Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 26


__ADS_3

"Udah, biarin aja! Paling tetengga sebelah mau minta gula." Rio mengabaikan suara ketukan di pintu depan.


"Tapi, Mas?" Miranda ragu.


Tok tok tok!


"Rio! Ini Fajar! Buka pintunya cepet! Kamu masih di dalam 'kan?" Fajar berteriak semkin keras.


"Astaga! Mas Fajar!" Rio panik seketika.


"Siapa, Mas?" Miranda memang belum mengenal siapa Fajar.


"Kakak iparku!"


"Astaga! Gimana ini, Mas?" Miranda bertambah panik.


"Kamu ngumpet dulu di kamar mandi sana! Bawa barang-barangmu sekalian!" Rio menghentikan kegiatan menyenangkannya bersama Miranda.


"Ganggu aja! Ngapain sih, Mas Fajar pagi-pagi udah ke sini!" Rio bersungut kesal, dia bangkit dari kasur, kemudian mengenakan kembali pakaiannya. Sedangkan Miranda memilih untuk langsung lari ke kamar mandi, membawa pakaian, juga tas kecilnya.


Tok tok tok!


"Rio! Kamu masih di rumah, kan?" Fajar kembali mengulang panggilannya, untuk ketiga kalinya. Meskipun seperti preman, tapi Fajar tahu aturan mengetuk pintu rumah seseorang. maksimal tiga kali, meskipun di rumah adiknya sendiri. Kalau sampai ketiga kali tidak ada jawaban juga, berarti dia harus pergi.


"Ya, Mas! Bentar!" Rio membalas berteriak dengan malas. Fajar tersenyum, akhirnya mendapat tanggapan dari dalam rumah.


Rio berjalan ke pintu depan, membuka kunci dan membuka pintu depan.

__ADS_1


"Lama banget sih bukain pintunya?" Fajar bersungut kesal. Dia sudah terlalu lama berdiri di depan pintu, tidak sabar untuk segera meluruskan tulang-tulangnya yang terasa kaku, karena sudah sibuk sejak pagi, ditambah mengendarai motor dalam waktu yang lumayan lama.


"Maaf, Mas. Aku baru bangun tidur." Rio pura-pura menguap. Fajar percaya saja, karena wajah Rio memang masih bau bantal. Berminyak dan kucel.


"Jam segini baru bangun?" Fajar mendecak, geleng-geleng kepala tidak percaya. Istrinya sedang tidak baik-baik saja, tapi Rio masih saja bisa tidur lama-lama. Apa dia tidak khawatir dengan kondisi istri dan calon bayinya? Fajar saja yang bukan suami Rani, malah sangat mengkhawatirkan kondisi adinya itu. Apa mungkin, sayang seorang kakak lebih besar daripada kasih sayang seorang suami?


"Iya, Mas. Soalnya baru pulang subuh tadi, jadi lanjut tidur lagi di rumah. Di sana dingin banget, tidur di lantai. Banyak nyamuk juga, jadi nggak bisa tidur. Baru bisa tidur nyenyak pas udah di rumah. Makanya baru bangun ini." Rio beralasan, padahal hanya bohong saja, semalam sepulang dari rumah sakit, dijemput oleh Miranda dan tidur bersama di kontrakan Rio.


"Oh, gitu. Yaudah nggak papa lah. Kamu belum mau ke rumah sakit?" Fajar masih belum dipersilahkan untuk masuk.


"Nanti, Mas. Mau ngurus ijin dulu. Mau ambil motor di toko yang semalem kami mau beli peralatan bayi juga. Nggak tau, jam segini udah buka apa belum. Nanti ajalah, sekalian jalan. Lagi pula Rani udah aman, ada Mama yang jagain. Nanti Mas Fajar mau ke sana juga kan? Titip pesan aja buat rani ya." Rio menjawab santai.


"Oke, nanti aku sampaikan." Fajar mengangguk.


"Masuk dulu, Mas?" Rio membukakan pintu lebih lebar. Mempersilahkan kakak iparnya untuk masuk ke dalam rumah dulu. Fajar menurut, dia memang merasa pegal-pegal. Butuh waktu sebentar untuk mengistirahatkan badannya.


"Kopi hitam ada?" Fajar meletakkan tas besar yang dia bawa di kursi ruang tamu, kemudian langsung berjalan menuju ruang tengah. Fajar memilih duduk berselonjor kaki di karpet ruang tengah, sekaligus dapur rumah Rio itu. Karena di ruang tamu hanya ada kursi kayu, tidak nyaman untuk duduk Fajar yang butuh meregangkan otot-ototnya.


"Ada, Mas. Bentar aku buatin!" Rio segera memasak air untuk membuat dua gelas kopi hitam, karena untuk dirinya juga.


Fajar mengelukkan anggota badannya, meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Namun dia tiba-tiba diam sejenak, dia merasakan ada yang aneh. Ruangan di kontrakan Rio bau parfum perempuan. Tapi dia tidak mungkin menanyakan hal itu. Bisa jadi itu parfum Rani, kan? Fajar memilih untuk mengajak Rio untuk membahas Rani.


"Kamu udah tau kabar Rani apa belum?" Fajar bertanya pada Rio yang sedang membelakanginya, meracik kopi hitam pesanannya.


"Belum, Mas. Tadi pagi aku nggak masuk bangsal dulu, tidur di teras, denger adzan langsung pulang. Juga belum lihat HP, nggak tau, Mama kirim pesan ke aku atau enggak." Rio menjawab, tanpa melihat ke arah Fajar. Dia masih asyik menyiapkan kopi.


"Oh, gitu. Katanya si Rani baru akan dioperasi, paling cepat dua hari lagi." Fajar memberitahu Rio, apa yang dia dengar dari Mamanya tadi.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Mas? Kondisi Rani belum membaik? Apa gimana?" Rio bertanya seolah khawatir. Padahal dalam hati dia merasa senang, masih ada waktu untuk bermalam bersama Miranda lagi.


"Enggak, nunggu disuntik penguat paru untuk janinnya. Butuh waktu dua hari untuk menyelesaikan suntikan supaya lengkap."


"Oh, begitu. Ya sudah nggak papa, Mas. Yang penting semuanya sehat." Rio mengantarkan kopi untuk Fajar, juga untuk dirinya. Dia kemudian ikut duduk di karpet, tempat dia dan Rani biasa makan, atau sekedar duduk-duduk santai.


"Iya, makanya aku bawa baju bayi yang ku beli pagi-pagi tadi ke sini. Ku kira kan dia mau melahirkan hari ini, jadi cepet-cepet kubawa ke rumah sakit. Ternyata enggak. Jadi kata rani suruh kamu cuci dulu." Fajar menjelaskan tujuannya datang ke kontrakan Rio.


Rio manggut-manggut.


"Yaudah, Mas. Nanti biar aku cuci. Ini kopinya diminum dulu, Mas!" Rio mempersilahkan Fajar.


"Iya." Fajar mengambil kopi miliknya, dia menghirup baunya yang wangi. Mengalahkan bau parfum yang dia cium sebelumnya. Kemudian meniup-niup kopi, untuk kemudian menyeruput kopinya.


"Hmm, mantap banget! Dari pagi udah sibuk nyiapin yang mau dibawa ke rumah sakit, jadi nggak sempat ngopi, apalagi sarapan." Fajar memuji kopi buatan Rio.


"Maaf ya, Mas. Cuma bisa kasih kopi. Mau nawarin makanan, tapi lagi nggak ada apa-apa di rumah. Aku juga belum beli sarapan." Rio merasa sungkan.


"Iya, nggak masalah. Nanti aku beli sarapan di dekat rumah sakit aja." Fajar kembali menyeruput kopinya.


"Sekali lagi maaf ya, Mas."


"Iya, tenang aja! Nggak masalah." Fajar kembali menyeruput kopinya. Tapi tiba-tiba saja Fajar mengerutkan wajahnya, perutnya terasa mulas, sesuatu yang di dalam minta untuk segera dikeluarkan. Kopi memang dipercaya melancarkan metabolisme tubuh, meskipun Fajar biasanya tidak bereaksi seperti ini.


"Kenapa, Mas?" Rio melihat perubahan ekspresi wajah kakak iparnya itu.


"Perutku tiba-tiba mules. Kamar mandi sebelah mana? Aku pengen ngeluarin tabungan ini!" Fajar meletakkan kopinya, sekarang berganti memegang perutnya.

__ADS_1


Rio lebih panik lagi, bagaimana tidak? Kalau Fajar ke kamar mandinya, bisa gawat! Bakal ketahuan kalau ada Rio menyembunyikan perempuan lain di dalam kamar mandinya!


__ADS_2