Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 21


__ADS_3

Akhirnya Rani dibawa ke IGD rumah sakit terdekat.


"Silahkan mendaftar dulu, Pak! Pasien biar kami tangani. Nanti kalau sudah selesai, segera dibawa ke sini!" Ucap salah satu perawat yang langsung menyambut kedatangan Rani di depan pintu IGD.


"Baik, Sus." Rio segera berjalan, mencari ruang pendaftaran di rumah sakit itu, tak lupa membawa serta tas milik Rani.


Rio segera mendaftarkan Rani sebagai pasien IGD. Setelah selesai, dia segera kembali ke ruang IGD untuk menyerahkan berkas pendaftaran. Setelah itu, dia langsung menuju dimana Rani sedang diperiksa.


"Bagaimana, Dok?" Rio tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Saat ini pasein sudah mendapat penanganan, dan sudah tenang. Tapi kita tetap harus melakukan operasi, untuk mengangkat janin yang ada dalam kandungan Bu Rani. Dikhawatirkan akan terulang lagi hal yang sama, kami khawatir dengan kondisi keduanya. Jadi secepat mungkin, kita harus menyelamatkan keduanya." Dokter menjelaskan apa yang terjadi pada Rani.


"Tapi anak saya tidak apa-apa kan, Dok?"


"Saat ini kondisinya masih bagus, tapi tidak bisa dipastikan untuk kedepannya. Malam ini juga akan kami pindahkan ke ruang persalinan, sambil menunggu tensi sedikit normal, jadi aman untuk melakukan oprasi. Kami juga akan memberikan suntik untuk penguat paru-paru, jadi kalaupun harus lahir prematur, tidak menjadi masalah. Semoga saja besok pagi tekanan darahnya normal, jadi bisa segera dilakukan operasinya."


"Baik, Dok. Lakukan apapun yang terbaik untuk keduanya!"


"Akan kami usahakan, Pak. Silahkan ditunggu sebentar! Kita sedang menghubungi bangsal."


"Baik, terimakasih, Dok."


"Sama-sama, kalau gitu kami permisi dulu."


Dokter beserta jajarannya meninggalkan Rio dan juga Rani yang masih terbaring lemah.


"Maafkan aku, Sayang. Kamu jadi seperti ini gara-gara aku." Rio duduk tertunduk di samping Rani.


"Apa aku harus memberitahu Mama Laras tentang hal ini? Apa tidak usah saja? Tapi harus ada yang bergantian menjaga, kan?" Rio menimbang-nimbang, apa yang harus dia lakukan.


"Aku hubungi saja, perkara dia mau membantu atau tidak, biar jadi urusannya." Ucap Rio pada akhirnya.


Rio memilih menggunakan ponsel Rani untuk menghubungi mertuanya itu, karena besar kemungkinan akan langsung dijawab. Beda halnya kalau memakai nomernya sendiri, mungkin akan didiamkan dulu, sampai benar-benar yakin untuk mengangkatnya.


Rio segera menghubungi mertuanya, tapi ternyata tidak mendapat jawaban.

__ADS_1


"Apa sudah tidur dan tidak mendengar suara HP bunyi ya? Coba Mas Fajar aja. Kemungkinan jam segini belum tidur."


Rio beralih memanggil kakak iparnya itu. Benar saja, dia lebih cepat mendapat jawaban.


"Halo, Ran!" Terengar suara Fajar dari seberang sana.


"Halo, Mas. Ini aku, Rio. Rani lagi di IGD, Mas. Tadi dia kejang, trus dibawa ke rumah sakit." Ucap Rio langsung pada intinya, supaya Fajar bisa menangkap dengan jelas.


"Rumah sakit mana?"


Rio menyebutkan nama rumah sakit tempat Rani dirawat.


"Oke, aku kesana."


Fajar langsung memutus sambungan, tanpa menunggu jawaban dari Rio. Bisa dipastikan kalau dia juga sangat khawatir, jadi ingin segera sampai di RS saja, melihat kondisi Rani secara langsung.


Rio kembali duduk termenung. Tidak tau apa yang harus dilakukan saat ini. Berdo'a juga dirasa tidak mungkin, karena selama ini, dia tidak pernah beribadah maupun berdo'a. Entah kapan terakhir kali dia lakukan, dia sudah lupa.


Akhirnya beberapa orang perawat datang.


"Baik, Sus."


Rio memberi jalan, mempersilahkan para perawat itu mendorong bed, membawa Rani ke ruang persalinan. Rio kembali melakukan panggilan pada Fajar, berniat memberitahukan hal ini. Tapi tidak juga diangkat. Akhirnya Rio memutuskan untuk meninggalkan pesan saja.


[Mas, Rani dipindah ke ruang bersalin.]


Setelah mengirim pesan, Rio kembali fokus ke jalan. Mengikuti Rani yang di dorong di depannya. Sesampainya di depan ruang bersalin, Rio langsung disambut oleh satpam penjaga.


"Selamat malam, Pak. Nanti yang menjaga hanya boleh satu orang, kemudian kalau membawa barang bawaan, mohon disimpan di sebelah sana! Ada ruangan khusus untuk menitipkan barang." Ucap satpam tersebut, sambil menunjukkan ruangan yang ada di sebelah pintu masuk.


"Baik, Pak. Terimakasih."


Rio berlalu, toh dia tidak membawa apa-apa. Hanya membaca tas kecil miliknya, juga milik Rani. Dan keduanya adalah barang berharga yang tidak mungkin ditinggal di ruangan itu. Dia segera menyusul Rani, sampai di sebuah ruangan yang berisi bilik bersalin, lengkap dengan peralatannya.


"Kami tinggal dulu ya, Pak. Nanti akan diperiksa secara berkala. Mohon untuk tidak membawa barang berlebihan di sini, karena akan mengganggu proses penanganan." Perawat kembali berpesan pada Rio.

__ADS_1


"Baik, terimakasih, Sus."


Para perawat pergi meninggalkan Rio dan Rani di salah satu bilik di kamar tersebut. Tak lama kemudian, ada panggilan masuk di HP Rani. Rio segera mengangkatnya.


"Halo, Mas?" Ucap Rio setelah mengangkat telfon.


"Aku di luar ruangan, nggak bisaa masuk. Bisa keluar sebentar?"


"Oke, Mas. Sebentar!" Rio mematikan telfonnya. Kemudian menyimpan HP Rani kembali.


"Aku tinggal sebentar ya, Yang!" Ucap Rio pada Rani yang masih terlelap.


Rio segera berjalan keluar ruangan. Bersiap menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin saja akan mendapat omelan dari kakak iparnya itu. Tapi, bukankah sekarang bukan waktu yang tepat untuk marah-marah?


"Mama!" Ucap Rio saat sudah berada di luar ruang bersalin.


"Rio! Dimana Rani? Gimana keadaannya?" Terlihat jelas kepanikan di wajah Laras.


"Rani ada di dalam, Ma. Tadi dia kejang, jadi langsung dibawa ke sini. Sudah ditangani, tapi terpaksa bayinya harus segera dikeluarkan sebelum umurnya." Rio memberi penjelasan singkat.


"Trus sekarang keadaannya gimana?"


"Udah tenang, Ma. Dia lagi tidur. Silahkan kalau mau lihat, ruangannya ada di paling ujung, sebelah kanan. Biar saya dan Mas Fajar menunggu di luar." Rio memberi kesempatan pada mertuanya untuk menjenguk Rani. Biar bagaimanapun, dia adalah ibunya. Siapa tau, karena ada ibunya, membuat kondisi Rani jadi membaik.


"Fajar, kamu tunggu sini dulu ya! Mama mau lihat Rani." Laras berpesan pada anak sulungnya.


"Iya, Ma."


Laras segera masuk ke ruang bersalin yang peraturannya sangat ketat itu. Dia langsung menuju ke ruangan, seperti yang diarahkan oleh Rio. Suara teriakan, tangisan, dukungan dan lain-lain menggema di dalam ruangan itu. Maklum saja, namanya juga ruang bersalin. Jadi seperti itulah suara-suara yang terdengar. Setidaknya tidak semenyeramkan saat berada di bangsal khusus penyakit dalam.


Laras tidak peduli dengan suara orang-orang yang melahirkan, dia sudah pernah mengalami hal yang sama, bahkan tidak hanya sekali. Jadi semua terdengar biasa saja baginya. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanya kondisi anak bungsu juga calon cucunya.


Laras segera masuk ke ruangan dimana Rani dirawat, yang kebetulan pintunya terbuka, jadi Laras bisa dengan cepat mengetahui dimana Laras berada.


"Ran, ini Mama!" Ucap Laras lembut, sembari memegang tangan putri bungsunya yang tergolek lemah.

__ADS_1


__ADS_2