
"Kamu jangan bikin Mama jadi takut deh, Ran! Kamu harus yakin, semua akan baik-baik saja!" Ucap Laras lagi, saat Rani belum juga menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Aku cuma berfikir kalau mungkin saja hidupku tidak lama lagi, Ma. Kalau misalnya hal itu benar-benar terjadi, aku mohon, Mama jaga anakku, ya! Biar aku bisa pergi dengan tenang." Ucap Rani memelas, air matanya mulai menetes. Membayangkan hal buruk yang mungkin saja terjadi. Bukankan melahirkan adalah pertaruhan antara hidup dan mati? Meskipun dia akan melahirkan dengan cara caesar, tapi kalau kondisinya seperti ini terus, kamungkinannya bisa bertahan hidup juga tinggal separuhnya kan?
"Sudahlah, jangan kamu pikirkan! Yang penting sekarang kamu pikirkan kondisi kamu, juga bayi kamu. Kamu ikuti saran dari dokter, supaya jangan banyak pikiran. Nanti malah tensi kamu nggak turun-turun." Laras mengusap kepala putrinya.
"Tapi Mama janji dulu, kalau hal yang terburuk terjadi sama aku, Mama harus mau merawat anakku, juga menyayanginya seperti anak Mama sendiri, ya?"
Laras menarik nafas berat. Membayangkan hal itu saja sudah membuatnya sangat sedih. Tapi dia harus kuat, dia tidak boleh terlihat lemah di depan Rani. Supaya Rani menjadi semangat untuk sehat.
"Iya, Mama janji! Mama akan merawat anak kamu dengan baik, ada atau tanpa ada kamu. Mama janji!" Laras menekankan ucapannya, supaya Rani benar-benar yakin, semua akan baik-baik saja.
"Trimakasih banyak ya, Ma!" Rani kini tersenyum, perasaannya jadi lebih tenang.
"Sama-sama, Nak!"
Rani memejamkan matanya lagi, kemudian tertidur. Sedangkan Laras pergi untuk mandi, juga membeli sarapan di luar. Jarak kantin yang jauh dari ruang bersalin, membuat Laras memilih untuk membeli makanan di luar gerbang rumah sakit saja. Meskipun terlihat tidak higenis, terpaksa Laras membeli di sana, daripada harus meninggalkan Rani lama-lama.
Laras kembali ke ruangan Rani, memastikan Rani baik-baik saja.
"Syukurlah, dia masih bisa tidur." Laras tersenyum lega. Dia memilih untuk keluar ruangan lagi, untuk menikmati sarapannya sebentar.
Setelah menghabiskan sarapannya, Laras kembali ke ruangan. Ternyata perawat yang berjaga sudah mulai berkeliling. Laras mempercepat langkahnya, dia tidak mau kalau sampai ketinggalan informasi terkait perkembangan Rani juga janin dalam kandungannya.
Sesampainya di ruangan Rani, ternyata Rani masih tertidur. kemungkinan perawat belum sampai di ruangan Rani. Karena ruangannya memang terletak di paling ujung bangsal bersalin itu.
"Syukurlah." Laras segera masuk ke ruangan, kembali meletakkan tasnya, juga merapikan bilik Rani. kemudian membangunkan Rani.
"Ran! Bangun, Sayang! Sebentar lagi ada perawat mau memeriksa." Laras berucap dengan lembut.
Rani mengerjapkan matanya.
"Eh, iya, Ma. Rani tidur lama banget ya?"
__ADS_1
"Enggak kok. Kamu mau cuci muka dulu? Biar lebih segar?" Laras mengambilkan baskom air hangat yang ada di bawah ranjang Rani. Mungkin saja diletakkan di sana saat dia di luar tadi.
"Boleh, Ma." Rani mengangguk.
Laras dengan cekatan mengelap wajah, juga anggota badan Rani yang diinginkan oleh Rani. betul seperti apa yang diperkirakan Laras, Rani menjadi lebih segar, tidak kuyu seperti tadi.
"Mau makan? Apa nanti?" Laras kembali menawarkan Rani.
"Nanti aja, Ma. Siapa tau nanti dikasih obat yang harus diminum sebelum makan."
"Okelah kalau gitu, kita tunggu perawat yang keliling aja. Mungkin tadi bagi-bagi obat." Laras membereskan baskom, juga mengelap air yang menetes di lantai.
"Biasanya begitu, Ma. Ini infusnya juga sudah mau habis, nanti minta diganti sekalian aja!"
"Iya, Mama buang air ini dulu ya."
"Oke, Ma." Rani kembali memberingkan badannya, kepalanya sudah minta untuk segera bersatu dengan bantal.
Laras berjalan ke wastafel yang ada di dalam ruangan itu juga, untuk membuang air bekas menyeka Rani tadi. Tak lama kemudian, datang perawat ke ruangan Rani.
"Selamat pagi, Sus!" Rani tersenyum. Laras bergegas masuk ke dalam bilik Rani yang tertutup gorden itu, dia tidak mau ketinggalan informasi yang penting.
"Suntik dulu ya, Bu. Ini suntik penguat paru untuk janin, nanti akan diberikan empat kali, pagi dan sore hari. Jadi disuntikkan selama dua hari, supaya bayi tetap kuat, meskipun lahir belum pada umurnya." Perawat menjelaskan penanganan yang akan didapatkan oleh Rani.
"Baik, Sus." Rani mengangguk.
"Bisa tidur miring, Bu?"
"Bisa, Sus." Rani segera mengganti posisinya, mengikuti instruksi dari perawat. Tidur miring, membelakangi perawat yang ada di sebelah kanannya, karena memang yang disuntik bagian belakang sebelah kanan.
"Nanti reaksinya ada rasa krenyes-krenyes gitu ya, Bu. Jadi tidak perlu panik kalau merasakan hal yang berbeda!" Perawat kembali memberikan penjelasan.
"Baik, Sus."
__ADS_1
"Tarik nafas ya, Bu!"
Rani menurut, dia menarik nafas panjang, merasakan sensasi cekit-cekit akibat tusukan jarum, juga menjalarnya obat yang dipompa masuk ke dalam tubuhnya. Meskipun biasa menyuntik pasien, tapi dia sangat jarang disuntik. Jadi tetap saja, Rani belum terbiasa.
"Sudah!" Perawat kembali merapikan pakaian Rani yang tersingkap, untuk di suntik.
"Ini nanti obatnya diminum ya, Bu!" Perawat yang satunya menyerahkan bungkusan obat kepada Laras.
"Trimakasih, Sus." Laras menerima obat, dan mencermati aturan pakai obat itu.
"Sus, sama minta infus, ini udah hampir habis." Rani mendongak, melihat ke arah botol infus yang sudah kempes, karena 95% isinya sudah berpindah ke tubuhnya.
"Baik, Bu." Perawat dengan cekatan mengganti infus Rani, kemudian keluar setelah semua urusannya selesai.
"Ini, sarapan dulu, Ran! Obatnya diminum sesudah makan." Laras membuka jatah makan Rani yang ada di tempat makan bulat berbahan stainless.
"Wah, makanannya enak-enak ini, Ran." Laras takjub dengan isi makanan di rumah sakit itu, benar-benar bergizi lengkap dan seimbang. Juga terlihat sangat enak.
"Bentar, Ma! Lagi merasakan sensasi efek suntikan tadi ini." Rani meringis, mengernyitkan dahi dan menyipitkan matanya. Sensasinya memang seperti apa yang dikatakan oleh perawat tadi. Krenyes-krenyes, atau cekit-cekit, seperti digigit banyak semut. Beruntung reaksinya tidak ada satu menit, sudah selesai.
"Sini, Ma! Aku butuh banyak energi, mumpung belum disuruh puasa." Rani berusaha bangun sendiri. Meskipun sulit, tapi dia masih bisa.
"Mau Mama suapin?" Laras menawarkan, karena tangan kanan Rani dipasangi infus, mungkin saja akan kesulitan saat makan.
"Aku bisa sendiri kok, Ma!" Rani menolak secara halus, dia tidak mau terlalu merepotkan Mamanya.
"Okelah kalau begitu."
Laras meletakkan tempat makanan di meja kasur, di depan Rani yang sekarang sedang duduk bersila. Rani mulai menyantap makanannya.
"Gimana, Ran? Enak nggak?" Laras bertanya penasaran.
"Agak hambar sih, Ma. Mungkin karena emang aku udah kelebihan garam, jadi makanannya hambar begini." Rani tetap menyantap makanannya, meskipun rasanya tidak seenak kelihatannya.
__ADS_1
"Ya sudah nggak papa, berarti memang menyesuaikan sama kondisi kamu. Tetep dimakan ya, Nak! Mudah-mudahan samua segera membaik." Laras mewanti-wanti Rani, karena dari raut wajahnya, dia terlihat tidak menyukai masakan rumah sakit itu.