
Keesokan harinya, Rani berbincang dengan mamanya saat bersama-sama masak untukĀ sarapan.
"Ma, aku sama Mas Rio mau ngontrak." Ucap Rani langsung pada intinya.
"Ngontrak dimana?" Laras cukup kaget dengan rencana putrinya yang dinilai tiba-tiba itu.
"Di dekat rumah sakit tempatku kerja, Ma. Biar deket juga kalau mau berangkat kerja pagi-pagi. Soalnya kalau pagi-pagi suka repot, siapin sarapan dan lain-lain, sekarang bukan cuma mikirin diri sendiri, tapi juga melayani Mas Rio. Jadi kalau tinggalnya lebih dekat dengan tempat kerja kan lebih enak, Ma. Nggak terlalu diburu waktu." Rani menjelaskan alasan yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya.
"Kalau di sini kan Mama bisa bantuin kamu nyiapin sarapan, buat kamu juga Rio. Mama nggak masalah, kok." Laras masih keberatan dengan rencana putrinya itu.
"Rani yang nggak enak, Ma. Sekarang kan Rani udah jadi seorang istri, harus bisa berlatih mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Rani nggak mau ngerepotin Mama lagi dan lagi."
"Nggak papa, Mama masih bisa kok, bantuin kamu. Mama keberatan kalau kalian pindah dari rumah ini. Kenapa kok tiba-tiba jadi pengen ngontrak, sih? Jujur Mama masih belum percaya sama Rio. Mama masih nggak rela kalau kamu cuma tinggal sama dia." Ucap Laras yang membuat Rani menjadi bertanya-tanya.
"Loh, emangnya kenapa, Ma? Kan kami berdua udah jadi suami istri, kalau tinggal berdua aja nggak masalah kan?" Rani merasa heran dengan apa yang diucapkan oleh mamanya.
"Mama takut kalau Rio menyakiti kamu, Ran. Caranya dia menjebak kamu itu udah jadi bukti kalau dia bukan pria baik-baik. Tapi anehnya, kamu kok masih nggak bisa membuka mata hati kamu itu lho. Mama juga heran. Dia itu pakai guna-guna apa gimana sih? Kok kamu bisa selalu memaafkan apa yang dia lakukan. Padahal kalau orang normal, pasti bakalan marah se marah-marahnya. Bisa jadi se benci-bencinya. Perbuatannya sama kamu itu sama halnya seperti memperk*sa, karena kamu sebenarnya juga tidak menginginkannya, 'kan?" Laras mencoba kembali membuka mata dan pikiran Rani.
"Iya, Ma. Rani tau, Mas Rio salah. Tapi mau bagaimana, Ma? Kalau aku putuskan dia, aku juga yang repot. Kalau aku sampai hamil gimana? Siapa yang mau tanggung jawab? Mana ada lelaki yang mau sama Rani yang udah jadi bekas orang lain? Rani nggak punya pilihan lain, selain melanjutkan hubungan dengan Mas Rio, Ma. Dia mau bertanggung jawab aja udah syukur banget. Setidaknya nasib Rani jauh lebih baik dari pada perempuan-perempuan yang ditinggal sesudah dicoba sama pacarnya." Rani berkata memelas.
"Malang sekali nasib kamu, Nak. Kalau aja dari dulu kamu nggak kenal sama Rio, mungkin nasib kamu nggak akan seperti ini." Sejengkel apapun Laras kepada Rani, tetap saja dia adalah seorang ibu yang selalu mengasihi anaknya.
__ADS_1
"Nggak papa, Ma. Semua udah terjadi, menyesal pun nggak ada gunanya. Lebih baik terus hadapi apa yang ada di depan aja." Rani bisa memahami apa yang dirasakan mamanya.
"Ya sudah, pokoknya kamu hati-hati! Meskipun dia suami kamu, tapi kalau kamu merasa disakiti, lawan aja nggak papa. Jangan mau kalau kamu diinjak-injak. Mama juga pesan, kamu tetep kerja, cari uang sendiri, supaya tidak bergantung sama suami kamu itu. Jujur aja, Mama masih terus saja berprasangka buruk sama dia." Laras benar-benar mengeluarkan semua unek-uneknya sekarang.
"Iya, Ma. Aku juga nggak ada niatan untuk berhenti kerja kok, Ma."
"Bagus itu, pokoknya kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita sama Mama."
"Iya, Ma. Mama tenang aja. Doakan Rani supaya semua berjalan baik-baik aja ya, Ma!"
"Pasti. Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak Mama, meskipun ternyata yang terbaik menurut Tuhan tidak sama seperti yang Mama inginkan." Laras kembali mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan bagi Rani.
"Mungkin memang Mama yang salah mendidik, kamu nggak peru minta maaf sama Mama." Jawab Laras sambil mengusap-usap lengan putrinya.
"Mama jangan ngomong gitu lah, Ma. Bukan Mama yang salah mendidik kami, tapi memang kami bertiga yang keras kepala dan suka berbuat semaunya sendiri. Nggak pernah mendengarkan nasehat Mama." Rani tidak mau membuat mamanya jadi semakin sedih karena merasa bersalah.
Fajar, anak pertamanya yang diharapkan menjadi pelindung Mama dan adik-adiknya, justru salah pergaulan. Dia tidak mau meneruskan sekolah dan memilih jadi preman pasar. Pekerjaannya serabutan tidak karuan.
Dewi, anak keduanya yang cerdas dan pintar, disekolahkan sampai kuliah di luar kota. Tidak pernah pulang, alasannya sedang sibuk kuliah dan lain sebagainya. Ternyata pulang-pulang sudah bersama lelaki tua dan membawa balita. Entah apa yang terjadi di kota sana, tidak ada yang tau kejadian sebenarnya. Dewi menolak cerita.
Dan sekarang, Rani, anak bungsunya yang diharap-harapkan memiliki akhlak lebih baik dari kedua kakaknya, ternyata sama saja. Jadi budak cinta, sampai melupakan segalanya. Wajar saja kalau Laras merasa benar-benar gagal dalam mendidik anak-anaknya.
__ADS_1
"Pokoknya satu pesan Mama, untuk kali ini aja, tolong kamu ingat-ingat dan turuti, ya!"
"Apa, Ma? Rani pasti akan turuti!"
"Kamu harus jadi wanita yang kuat, tangguh dan jangan bergantung dengan suamimu. Jadi, kalau suamimu berbuat sesuatu yang melenceng, kamu masih tetap bisa berdiri tegak di atas kakimu sendiri. Tolong ingat pesan Mama ini, ya!" Laras memberikan wejangan terakhir untuk anak bungsunya itu.
Wejangan yang terdengar janggal. Bukan wejangan untuk mentaati suami, hormat dan tunduk seperti yang biasa diberikan saat pengajian pernikahan, atau wejangan untuk menyelesaikan masalah berdua saja. Namun, yang diwejangkan Laras justru menyuruh Rani untuk berjaga-jaga dan selalu waspada jika menghadapi kemungkinan terburuk. Bahkan cenderung berharap kalau hubungan Rani dan Rio segera berakhir saja.
Laras yang sudah pernah memergoki Rio berjalan bergandengan tangan dengan perempuan lain, sambil bercanda dan tertawa, membuatnya memberikan cap pada Rio bahwa dia bukan lelaki yang setia. Laras yakin sekali, saat itu Rio sudah menjalin hubungan dengan Rani. Karena sebelum Rani mengenalkan Rio padanya, Laras tidak mengenal Rio sama sekali. Jadi, saat melihat Rio waktu itu, berarti Rio sudah dikenalkan oleh Rani padanya.
"Iya, Ma. Aku pasti ingat pesan Mama ini. Trimakasih banyak ya, Ma. Masih mau memaafkan Rani. Padahal Rani udah mengecewakan Mama terlalu banyak." Rani kembali memeluk mamanya.
"Sampai kapanpun, kalian tetap anak-anak Mama. Apapun yang kalian lakukan, tidak akan mengurangi rasa sayang Mama pada kalian." Ucap Laras pada Rani.
Mereka berdua berpelukan cukup lama, melupakan masakan mereka.
"Ma? Bau apa ini?" Tanya Rani sambil mengendus-enduskan indra penciumannya.
"Astaga! Tempe gorengnya gosong!"
***
__ADS_1