Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 22


__ADS_3

Laras duduk di kursi yang disediakan. Ia mengusap lembut kepala putri bungsunya. Tak terasa air matanya menetes.


"Ran, ini Mama, Nak!" Ucap Laras lagi. Berharap mendapat respon dari Rani.


Benar saja, akhirnya Rani mengerjapkan matanya.


"Ma...." Ucap Rani lemah.


"Sayang, kamu udah bangun. Mama panggilkan dokter ya? Apa mau minum?"


Rani menggeleng.


"Nggak usah, Ma. Rani baik-baik aja."


"Beneran? Mama khawatir sama kamu. Mama nggak mau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu." Laras menggenggam erat tangan putri bungsunya itu.


"Rani nggak papa kok, Ma."


"Nggak papa kok bisa sampai seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang kamu pikirkan, sampai kamu jadi seperti ini?" Laras menebak-nebak, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya, meskipun kondisi Rani belum sepenuhnya baik. Sebelumnya Rani tidak mengeluhkan apapun, tapi ternyata seperti ini yang terjadi.


"Maafkan Rani, Ma! Mama emang bener, Mas Rio bukan orang yang baik. Sebenarnya Rani selalu makan hati setiap hari, curiga terus dengan apa yang dilakukan oleh Mas Rio. Tapi Rani selalu menahan, Ma. Dan ternyata berdampak buruk sama kesehatan Rani. Aku pikir semua akan baik-baik aja, Ma! Tapi ternyata...." Rani menggantung ucapannya. Dia mulai menangis. Berbagai macam perasaan kembali berkecamuk, menyesal, bersalah, marah dan lain sebagainya, campur aduk menjadi satu.


"Sudah, sudah! Jangan nangis lagi, Nak. Kamu harus ingat pesan Mama, kamu harus selalu kuat, apapun yang terjadi. Sekarang, kamu harus fokus sama kondisi kamu dulu, kamu jangan stress, biar semua bisa berjalan lancar. Kalau tekanan darah kamu sudah normal, bayi kamu juga akan segera dikeluarkan. Mama udah nggak sabar, mau nimang cucu Mama." Laras tersenyum, mencoba mengalihkan pembicaraan, berusaha membuat Rani menjadi tenang.


"Mama tetep di sini, ya! Nemenin Rani. Mama nggak papa, nggak kerja? Nggak ngawasin toko?" Rani merasa nyaman saat berada di dekat ibunya.


"Kerjaan biar di handle sama pegawai Mama. Kamu tenang aja, Mama akan di sini nemenin kamu." Laras kembali mengusap kepala putrinya itu.


"Makasih banyak ya, Ma. Oh ya, Mama kesini sama siapa? Kok tau Rani di sini?"


"Sama Fajar, dia dikabari suami kamu. Trus kami cepet-cepet ke sini. Tapi ternyata cuma boleh satu orang aja yang nunggu di dalam, jadi Fajar sama Rio nunggu di luar."

__ADS_1


"Oh, gitu. Nanti Mama tidur sini aja, ya?" Rani benar-benar butuh perhatian dari ibunya.


"Iya, kamu tenang aja. Mama mau bilang sama Fajar dulu kalau gitu, biar dia pulang. Sekalian suruh dia siapin segala sesuatunya. kamu udah belanja perlengkapan bayi apa belum?"


"Belum, Ma. Tadi lagi beli di toserba, tapi nggak tau, tiba-tiba aja Rani ngrasa sesak, berkunang-kunag dan nggak tau apa-apa lagi setelah itu. Tau-tau udah di sini."


"Yaudah, nanti biar Mama suruh Fajar siapin semuanya. Kamu tenang aja, ya! Fokus sama kondisi kesehatan kamu. Mama keluar sebentar!"


"Iya, Ma."


Laras berjalan, keluar dari ruangan tempat Rani dirawat, kemudian berjalan di lorong bangsal yang cukup panjang, karena ruangan Rani berada di ujung. Di usianya yang sudah setengah abad, Laras masih sehat dan bugar. Dia berjalan mantap, menuju pintu keluar.


Ada juga pasien yang sedang datang, padahal sekarang sudah dini hari. Memang, orang melahirkan tidak mengenal waktu. Kapan saja terasa, harus segera ditangani. Terlebih jika punya kondisi yang tidak wajar seperti Rani saat ini.


Sesampainya di luar bangsal, Laras melihat Fajar dan Rio duduk-duduk di lantai, menghadap ke taman yang ada di sekitar bangsal. Laras segera menghampiri mereka berdua.


"Jar!" Laras memanggil anak sulungnya. Seketika Fajar dan Rio menoleh.


"Mama nginep sini, kamu pulang aja nggak papa. Sama sekalian, tolong siapkan semua yang diperlukan untuk bayi! Katanya Rani belum beli perlengkapan bayi." Ucap Laras.


"Iya, Ma. Tadi kami baru mau beli, tapi malah Rani jadi kejang. Jadi Rio belum membayar semua barang belanjaan. Terlanjur panik, jadi yang penting sampai di sini. Motor juga masih diinggal di sana." Rio menyahuti ucapan mertuanya itu.


"Yaudah, biar aku aja yang urus perlengkapan bayi dan lain sebagainya. Kamu urus administrasi rumah sakit dan lain sebagainya. Biar Mama yang jagain Rani. Besok pagi aku ke sini lagi, Ma. Mama mau dibawain apa?" Fajar cepat tanggap memberikan solusi.


"Baju ganti, alat mandi sama alat sholat aja. Tapi terserah kamu besok mau bawain apa aja sih."


"Oke, Ma. Kalau gitu aku pulang dulu."


"Hati-hati, Jar. Jangan ngebut-ngebut, meskipun jalan mulai sepi! Kalau ngantuk istirahat dulu!"


"Iya, Mama tenang aja! Aku pulang dulu." Fajar berpamitan, kemudian meninggalkan Rio dan Laras.

__ADS_1


"Kamu kalau mau pulang dulu juga nggak papa, biar Mama yang jagain Rani. Atau kalau mau ambil motor, ambil perlengkapan buat Rani dan lain sebagainya." Ucap Laras pada Rio.


"Tapi, gimana kalau ada apa-apa sama Rani, Ma?"


"Nggak perlu khawatir, ada tim dokter di sini. Juga Rani nggak mungkin operasi malam-malam begini, kan? Kamu tenang aja. Lebih baik menyiapkan berkas atau apapun yang dibutuhkan."


"Kalau begitu, Rio tanya ke dalam dulu, ada yang diperlukan lagi atau tidak." Rio akhirnya memutuskan.


"Silahkan!"


"Tadi gimana kondisi Rani? Dia sudah bangun?"


"Sudah, dia sudah lebih baik. Cuma dia minta Mama yang nungguin."


"Oke, Ma. Nggak papa kalau memang itu kemauan Rani, juga Mama nggak keberatan." Rio tidak bisa memaksa Rani untuk lebih memberati dirinya.


"Mama nggak keberatan kok, kamu tenang aja!" Untuk pertama kalinya, Laras bisa tersenyum pada Rio.


"Trimakasih banyak ya, Ma. Maaf Rio buat Rani jadi seperti ini, harusnya tadi kami nggak usah ke toko, kondisi toko yang penuh sesak, juga karena Rani kecapean, akhirnya malah jadi seperti ini." Rio memegang kepalanya. Memang semuanya tidak terduga, karena sebelumnya Rani baik-baik saja. Meskipun memang sudah mendapat peringatan dari dokter sebelumnya.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Tidak bisa diperbaiki lagi, lebih baik dipikirkan bagaimana solusinya. Yang penting sekarang Rani sudah ditangani." Laras bersikap lebih bijak. Usianya yang sudah sangat matang, ditambah dengan banyaknya pengalaman hidup, membuat Laras menjadi perempuan yang kuat, fisik dan mentalnya.


"Iya, Ma. Terimakasih banyak ya, Ma!" Sekali lagi Rio berterimakasih, dia salah mengira bahwa Laras masih tetap tidak suka padanya.


"Sama-sama. Ya sudah, ke ruang administrasi saja dulu, tanya apa ada yang perlu dilengkapi lagi, supaya bisa diambil sekalian. Kamu juga harus mengurus ijin kerja dan juga memberitau tempat Rani bekerja juga kan?"


"Iya, Ma. Ya sudah, Rio urus semuanya dulu. Besok, Rio ke sini kalau sudah beres urusan di luar dulu. Kalau ada apa-apa yang mendesak, tolong kabari ya, Ma!"


"Iya, kamu tenang aja!"


Rio mengangguk. Mereka berdua sama-sama kembali masuk ke dalam ruang persalinan. Rio langsung ke ruang administrasi, sedangkan Laras kembali ke ruang dimana Rani dirawat.

__ADS_1


"Rani!" Laras segera berlari saat melihat Rani.


__ADS_2