?!" Fajar masih saja mengomeli Rani.
Rani dengan segera mengambil HP dari dalam tasnya. Memang dari tadi pagi, dia tidak mellihat HP-nya. Dia ingat, terakhir kali melihat HP saat di parkiran hotel tadi malam. Dan ternyata benar, HP-nya sudah dalam keadaan mati.
"Maaf, Mas. Aku nggak tau kalau HP-ku mati." Rani kembali meminta maaf.
"Oh, gitu ya! Saking asyiknya kalian berdua, sampai nggak tau kalau HP-nya mati." Fajar tersenyum miring.
"Bukannya gitu, Mas. Tapi...." Rani jadi teringat kejadian tadi malam. Meskipun samar-samar, tapi dia masih bisa mengingatnya.
"Tapi apa, Ran? Apa sih yang sebenernya kalian berdua lakukan? Tidur dimana kalian semalam? Jangan-jangan bener apa yang Mama katakan tadi. Apa kalian udah melakukan hal yang menjijikkan itu, hah?" Fajar meningkatkan nada bicaranya.
"Maafkan Rani, Mas. Ma. Maafkan Rani!" Saat itu juga air mata Rani menetes, dia benar-benar merasa bersalah. Rani berlutut di hadapan mamanya, berusaha memohon ampun pada mamanya.
"Kenapa kamu minta maaf? Jadi benar dugaan Mama? Kalian berdua sudah melakukan hal yang ditak pantas kalian lakukan itu?" Laras kembali memastikan.
"Kurang ajar!"
Ucap Fajar yang langsung naik pitam. Dia mengepalkan tangannya, dan berjalan cepat menuju ke arah Rio yang masih berdiri di dekat motornya. Saat sampai di hadapan Rio, tanpa menunggu aba-aba, Fajar melayangkan tinjunya ke wajah Rio.
Buk!
Buk!
Dua kali Fajar memukul Rio, tanpa perlawanan.
"Mas! Jangan!" Rani berteriak, dia berlari menghampiri Rio yang sudah berpegangan pada motornya, sedangkan tangan satunya memegang pipi yang terkena bogem dari Fajar.
__ADS_1
Mendengar Rani membela Rio, justru membuat Fajar semakin marah. Dia berniat memukul Rio lagi, tapi sudah dihalangi oleh Rani.
"Pukul aku aja, Mas! Pukul aku! Aku yang salah, Mas! Bukan Mas Rio!" Rani berusaha membela Rio yang ada di belakangnya, berharap Fajar akan berhenti memukulnya.
Tapi tenyata dugaan Rani salah.
Plak!
Rani mendapat tamparan keras dari Fajar.
"Kalian berdua sama saja!" Ucap Fajar sebelum pergi meninggalkan halaman rumah. Meninggalkan Rani yang meringis kesakitan, menahan perihnya tamparan dari Fajar. Air matanya mengalir bertambah deras. Ia hanya bisa berjongkok, menahan sakit yang berlipat-lipat.
"Sayang! Kamu nggak papa?" Rio berusaha mengajak Rani untuk kembali berdiri.
Tidak ada jawaban dari Rani. Jelas dia tidak baik-baik saja. Apa yang dia takutkan tadi pagi benar-benar terjadi. Kakaknya marah besar. Mamanya juga pasti kecewa. Rani kembali menangis sesenggukan. Namun tanpa diduga, Laras menghampiri anak bungsunya itu.
"Mama?" Rani mendongakkan kepalanya. Menunggu apa yang akan diucapkan oleh mamanya setelah ini.
"Kalian berdua, masuk ke dalam sekarang!" Laras memberi perintah kepada Rani juga Rio, kemudian berbalik dan masuk ke rumah terlebih dahulu.
"Ran? Aku nggak salah denger, 'kan? Mama kamu nggak salah? Dia kasih ijin aku masuk ke rumahmu?" Rio justru heran dengan perintah dari Mama Laras.
"Iya, Mas. Kamu nggak salah denger kok."
"Yaudah, ayo masuk aja!"
Rani mengangguk. Dia berdiri, kemudian mengusap air matanya yang masih membasahi pipinya. Ia menarik nafas panjang beberapa kali. Setelah merasa lebih tenang, Rani dan Rio bersama-sama masuk ke dalam rumah Rani.
Sesampainya di ruang tamu, Mama Laras dan Fajar sudah duduk di kursi ruang tamu dengan mensedekapkan kedua tangannya di depan dada, menunggu Rani dan Rio yang terus berjalan sambil menunduk.
"Kalian berdua, duduk!" Laras kembali memberi perintah pada Rani dan Rio. Mereka berdua menurut. Mereka duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang di duduki oleh Mama Laras dan juga Fajar, terpisahkan oleh meja kecil di ruang tamu itu.
__ADS_1
Rani dan Rio tidak berani berkata-kata sama sekali. Mereka hanya diam saja, menunggu apa yang akan diucapkan oleh Mama Laras. Rani mengatur nafasnya, bersiap menerima kemarahan dari mamanya lagi. Dia berpikir bahwa mamanya akan memarahinya habis-habisan kali ini. Kalau di luar tadi, mungkin saja mamanya masih bisa menahan diri, karena takut terdengar oleh tetangga. Tapi sekarang? Mama Laras bisa melampiaskan kemarahannya sekehendak hatinya.
***