
"Rio, Rani. Coba jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi! Semuanya! Tanpa ada yang ditutupi. Siapa yang mau kasih penjelasan dulu? Silahkan!" Di luar dugaan Rani, ternyata Mama Laras berucap dengan tenang. Meskipun bisa dipastikan, hatinya kini sudah hancur berantakan.
"Ini semua salah saya, Tante. Saya yang merencanakan ini semua." Jawab Rio, masih sambil tertunduk.
"Saya tidak akan membenarkan perbuatan kalian berdua. Di mata saya, kalian berdua sama-sama bersalah. Saya tidak akan membela Rani, juga tidak akan membela kamu. Coba jelaskan secara rinci! Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian berdua." Ucap Laras lagi.
"Jadi begini, Tante. Saya dan Rani sama-sama saling mencintai. Tapi saya mendengar kabar kalau Tante dan Mas Fajar tidak menyetujui hubungan saya dengan Rani. Saya sudah terlanjur mencintai Rani dengan teramat sangat, Tante. Saya ingin memiliki Rani seutuhnya. Jadi saya merencanakan hal yang menurut saya bisa membuat Rani menjadi milik saya sepenuhnya, dan akan mendapat restu dari Tante dan juga Mas Fajar." Rio mulai menjelaskan.
"Teruskan!" Mama Laras belum mau memberikan tanggapan. Dia masih mau mendengar ceritanya secara keseluruhan.
"Jadi saya mengajak Rani untuk makan malam di hotel, dan tanpa sepengetahuan Rani, saya sudah memasukkan obat perangsang di dalam minuman Rani. Jadi Rani yang sudah terpengaruh oleh obat perangsang, tidak bisa berpikir dengan jernih. Dan saya membawa Rani ke dalam kamar hotel yang sudah saya pesan sebelumnya. Dan saya melakukan hal terlarang itu terhadap Rani yang memang sedang dalam pengaruh obat perangsang. Saya mohon, jangan salahkan Rani, Tante!" Rio menjelaskan apa yang terjadi secara singkat.
Mendengar penjelasan Rio itu, Fajar kembali mengepalkan tangannya. Kali ini ia memukul meja yang ada di depannya, sambil berdiri.
"Berani-beraninya kamu!" Ucap Fajar sambil melotot menatap Rio.
"Sudah lah, Jar. Tenang!" Mama Laras menenangkan anak sulungnya itu.
Biar bagaimanapun, Laras sudah terlatih hati dan perasaannya, menghadapi hal-hal yang berat semacam ini. Karena sebelumnya, Dewi, kakak dari Rani juga mempunyai kasus yang sama. Bahkan lebih parah, karena tau-tau, dia pulang kuliah sudah membawa anak balita.
__ADS_1
Fajar kembali duduk di kursinya. Dia menuruti apa yang diinginkan mamanya. Sesuai perjanjiannya tadi, sebelum Rani dan Rio masuk ke ruang tamu, Mama Laras sudah meminta pada Fajar untuk tidak terbawa emosi.
"Jadi, kamu berpikir, dengan menodai Rani, kalian jadi akan mendapat restu dari kami berdua?" Mama Laras kembali bertanya pada Rio, yang masih belum berani menatap wajah Laras.
"Begitulah kira-kira, Tante." Jawab Rio lirih.
Meskipun saat bersama Rani terlihat gagah dan penuh percaya diri, nyatanya Rio melempem juga saat berhadapan dengan Mama Laras secara langsung.
"Bagaimana, Ran? Kamu mau menambahkan?" Mama Laras kini menatap anak bungsunya itu.
"Rani juga salah, Ma. Karena Rani yang pernah bilang sama Mas Rio untuk melakukan apapun, supaya Mama dan Mas Fajar mau merestui hubungan kami. Meskipun Rani juga tidak setuju dengan cara Mas Rio yang seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, Ma? Semua sudah terlanjur. Kalau Mama dan Mas Fajar tetap tidak merestui hubungan kami, bagaimana nasib Rani, Ma?" Rani berani angkat bicara.
Laras menutup matanya sejenak dan menarik nafas panjang. Berusaha mencari solusi terbaik. Dirinya yang sudah lama tanpa suami, memaksanya untuk selalu bisa bijak, berpikir seperti seorang ayah sekaligus seorang ibu. Rani, Rio juga Fajar menunggu apa keputusan dari Laras, orang tua mereka satu-satunya.
"Tapi, Ma?" Fajar tidak sependapat dengan apa yang diputuskan oleh mamanya.
"Sudahlah, Jar. Kita tidak bisa memutar kembali waktu. Semua sudah terlanjur terjadi. Kita hanya bisa terus berjalan ke depan. Mama nggak mau kalau aib keluarga kita menjadi tambah banyak. Kalau orang-orang sampai tau hal ini, habis sudah muka Mama. Mama akan di cap sebagai orang tua yang nggak becus mendidik anak. Karena dua anak perempuan Mama ternyata tidak bisa menjaga kehormatannya, hanya karena iming-iming cinta." Laras menenangkan Fajar. Namun membuat Rani kembali menangis terisak. Ia berjalan mendekati mamanya, bersimpuh di hadapannya.
"Maafin Rani, Ma. Maafin Rani!" Hanya itu kata yang bisa terucap dari bibir mungil Rani.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Mungkin memang ini balasan yang pantas untuk Mama, karena Mama selalu mementingkan keinginan Mama, tanpa mau mempertimbangkan keinginanmu." Ucap Laras sambil menepuk-nepuk pundak anak bungsunya itu.
"Mama nggak salah, Ma! Aku yang salah! Aku yang keras kepala! Aku yang menginginkan Mas Rio. Aku benar-benar tidak bisa kalau tanpanya, Ma!" Rani masih tetap saja memikirkan cintanya itu.
"Tenang saja. Mama akan merestui hubungan kalian berdua. Mulai sekarang, kamu akan bersama dengan Rio, tanpa hambatan. Terserah saja apa yang mau kalian lakukan. Semoga saja ini memang yang terbaik untuk kalian berdua." Laras memberikan ijin, meskipun terdengar terpaksa.
"Saya janji, Tante. Saya akan menjaga Rani dengan baik. Saya tidak akan membiarkan dia menderita!" Ucap Rio dari tempat duduknya.
"Baik. Saya pegang omongan kamu. Silahkan kamu pikirkan bagaimana caranya bisa segera menikahi Rani. Terserah saja mau seperti apa. Yang jelas, saya nggak mau ikut campur lagi. Karena pernikahan ini kalian yang mau, bukan saya. Jadi, pikirkan sendiri dan urus segala sesuatunya sendiri!" Ucap Laras sambil berdiri dari duduknya.
Fajar tersenyum puas. Karena mamanya bisa bersikap tegas seperti ini. Sedangkan Rani dan Rio kembali bingung dengan ucapan Laras yang terdengar ambigu. Dia memberi restu, tapi sudah tidak mau ikut campur lagi terhadap urusan mereka berdua. Apa dia sudah tidak menganggap Rani sebagai anak lagi?
"Ma? Aku tetap anak Mama, 'kan?" Tanya Rani sebelum Laras melangkah pergi.
"Iya, kamu tetap anak Mama. Mama nggak akan memutuskan hubungan kekeluargaan kita. Karena Mama nggak mau, para tetangga tau kalau anak Mama ternyata orang yang sangat keras kepala dan memilih pacarnya, daripada mamanya sendiri!" Ucap Laras sebelum dia pergi meninggalkan Rani yang masih tetap bersimpun di depan kursi Laras.
Ucapan itu justru membuat Rani kembali terisak. Dia benar-benar merasa hancur saat ini. Dia benar-benar telah membuat mamanya kecewa.
"Makanya, kalau mau berbuat sesuatu itu dipikir dulu! Dasar, nggak tau malu!" Ucap Fajar sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rani dan Rio di ruang tamu.
__ADS_1
"Sudahlah, Sayang. Kamu tidak usah menangis lagi! Setidaknya kita sudah mendapat restu dari mama kamu. Sekarang lebih baik kita memikirkan bagaimana baiknya pernikahan kita. Nanti aku akan bilang sama orang tuaku, untuk secepatnya melamar kamu. Dan kita akan menikah secepatnya, seperti yang mama kamu inginkan." Rio berusaha menghibur Rani yang masih menangis tersedu.
***