Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 14


__ADS_3

"Nggak usah nyangkal deh, Mas. Aku tau kok kalau kamu suka lihatin video perempuan joget-joget pakai pakaian terbuka. Kalau istrinya sendiri mau pasang foto buat status aja udah langsung dimarahin. Tapi sendirinya suka banget lihatin perempuan-perempuan cantik di HP." Rani bersungut kesal.


"Kamu cemburu, yaa?" Rio mencoba menggoda Rani.


"Ya iyalah, jelas aku cemburu! Pake nanya!" Jawab Rani ketus.


"Maaf deh." Ucap Rio.


"Ngapain minta maaf? Kalau emang udah jadi kebiasaan, nggak bakalan berubah juga, meskipun berkali-kali minta maaf." Rani masih saja kesal.


"Trus kamu maunya apa? Maunya aku gimana? Jangan kekanak-kanakan, deh!" Rio ikut sewot.


"Kamu itu bener-bener aneh tau nggak sih, Mas? Harusnya aku yang marah. Kok malah jadi kamu yang sensi, sih?" Rani mendengus kesal, dia memilih untuk pergi meninggalkan Rio.


Setelah hidup bersama, ternyata baru ketahuan bagaimana sikap asli dari Rio yang dulu selalu dia puja. Dulu, Rio selalu bersikap manis dan membuat Rani seperti ratunya, tapi tidak saat ini. Rio jadi sering marah, bahkan untuk hal-hal yang sepele. Begitu juga dengan Rani, dia jadi semakin bertambah sensi, mungkin saja karena bawaan orang hamil.


Sejak saat itu, Rani jadi sering membuat apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan menjadi status. Mencari perhatian dari orang luar. Dia menjadi lebih nyaman saat bercerita dengan orang lain. Begitu juga dengan Rio, dia jadi lebih sering asyik dengan HP-nya, daripada mengobrol santai dengan istrinya.


Rani yang sering memergoki Rio tersenyum sendiri saat bermain HP,  lama-lama jadi menaruh rasa curiga. Jadi Rani bercerita tentang masalah itu pada Cindy, teman baiknya sejak bekerja di tempat yang sama.


"Cin, kira-kira kenapa ya, kalau suami jadi sering senyum-senyum pas lihat HP?" Rani bertanya saat mereka berdua sedang makan bersama, ketika jam istirahat.


"Berarti ada yang lucu, atau bikin seneng. Yang pasti nggak mungkin kalau cuma menang main game, kalau orang menang main game itu, biasanya sampai sorak-sorak. Nggak cuma senyum-senyum." Cindy memberikan kesimpulan.


"Iya juga sih, kalau lagi main game, kalau kalah suka marah-marah, dan kalau menang emang sorak-sorak seneng. Cuma akhir-akhir ini, aku suka lihat Mas Rio itu senyum-senyum sendiri, dan nggak lagi lihat video, orang nggak ada suaranya." Rani ikut menganalisis.

__ADS_1


"Nah itu dia, kamu pernah lihat isi HP dia, nggak? Cek siapa aja yang chat dia misalnya?" Cindy kembali bertanya pada Rani.


"Nggak pernah. Setelah dia kasih tau sandi HP dia ke aku, aku jadi percaya aja, kalau dia nggak bakalan melakukan sesuatu yang melenceng." Jawab Rani apa adanya.


"Ya ampun, Ran! Harusnya kamu jangan percaya gitu aja! Kamu tetep harus awasi dan pantau setiap gerak-geriknya!" Ucap Cindy lagi.


"Dengan kondisiku yang seperti sekarang ini kok rasanya jadi nggak ada waktu buat hal-hal seperti itu. Aku lebih mikirin gimana kesehatan mentalku." Jawab Rani sambil menikmati makan siangnya.


"Iya juga sih, yaudah coba sesekali kamu cek aja HP-nya, siapa tau emang ada yang patut dicurigai." Cindy memberikan saran.


"Okelah, besok coba kalau ada kesempatan. Soalnya HP dia dibawa kemana-mana. Ke kamar mandi aja dibawa! Kalau tidur juga disimpen di bawah bantal dia."


"Wah, itu yang harus dicurigai, Ran! Kalau emang nggak ada apa-apa, harusnya nggak perlu sampai segitunya sama HP. Kalau lagi ke kamar mandi misalnya, ya udah nggak perlu dibawa. Kalau lagi tidur juga kan harusnya itu HP nggak boleh deket-deket sama badan, kan? Harusnya dijauhkan, bukannya malah diumpetin di bawah bantal gitu." Cindy kembali memberikan analisisnya.


"Iya juga ya. Tapi kapan aku bisa ada kesempatan buat lihat HP-nya ya?" Rani tampak berpikir sejenak.


"Okelah. Kalau emang bener Mas Rio ada main sama perempuan lain, aku harus gimana ya?" Rani mulai berpikir tentang hal terburuk yang akan terjadi pada dirinya.


"Terserah kamu aja, sih. Karena kamu yang menjalani. Aku nggak mau memberi saran, yang akhirnya bisa membuat kamu jadi tersiksa. Jadi, kamu yang bisa menilai dan memutuskan, Ran." Jawab Cindy angkat tangan. Biar bagaimanapun, masalah pernikahan bukan hal yang main-main.


"Iya juga sih, mungkin aku masih akan bisa memaafkan, kalau emang cuma sekedar chating, tapi kalau sampai melakukan hal yang di luar batas, udah lah, mending aku yang mundur aja! Soalnya hal seperti itu nggak akan bisa berubah sih." Rani mencoba merancang apa yang akan dia lakukan.


"Iya, gitu aja nggak papa. Tapi aku tetep berdo'a, semoga suami kamu nggak melakukan hal yang menyeleweng lah." Ucap Cindy pada akhirnya.


"Aamiin."

__ADS_1


***


Semenjak hari itu, Rani selalu saja memantau tingkah laku suaminya saat sedang di rumah bersama-sama. Kalau sedang jam kerja, memang Rani tidak bisa berbuat banyak. Suaminya ngapain aja di tempat kerja juga Rani tidak tau. Terlebih sejak dulu memang Rio tidak pernah mengenalkan Rani pada teman kerjanya. Alasannya klasik, tidak mau kalau sampai Rani malah jadi suka sama temannya, atau temannya menikung untuk mendapatkan Rani juga.


Pada saat pacaran dulu, itu memang terasa menyenangkan bagi Rani. Karena merasa benar-benar diinginkan dan Rio tidak mau sampai kehilangan Rani. Bisa diartikan juga Rio cemburu, kalau sampai Rani kenalan dengan teman Rio. Seperti kata pepatah, cemburu tanda sayang, seperti itu yang jadi pegangan Rani pada saat itu. Kalau Rio cemburu, berarti Rio benar-benar menyayanginya. Namun ternyata saat ini terasa berbeda. Rani jadi tidak bisa memantau gerak-gerik suaminya lewat teman kerjanya Rio, karena dia memang tidak kenal dengan teman Rio sama sekali.


"Yang, aku udah lama nggak dapat jatah, nih. Kapan kamu mau kasih jatah lagi?" Tanya Rio di suatu malam, sambil mengusap-usap kepala Rani.


"Mas, aku lagi hamil gini. Nggak mau, ah. Takut kalau sampai terjadi sesuatu sama kandunganku. Kan itu bisa bikin kontraksi." Rani menolak dengan alasan yang masuk akal.


"Yaudah deh." Rio menjawab singkat, kemudian tidur membelakangi Rani. Kembali asyik dengan ponselnya.


"Maaf ya, Mas. Bukannya apa-apa, tapi kamu sendiri yang bilang, kan? Aku harus jaga kandunganku? Jadi, aku harus mewaspadai hal-hal yang bisa saja membuat kandunganku kenapa-kenapa." Rani mencoba memberikan penjelasan pada suaminya.


"Hmm." Jawab Rio singkat, tanpa ada niatan untuk membalikkan badan, menghadap istrinya lagi.


"Jangan ngambek gitu dong, Mas!" Rani mengguncang-guncang badan suaminya.


"Hmm."


Lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Rio, membuat Rani bingung harus berbuat apa.


"Tolong kamu ngerti dong, Mas. Kan ini semua demi kebaikan anak kita? Tolong jangan egois gitu!" Ucap Rani lagi.


"Iya, iya. Yaudah nggak papa, nggak masalah. Yang penting anak kita baik-baik aja!" Ucap Rio pada akhirnya.

__ADS_1


"Makasih ya, Mas. Kamu udah mau ngertiin aku." Ucap Rani kemudian. Dia merasa tenang, suaminya bisa mengerti keadaannya. Meskipun Rani tidak tau, apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan pikiran suaminya.


***


__ADS_2