
"Udah, udah! Balik ke pembahasan awal!" Rio menyudahi tuduhan Rani yang terus-menerus dilayangkan padanya.
"Hhh." Rani membuang nafas kasar.
"Jadi kalau kamu udah selesai cuti, anak kita mau gimana? Dititipkan sama Mama? Atau gimana? Yang jelas nggak bisa titip ke Ibuku. Kasian beliau udah sepuh, juga ngurusin adik-adikku banyak." Rio mengembalikan topik pembahasannya.
"Nah itu juga yang baru aku pikirkan, Mas. Nggak mungkin juga nitip di Mamaku. Soalnya Mama kan kerja juga, kalau nggak kerja, nggak bisa penuhi biaya hidup. Sedangkan kita juga belum bisa bantu penuhin biaya hidup Mama juga, kan?" Akhirnya Rani terpancing untuk kembali membahas tentang pengasuhan anaknya.
"Trus mau gimana? Mau pakai jasa baby sitter? Apa mau dititipkan ke penitipan anak?" Rio memberikan pandangan pada istrinya.
"Itu, aku belum pikirkan, Mas. Besok kita lihat aja, mana yang biayanya lebih terjangkau." Ucap Rani pada akhirnya.
"Yaudah kalau gitu. Besok aja, dipikirkan lagi."
"Iya, Mas."
***
"Cin, maaf nih. Aku mau tanya, tapi tolong jangan tersinggung, ya!" Ucap Rani suatu hari.
"Tanya apa?" Jawab Cindy.
"Janji dulu! Kamu nggak bakalan tersinggung, sakit hati dan sedih lagi!" Rani mewanti-wanti.
"Iya, iya. Janji! Tanya apa sih? Tanya aja!" Cindy geregetan juga, Rani berbeli-belit.
"Oke, aku mau tanya. Kamu kan udah pernah jadi korban perselingkuhan suami kamu, ya? Itu gimana awalnya kok bisa ketahuan?" Rani bertanya dengan hati-hati.
"Oh, itu sih nggak tau gimana awalnya. Tapi aku tiba-tiba aja lihat foto di FB. Foto suamiku sama perempuan lain, nempel gitu, dan fotonya itu di dalam mobilku. Soalnya kan aku sama suamiku dulu punya usaha mirip biro perjalanan gitu. Cuma skala kecil. Jadi suamiku emang sering keluar kota, anterin orang-orang yang lagi butuh diantar ke luar kota. Nggak tau itu, suamiku kenal sama perempuan itu dimana." Cindy mengisahkan masa lalunya yang belun terlalu lama terjadi sebenarnya.
"Trus kamu gimana?"
"Ya aku selidiki terus, trus juga aku tanya langsung sama mantan suamiku dulu. Apa yang sebenernya terjadi, meskipun awalnya nggak mau ngaku sih ya. Mana ada maling mau ngaku kan. Tapi akhirnya tetep sih, suamiku ternyata pilih dia." Jawab Cindy lagi.
"Kamu tegar banget ya."
__ADS_1
"Ya mau gimana, namanya orang selingkuh nggak ada obatnya sih. Daripada aku sakit hati setiap hari, mending ya udah ikhlasin aja. Lagian aku belum punya anak juga dari dia. Jadi ya, aku nggak ada yang kupikirkan banget, tentang masa depan anakku, misalnya." Cindy menjelaskan dengan tegar. Rasa sakitnya seperti sudah benar-benar hilang.
"Emangnya kenapa, kok kamu tanya gitu?" Cindy jadi penasaran, motif Rani bertanya hal itu.
"Enggak. Aku cuma merasa curiga aja sama suamiku. Sekarang kok tambah menjadi aja." Rani tertunduk.
"Kamu belum jadi cek sosmed dia? Chat dia?"
"Belum. Nggak pernah ada kesempatan. HP-nya benar-benar nggak pernah lepas dari pengawasannya. Aku aja sampai heran, kapan Mas Rio mengisi daya HP-nya. Aku sama sekali nggak pernah lihat dia isi daya, dan meninggalkan HP-nya tergeletak gitu."
"Ya mungkin kalau kamu lagi nggak ada di rumah. Kan kadang kalian nggak kerja di jam yang sama kan?" Cindy menduga-duga.
"Iya juga, sih. Masalahnya tuh HP selalu dibawa. Dimasukin ke saku celananya. Ke kamar mandi juga dibawa. Kalau lagi buang air sih wajar ya, bisa aja emang disambi scroll-scroll berita terbaru. Tapi Mas Rio itu nggak cuma pas lagi buang air aja bawa HP-nya. Lagi mandi juga dibawa. Kalau kamu jadi aku, bakal curiga nggak sih?" Rani menceritakan kecurigaan pada suaminya.
"Kalau aku jadi kamu sih pasti curiga ya, soalnya aku dulu emang percaya banget sama suamiku. Dia juga selalu manis kalau sama aku. Jadi aku nggak pernah menaruh rasa curiga sama dia. Tapi ternyata apa yang kudapat? Dia tetep aja kegoda sama perempuan lain. jadi, kamu lebih baik waspada aja sih." Cindy memberikan sarannya.
"Kira-kira apa ya yang disembunyikan Mas Rio dari aku? Kok dia sampai segitunya?" Rani kembali bertanya pendapat Cindy.
"Kalau menurutku sih diantara dua."
"Pertama, dia emang nggak mau rahasianya ketahuan sama kamu, jadi dia HP dia kemanapun dia pergi. Kedua, dia emang melakukan sesuatu yang nggak bisa dilihatkan sama kamu di kamar mandi." Cindy memberikan pendapatnya.
"Nah itu juga kecurigaanku, aku curiga kalau Mas Rio itu melakukan sesuatu di kamar mandi. Tapi entah aku nggak tau. Apa dia nonton video yang nggak pantas ditonton ya? Makanya dia sembunyi-sembunyi dari aku?" Rani mulai menganalisa.
"Tapi kalau udah suami istri sih, nonton begituan bareng juga nggak masalah. Meskipun sebenernya dilarang oleh agama sih. Tapi biasanya kan gitu, nonton bareng, jadi hubungannya lebih mesra, ya ngga?" Cindy ikut memberikan pendapatnya.
"Masalahnya setelah aku tau kalau hamil, aku nggak pernah lagi begituan sama Mas Rio. Jadi ya Mas Rio nggak mungkin ngajak aku nonton begituan, biar hubungan tambah mesra atau semacamnya, seperti apa kata kamu." Rani lama-lama bercerita tentang hal yang sebenarnya tidak boleh diceritakan pada orang lain. Meskipun dia adalah teman dekatnya.
"Coba aja deh, sekali-sekali kamu paksa pinjam HP dia. Biar nggak penasaran terus." Cindy lama-lama greget juga. Masalah Rani seperti tidak akan ada titik terang.
"Mana mungkin dikasih, Cin." Rani putus asa.
"Ya udah deh kalau gitu. Berjalan apa adanya aja. Kamu harus yakin kalau Tuhan nggak tidur. Seperti kasusku. Aku nggak pernah curiga apa-apa sama mantan suamiku, tapi tiba-tiba ditunjukkan gitu, belangnya dia. Padahal aku nggak minta dan juga nggak coba cari-cari tau. Tapi ya kembali lagi, kamu harus siap dengan semua kemungkinan, termasuk yang terburuk." Cindy akhirnya memberikan masukan yang positif untuk Rani, setelah berkali-kali mengompori Rani, memupuk rasa curiga pada suaminya.
"Iya juga sih. Pusing banget aku kalau mikirin hal ini."
__ADS_1
"Nah itu, mendingan nggak usah kamu pikirkan. Enjoy aja. Kamu kan nggak boleh banyak pikiran? Kamu harus jaga kesehatan janin kamu. Kalau ibunya stres, dia juga bisa ikut stres. Kalau jadi perkembangannya nggak maksimal gimana? Kan kasian sama dia?" Cindy mengusap-usap perut Rani yang sudah semakin besar itu.
"Iya juga sih, aku harusnya fokus sama kesehatanku sama anakku aja. Nggak usah mikirin hal yang lain." Ucap Rani pada akhirnya.
"Nah iya, gitu lebih bagus. Kamu percaya sama aku. Kalau emang ada bangkai, lama-lama akan tercium juga. Nggak perlu kamu cari-cari, pasti akan tercium baunya. Tapi kamu tetap harus berdo'a, semoga keluarga kalian baik-baik aja. Bebas dari berbagai macam godaan dan juga masalah-masalah. Kalaupun ada masalah, harus bisa diselesaikan dengan kepala dingin." Cindy kembali berpesan pada Rani.
"Iya, kamu bener. Makasih banyak ya, Cin. Aku jadi bisa berpikir lebih luas dan punya hati yang lebih lapang. Semoga tidak ada yang perlu kucurigai lagi dari Mas Rio." Rani tersenyum.
"Aamiin."
"Aduh!" Rani memegangi kepalanya.
"Kamu kenapa, Ran?" Cindy jadi panik.
"Kepalaku pusing banget ini. Apa bawaan bayi ya?" Rani mengira-ira.
"Bisa jadi, tapi pusingnya banget apa enggak? Kalau pusing banget, mending kamu periksa aja!"
"Nggak terlalu sih, masih bisa ditahan, kok." Rani memijit-mijit kepalanya dengan lembut.
"Apa mau minum paracetamol?" Cindy memberikan opsi lain.
"Aku takut kalau sering mengkonsumsi obat, Cin. Jadi aku cuma minum vitamin aja." Rani menolak usulan dari Cindy.
"Kan nggak sering, ini cuma biar nggak sakit kepala aja. Kalau sakit kepala, gimana mau kerja? Padahal kamu juga tetap harus mengurus pasien, 'kan?" Cindy tetap membujuk Rani.
"Yaudah deh, sesekali nggak papa kali, ya?"
"Iya, nggak papa. Kan nggak setiap hari juga minum obatnya, kan?"
"Iya juga sih. Mudah-mudahan tidak masalah sama kondisi janinku."
"Aamiin."
***
__ADS_1