
Setelah sesi curhat dengan Cindy saat itu, Rani kembali fokus dengan kondisi kesehatannya juga janinnya, Rani tidak terlalu banyak berdebat lagi dengan suaminya, karena masalah-masalah kecil. Sebenarnya Rani tau, pasti ada yang disembunyikan oleh suaminya, ia memilih untuk bersikap tidak peduli. Meskipun terkadang membuat beban pikirannya. Biar bagaimanapun, Rani tidak mau kalau terjadi hal yang buruk dengan pernikahannya.
Rani melihat-lihat sosmed, diwaktu senggangnya. Saat ini, artikel yang paling menarik baginya adalah tentang kehamilan. Menjaga kesehatan, nutrisi yang harus diberikan pada janin, sampai pada persiapan persalinan. Mengingat usia kandungannya saat ini sudah menginjak usia delapan bulan.
"Mas, besok aku lahiran normal atau caesar ya?" Ucap Rani tiba-tiba.
"Kalau emang bisa normal ya mending normal aja. Kecuali kalau emang terpaksa di oprasi, ya mau gimana lagi, nggak ada pilihan. Kalau lahiran normal, nanti lebih cepat pulihnya. Katanya sih begitu." Rio berpendapat, sesuai dengan apa yang dia ketahui.
"Iya juga sih, Mas. Aku juga pengennya normal, biar nggak keluar banyak biaya juga." Rani setuju dengan pendapat Rio.
"Semoga aja bisa normal, coba kamu ikut senam ibu hamil sesekali. Biar bisa lancar kalau lahiran besok." Rio memberikan sarannya.
"Iya, Mas. Aku lagi lihat-lihat nih jadwal senam ibu hamil yang kira-kira aku bisa ikut. Soalnya kayaknya aku sekarang gendut banget ya? Iya nggak sih, Mas? Kok rasanya semua bagian tubuhku bengkak semua. Aku juga kadang nafasnya rasanya sesak. Apa emang karena perutku yang udah tambah besar ya? Jadi nafas terasa sesak gini." Rani menarik dan membuang nafas dengan berat.
"Ya, mungkin emang karena hamil tua. Udah mau lahiran, jadi wajar kalau badan tambah besar, nafas juga sesak. Mungkin salah satu solusinya pakai senam ibu hamil itu?" Rio ikut menganalisa, meskipun dengan pengetahuan seadanya.
"Iya, Mas. Kalau ikut senam kan jadi bisa ada tambahan gerak, biar berat badan nggak tambah naik, jalan lahir jadi lentur, trus juga sepertinya diajari cara atur nafas juga, kan?" Rani yang belum pernah ikut senam ibu hamil cuma mengira-ira saja, apa yang akan diajarkan saat senam dan apa yang dihasilkan jika ikut senam.
"Nah itu, makanya coba ikut aja senam ibu hamil. Di rumah sakit kamu emangnya nggak ada program senam ibu hamil itu? Kan lumayam, jadi lebih gampang kalau mau ikut." Tanya Rio pada istrinya yang bingung-bingung cari tempat untuk ikut kelas senam.
"Nggak ada, Mas. Nggak ada program gitu, biasanya yang ada itu yang rumah sakit khusus ibu dan anak." Rani kembali melihat-lihat iklan kelas ibu hamil yang ada di HP.
"Yaudah, ke rumah sakit biasa periksa aja sekalian. Kamu kan belum cek lab lagi kan? Padahal udah trimester akhir, harusnya cek apa itu? Yang harus di cek?"
"Tes urine sama tes darah, Mas."
"Nah, itu."
"Iya, Mas. Akhir-akhir ini aku sering ngrasa pusing. Juga kaki, tangan dan pipiku agak bengkak. Iya nggak sih? Menurutmu bengkak nggak sih ini? Apa gemuk karena semua tambah gemuk?" Rani menggoyang-goyangkan kakinya juga menepuk-nepuk pipinya.
"Kayanya sih bukan bengkak, tapi emang tambah berisi aja. Nggak papa lah, namanya juga ibu hamil. Kayanya itu hal yang wajar." Rio berusaha menenangkan istrinya.
"Tapi aku takut kalau kandungan proteinku positif, Mas. Takut darah tinggi juga, soalnya aku sering banget ngrasa pusing." Rani kembali mengeluhkan kondisi tubuhnya.
"Yaudah, mending kita periksa aja! Kapan mau periksa? Nggak sesuai jadwal juga nggak papa. Biar bisa cepet tau gimana kondisi yang sebenernya. Aku nggak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama anak kita!" Wajah Rio tiba-tiba jadi serius.
"Kamu kapan bisa nemenin aku? Aku kan ada waktu kalau jam sore. Pagi kerja terus sih, gara-gara minta jadwal pagi terus."
"Besok aku shift pagi. Pulang kerja deh, aku temani periksa." Rio memberi keputusan.
__ADS_1
"Oke, Mas. Besok sore kita periksa, aku daftar dulu kalau gitu." Rani tersenyum, setidaknya suaminya masih peduli dengan dirinya, atau sebenarnya hanya peduli pada anaknya?
***
Tiba saat yang direncanakan, Rio dan Rani memeriksakan kandungannya pada Dokter Nita.
"Halo, selamat sore, Bu Chintya. Bagaimana? Ada keluhan?" Sapa Dokter Nita saat Rani dan Rio memasuki ruangan.
"Halo, Dok. Saya akhir-akhir ini sering pusing, sama ini, kakinya bengkak banget sepertinya. Saya jadi agak khawatir, Dok." Rani menjelaskan apa yang dia rasakan.
"Sudah cek lab lagi belum? Cek protein? Sama tadi tensinya berapa?" Dokter Nita memeriksa rekam medis milik Rani, melihat hasil tensi miliknya.
"Wah, udah lumayan tinggi ya, Bu. Tidak perlu khawatir, tapi sudah harus waspada ini, Bu. Coba tes lab aja dulu, cek protein urine, sama cek darah. Nanti hasilnya dibawa ke sini lagi!" Dokter Nita menuliskan sesuatu pada form yang harus dibawa oleh Rani ke lab, kemudian menyerahkan pada Rani.
"Silahkan, Bu! Dibawa ke lab ya! Yang harus di cek sudah saya centangi."
"Baik, terimakasih, Dok."
Rani dan Rio langsung menuju lab di rumah sakit itu. Sesampainya di sana, Rani langsung meletakkan form yang diberikan oleh Dokter Nita di keranjang file yang tersedia di sana. Kemudian mereka duduk menunggu panggilan.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Rani dipanggil oleh petugas lab.
"Baik, Mbak." Rani segera menuju ke kamar mandi yang berada tidak jauh dari ruang lab itu. Sedangkan Rio tetap menunggu di kursi tunggu.
Tak lama kemudian, Rani sudah keluar, dengan membawa sampel urine. Ia meletakkannya di keranjang kecil yang ditunjukkan oleh petugas lab tadi. Rani kembali duduk di samping Rio.
"Udah?" Tanya Rio pada Rani.
"Udah, Mas. Tinggal nunggu tes darah."
"Yaudah nggak papa. Kamu mau minum? Aku belikan minuman ya? Nanti pasti lama lagi, nunggu hasilnya keluar." Rio kembali memberikan perhatian pada Rani.
"Boleh, Mas." Rani tersenyum.
"Oke, mau minum apa?"
"Air mineral aja." Jawab Rani tanpa pikir panjang.
"Oke, kamu tunggu sini bentar, ya!" Ucap Rio.
__ADS_1
Rani mengangguk. Rio segera meninggalkan Rani, menuju ke kantin rumah sakit. Tak lama kemudian, Rani dipanggil untuk masuk ke dalam ruang lab.
"Silahkan duduk, Bu!" Perintah petugas lab. Rani menurut, dia segera duduk di kursi yang disediakan, kemudian mengulurkan lengannya, bersiap untuk diambil sampel darahnya.
Tak butuh waktu lama, pengambilan sampel darah selesai. Petugas lab memasang plester pada bekas suntikan, supaya darah tidak ada yang keluar lagi.
"Silahkan ditunggu hasilnya ya, Bu!"
"Baik, Mbak."
Rani keluar ruangan, tapi belum melihat Rio di sana. Suaminya belum kembali juga. Cukup lama Rani menunggu, lama-lama dia merasa gusar.
"Mas Rio kok lama banget sih?" Gumamnya seorang diri.
Rani mengambil HP dari dalam tasnya, berniat menghubungi Rio. Tapi saat itu juga, dia melihat Rio sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Lama banget, Mas?" Tanya Rani saat Rio sudah sampai di hadapannya.
"Iya, tadi antrinya banyak banget." Jawab Rio santai.
"Yaudah nggak papa, aku udah haus banget soalnya." Ucap Rani berbohong.
"Ini, diminum dulu!" Rio menyerahkan kantong kresek berisi makanan ringan dan minuman botol pada Rani.
"Makasih, Mas."
"Iya sama-sama. Udah cek darah?"
"Udah, Mas. Tinggal menunggu hasilnya aja."
"Oke, baguslah kalau gitu."
Rani mengangguk, kemudian meminum air mineral yang diberikan oleh suaminya, juga menyantap roti sobek isi coklat yang dibeli oleh Rio. Lagi-lagi Rio kembali asyik dengan HP-nya. Tak mau kalah, Rani juga memilih bermain HP-nya saja.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya Rani dipanggil lagi oleh petugas Lab.
"Silahkan, Bu! Dibawa lagi ke ruangan, ya!" Pesan petugas lab sambil menyerahkan hasil lab, sesuai yang diminta oleh Dokter Nita.
"Baik, Mbak. Terimakasih." Rani membalikkan badan sambil melihat hasil tes urine dan tes darah tadi. Dia berjalan ke kursi tunggu, mendekati Rio.
__ADS_1
"Gimana hasilnya?" Tanya Rio penasaran.