
Hari-hari berikutnya, Rani dibantu oleh Miranda untuk menjaga Rangga, maupun mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti pesan mamanya, Rani memasang kamera pengawas di tempat tersembunyi. Tentu saja tanpa sepengetahuan Rio, apalagi Miranda.
Selama Rani masih cuti, tidak ada hal-hal yang patut dicurigai. Miranda dan Rio hanya berbicara seperlunya saja, tidak saling bercanda dan lain sebagainya. Miranda juga membantu mengasuh Rangga dengan baik, dia juga mengerjakan pekerjaan rumah dengan sigap. Tidak ada tanda-tanda kalau Miranda adalah orang yang gampang emosi.
"Mungkin Mama salah orang, Miranda sepertinya orang yang benar-benar baik. Dia nggak mungkin mengkhianatiku, apa lagi dia juga orang yang pernah merasakan sakit hati karena ditinggal suaminya. Dia nggak akan mungkin melakukan hal yang sama buruknya dengan perempuan yang merebut suaminya itu, kan?" Batin Rani.
***
Tak terasa, waktu cuti berlalu dengan sangat cepat.
"Mbak, besok aku udah harus berangkat kerja. Tolong jaga Rangga, ya. Pokoknya yang penting jaga Rangga aja, kerjaan yang lain sesempatnya aja. Kalau nggak sempat juga nggak papa." Rani memberitahu Miranda, perihal dirinya yang sudah harus kembali bekerja.
"Baik, Mbak. Kalau misal Rangganya saya bawa pulang, saya rawat di kosan gimana, Mbak? Apa boleh? Saya nggak enak kalau di rumah sendirian sama Rangga, takut kalau ada barang yang hilang, saya bisa dituduh jadi tersangka." Miranda memberanikan diri bertanya.
"Oh, jangan, Mbak. Di sini aja! Jangan dibawa pulang. Saya percaya sama Mbak kok. Nggak mungkin terjadi hal yang seperti itu." Rani tersenyum.
"Trimakasih, Mbak. Jam kerja saya seperti biasa, kan? Dari pagi sampai sore saja?"
"Iya, Mbak. Saya masih jaga pagi sampai sore terus, kok. Karena punya bayi. Jadi nggak ikut jaga malam."
"Oke, kalau gitu, Mbak." Miranda setuju.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Miranda sudah sampai di rumah Rani. Karena dia sudah harus menjaga Rangga, saat Rani dan Rio berangkat kerja.
"Mbak, titip Rangga, ya! Pokoknya yang pentinv jaga Rangga, kalau mau makan, tinggal makan aja apa yang ada. Nggak papa, nggak usah sungkan!" Rani berpesan sebelum berangkat.
"Ya, Mbak. Siap. Hati-hati di jalan!" Miranda tengah menggendong Rangga, mengantarkan Rani dan Rio berangkat kerja.
"Iya, Mbak. Mbak juga hati-hati di rumah, dikunci aja nggak papa, kalau takut ada orang jahat masuk."
"Baik, Mbak." Miranda tersenyum.
"Kami berangkat dulu, Mbak! Daah, Sayaang!" Rani mencium putranya sebelum berangkat.
"Daah, Mama!" Miranda membantu menjawab.
Sepeninggal Rani, Miranda segera masuk, tak lupa mengunci pintu. Dia menjaga Rangga dengan baik.
__ADS_1
***
"Hay, Ran! Gimana kondisi kamu?" Cindy menyambut kedatangan Rani dengan cipika cipiki.
"Udah lebih baik, gimana kabar kamu? Lama banget kita nggak ketemu!" Rani meluapkan rasa rindunya dengan Cindy.
"Aku baik, aku udah punya gebetan baru!" Cindy tersenyum sumringah.
"Oh, ya? Siapa?" Rani menanggapi dengan antusias.
"Dokter Alex!" Cindy berbisik pada Rani.
"Dokter Alex, dokter bedah itu? Apa ada Dokter Alex yang lain?" Rani mengingat-ingat nama dokter Alex.
"Iya, Dokter Alex yang itu!"
"Beneran? Dia yang deketin kamu? Apa cuma kamu yang kepedean?" Rani menggoda Cindy.
"Enak aja! Dia yang deketin aku, kok. Beberapa kali dia ngajakin aku makan, trus kami juga udah sering WA-nan." Cindy tersipu.
"Wahh, hebat ya kamu! Bisa meluluhkan hati Dokter Alex yang terkenal super cool itu!" Rani takjub.
"Eh, btw, kamu gimana? Suami kamu udah berubah? Kan sekarang udah ada anak kalian, pastinya dia jadi lebih perhatian, dong?" Cindy mengungkit masalah Rani dengan Rio, dari dulu saat Rani masih hamil.
"Aku udah jarang merhatiin Mas Rio. Aku sibuk banget ngurusin anak, nggak sempet lagi kepo sama masalah dia. Dia mau ngapain juga terserah. Aku udah nggak dikit-dikit curiga gitu, sih. Yang penting dia bantuin kerjaan aku, kasih nafkah buat aku, udah. Sekarang bagiku, anak yang lebih penting, sih. Jadi perhatianku lebih banyak ke anakku. Yang nyiapin kebutuhan dia aja Mbak-mbak yang kerja di rumah." Rani duduk di kursinya.
"Eh, jangan gitu! Kalau kamu nggak perhatian sama suami, nanti dia cari perhatian di luar, lho! Gimana coba? Kamu mau kayak gitu?" Cindy memperingatkan Rani.
"Ya habisnya gimana ya, Cin. Ngurus anak udah capek banget. Buat ngurus diri sendiri aja nggak sempet, apalagi ngurus suami. Ya harusnya dia ngerti dong, gimana posisiku?"
"Masalahnya dia juga butuh perhatian kamu, Ran. Apalagi cowok, dia nggak bisa kalau nggak menyalurkan kebutuhan biologisnya terlalu lama. Aku nggak yakin sih, kalau dia tetap mengerti kamu terus menerus." Cindy menopang dagu dengan lengannya.
"Trus aku harus gimana, dong? Katanya suami istri harus saling mengerti."
"Ya berarti kamu juga harus ngerti dia dong, kalau dia juga butuh kamu?" Cindy membalik peenyataan Rani.
"Trus aku harus gimana?"
"Ya saran aku, kamu tetep urus suami kamu, jangan sampai dia jadi cari pelampiasan di luar."
__ADS_1
"Oke deh, nanti coba aku perhatian lagi sama Mas Rio." Rani baru sadar, dia kurang memperhatikan Rio, tapi juga tidak mau kalau kehilangan suaminya.
***
Setiap malam, Rani menyempatkan mengecek rekaman video dari kamera tersembunyi yang ia pasang. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan dari Miranda. Dia memperlakukan Rangga dengan baik.
Suatu pagi, Miranda datang terlambat.
"Mas, kok Miranda belum datang juga, ya?" Rani mulai panik, dia harus segera berangkat.
"Nggak tau, dia nggak bilang-bilang. Kamu kalau mau berangkat, nggak papa. Rangga biar aku jagain. Aku masuk sore, kok." Rio menenangkan Rani.
"Beneran nggak papa? Nanti kalau ternyata Miranda nggak datang gimana? Katanya dulu dia dipecat dari laundry karena beberapa kali bolos, gara-gara anaknya sakit. Kalau ternyata terjadi hal yang sama gimana, Mas? Kamu berangkat jam berapa? Biar aku pulang agak cepat." Rani tidak bisa tenang begitu saja.
"Biasa, masuk jam 4. Gampang lah nanti, kalau Miranda nggak datang, aku yang ijin juga nggak papa."
"Jangan dong, Mas. Kalau dia nggak datang, kabari aku, ya! Biar aku pulang cepet." Rani mencari jalan tengah.
"Yaudah, gitu aja nggak papa. Nanti aku kabari!"
"Oke, Mas. Aku berangkat dulu, ya!" Rani mencium punggung tangan suaminya.
"Iya, hati-hati ya!"
Rani berangkat kerja dengan perasaan yang tidak tenang. Sesampainya di rumah sakit, dia masih saja merasa gundah. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Rio juga tidak memberinya kabar sama sekali.
"Cin, aku pulang agak cepet nggak papa, ya? Anakku nggaka ada yang jagain. Mbak miranda tadi pagi belum datang, Mas Rio masuk jam empat. Dia nggak kasih kabar aku, mungkin saking sibuknya ngurus Rangga." Rani bersiap pulang, bahkan sebelum adzan 'Asar berkumandang.
"Oh, yaudah nggak papa, nanti aku gantiin tugas kamu." Cindy mengiyakan. Dia memang teman yang baik.
"Makasih banyak ya, Cin. Kamu memang temen baik aku!" Rani tersenyum tulus.
"Iya, sama-sama. Yaudah, sana kalau mau pulang dulu! Keburu suamimu berangkat kerja." Cindy mengingatkan.
"Oke, aku pulang dulu, ya!" Rani berpamitan.
"Oke, hati-hati, Ran!"
Rani segera pulang ke rumah kontrakannya yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja. Sesampainya di di rumah, Rani langsung membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
__ADS_1
Rani menutup mulutnya yang ternganga, ia terkejut dengan apa yang dilihatnya.