Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 15


__ADS_3

Sejak kejadian malam itu, Rio jadi lebih sering membawa HP-nya ke kamar mandi, saat sedang ada Rani di rumah. Tingkah Rio itu tentu saja membuat Rani menjadi menaruh curiga.


"Mas Rio kenapa sih? Ke kamar mandi bawa HP, mana lama banget nggak keluar-keluar?" Rani bergumam seorang diri.


Tak mau terus didera rasa penasaran, Rani akhirnya mengetuk pintu kamar mandi.


"Mas! Masih lama nggak?"


"Bentar!"


Tak lama kemudian, Rio membuka pintu kamar mandi, sambil memasukkan HP-nya di dalam saku celana pendek yang ia kenakan.


"Lama banget sih, Mas? Pake bawa-bawa HP segala. Kalau nyemplung, baru tau rasa!" Ucap Rani sewot.


"Ya biarin aja! Kalau orang luar negri kan kalau ke kamar mandi sambil baca koran, baca majalah. Kalau aku sih sambil mainan HP, nggak ada bedanya kan?" Rio beralasan.


"Terserah deh!" Rani segera masuk ke kamar mandi, pura-pura kebelet, karena tadi sudah mengganggu ritual suaminya di kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Rani masih saja berpikir, 'Apa emang itu alasan Mas Rio selalu bawa HP ke kamar mandi? Tapi masa mandi juga bawa HP sih? Kalau emang cuma buang air sih bisa dimaklumi. Tapi kalau mandi bawa HP? Aneh banget nggak sih? Atau jangan-jangan emang ada sesuatu di HP-nya Mas Rio, ya? Gemes banget deh, nggak pernah bisa lihat HP dia!'


"Sabar ya, Nak. Mamamu selalu berpikir negatif terus, semoga nggak nular ke kamu ya, Nak." Ucap Rani lirih, sambil mengelus perutnya yang sudah semakin membesar.


"Kalaupun memang ternyata papamu bukan orang yang baik untuk Mama, setidaknya dia tetap papamu. Kamu harus tetap menyayanginya, terlepas bagaimanapun sifat dan sikap papamu sama Mama dan juga sama kamu." Rani kembali membuat pesan untuk janin yang masih dalam perutnya. Meskipun tanpa jawaban, tapi Rani yakin bahwa janinnya bisa tau apa yang dia katakan dan juga dia rasakan.


Setelah merasa cukup di dalam kamar mandi, Rani keluar dan mendapati suaminya sedang bermain game.


"Hhh, apa bakal seperti ini terus ya?" Rani menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Mas!" Rani menegur suaminya yang sedang asyik menggerakkan dua jempol tangannya di layar ponselnya.


"Hmm." Jawab Rio tanpa menoleh.


"Coba deh, kamu kurangin main game-nya!" Ucap Rani tanpa basa-basi.


"Emangnya kenapa?" Rio masih tetap asyik.


"Kalau anak kita udah lahir gimana? Kalau kamu cuma mainan HP terus."


"Itu sih pikir besok aja, nggak usah dipikirin sekarang. Kalau sekarang kan masih senggang, jadi nggak masalah kan, kalau aku mainan HP terus? Mau ngapain lagi coba, kalau nggak mainan HP." Jawaban Rio membuat Rani semakin sebal saja.


"Kan bisa ngobrol-ngobrol, ngomongin rencana kita selanjutnya, Mas?"


"Rencana apaan lagi sih? Rencana persalinan? Nggak usah kamu pikirin, kan kamu ada BPJS, trus yang penting siap-siap biaya kan? Kita sama-sama kerja, sama-sama nabung, yaudah cukup. Nggak usah dipikirin banget-banget, lah!" Jawab Rio enteng.


Rio akhirnya menghentikan aktifitasnya, karena terganggu dengan istrinya mengajak bicara terus. Dia memilih menyimpan ponselnya di saku celananya.


"Jadi mau gimana? Aku sih terserah kamu aja, mau gimana." Rio mau tidak mau, akhirnya menanggapi apa yang ingin dibahas oleh istrinya itu.


"Kalau selama cuti sih aku bisa ngasuh anak kita, mungkin aku minta bantuan Mama untuk ngurus di hari-hari pertama, kalau aku belum pulih banget kondisinya."


"Yaudah, gitu aja nggak papa. Mama yang kamu minta ke sini, atau kamu yang mau tinggal di rumah Mama untuk sementara juga nggak masalah." Rio menanggapi.


"Kalau aku tinggal di rumah Mama, kamu juga harus ikut dong, Mas. Aku nggak mau kalau aku di sana dan kamu tetep di sini. Enak aja! Ini anak kita, jadi kamu juga harus ikut andil dalam merawatnya. Jangan mau enaknya doang!" Omel Rani.


"Iya, iya! Kamu itu, kebiasaan banget, ngomel-ngomel terus. Hormati suamimu dikit bisa nggak sih? Kalau ngomong yang lembut. Dulu kamu nggak gini lho! Makanya aku mau nikah sama kamu. Ternyata pas udah nikah, kamu bener-bener berbeda dari yang dulu."Rio balik mengomeli istrinya.

__ADS_1


"Oh! Sama kalau gitu, Mas. Aku juga mau nikah sama kamu, karena kamu selalu manis dan menjadikan aku seperti ratu. Tapi ternyata sekarang, bener-bener beda. Kamu jadi lebih suka mainan HP. Padahal dulu kamu nggak gitu, lho! Kalau lagi sama aku, kamu selalu simpan HP kamu, nggak mau kalau sampai ada yang ganggu. Atau jangan-jangan?" Rani tiba-tiba terpikirkan hal yang aneh.


"Jangan-jangan apa? Nggak usah mikir yang aneh-aneh, deh!" Tukas Rio.


"Aku jadi curiga, jangan-jangan dulu kamu selalu simpan HP kamu, karena kamu nggak mau ketahuan, kalau ternyata ada yang kamu sembunyikan? Sama seperti sekarang, kamu nggak pernah lepas dari HP kamu, bahkan ke kamar mandi juga kamu bawa, itu juga karena ada yang kamu sembunyikan, Mas? Jawab jujur!" Rani bertambah berani saja, mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Sejenak Rio tergagap, seperti takut ketahuan belangnya.


"Kamu ngomong apa sih? Nggak ada yang aku sembunyikan!" Rio mengelak.


"Trus apa yang sebenernya terjadi? Kenapa kamu seperti takut banget kalau aku sampai lihat isi HP kamu?" Rani memang tidak punya bukti, jadi dia hanya bisa terus memancing jawaban dari Rio.


"Kan aku udah bilang, biar nggak bosen aja di kamar mandi. Jadi aku sambil mainan HP, kalau orang luar negri kan sambil baca majalah atau koran, lah sekarang kan jamannya udah canggih. Jadi ya bawanya HP, apa ada yang salah?" Rio kembali memberikan alasannya.


"Oke. Kalau lagi buang air sih bisa dimaklumi ya, meskipun itu juga sebenernya kebiasaan buruk. Sama seperti orang kolot, kalau buang air sambil merokok, yang katanya biar tambah nikmat. Tapi kalau lagi mandi? Kenapa HP kamu di bawa ke kamar mandi juga? Masa iya, kamu mandi sambil lihat-lihat beranda? Nggak mungkin, kan? Salah-salah malah HP kamu yang kena guyur air." Rani masih tidak bisa menerima alasan dari suaminya.


"Kan aku sambil muter musik, biar nggak sepi." Rio masih saja berkilah.


"Tapi aku kok nggak denger, kalau kamu muter musik, Mas? Harusnya dari luar tetep kedengeran kan? Trus juga kamu akhir-akhir ini mandinya lama banget. Dari luar aku dengerin, lho! Beberapa menit awal kamu masuk itu nggak pernah ada suara air diguyur. Paling cuma suara kran yang kebuka aja!" Rani kembali melayangkan kecurigaannya.


"I-itu karena aku buang air dulu." Rio masih saja bisa mencari alasan.


"Masa setiap mandi selalu buang air dulu?" Rani tetap belum bisa menerima alasan dari Rio.


"Emangnya kenapa? Nggak boleh? Kamu ini! Kerjaannya cuma curigaaa, terus. Apa nggak ada kerjaan lain, hah?" Rio balik memarahi Rani. Sebagai upaya pembelaan diri.


"Karena kamu emang patut dicurigai, Mas!" Rani tak mau kalah.


***

__ADS_1


__ADS_2